Selasa, 15 November 2011

Jendela..


Sya, siang ini terik
tak seperti hujan kemarin
tak kulihat titik air di lembaran daun
pun dengan tanah basah dengan baunya yang khas

siang ini panas, Sya
mengingatkanku pada saat ketika kita duduk bersama
memandang jauh keluar
dengan kibasan buku yang kita sulap menjadi kipas
kita bertengkar siang itu
tentang dunia yang kita lihat bersama

kukatakan bahwa anak-anak berlarian dengan gembira
entah itu petak umpet, atau mereka justru sedang main kasti,
aku tak pasti
kau melengos,
mereka tak sedang bermain,
mereka berlari ketakutan, kau bilang
siapa yang mengejar mereka, tanyaku
dan kau diam, tak menjawab

di lain waktu,
kita duduk sejajar, dengan secangkir coklat hangat di tangan kita
aku tersenyum
percik air hujan yang menghujam tanah terdengar indah
bau tanah basah menambah indah sore ini, kataku
kau tersenyum, senyum yang janggal di mataku
air ini membawa bencana, katamu
aku tersentak
bagaimana kau bisa berkata seperti itu?
akan ada banyak perut yang kelaparan karena hujan ini,
akan ada banyak tubuh yang menggigil kedinginan karena air ini
aku tak lepas memandangmu
mencoba melihat lebih jauh ke dalam matamu
tapi seperti biasa, kau selalu lihai menghindar

itu dulu, saat kita masih sering duduk bersama
menghabiskan sore dengan memandang dunia
aku hanya sedikit penasaran
katakan, Sya..
kenapa kita bisa melihat dunia yang berbeda
padahal kita memandang dari jendela yang sama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar