Hidup ini indah. Kau hanya harus menyadari beberapa hal. sesederhana buram jendela karena tempias hujan, sesederhana ribuan lagu yang tak pernah berhenti bersenandung. sesederhana derai sunyi yang menenangkan. hidup ini indah, karena bahagia itu sederhana.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Rabu, 18 Januari 2012
kita dan hujan
malam ini hujan. deras.
cukup buat burung-burung mencicit. melingkar memeluk ibunya.
malam ini air tercurah. banyak.
cukup buat orang-orang berdiam diri. mengunci rapat rumah.
malam ini petir menggelegar. rusuh.
cukup buat orang-orang terkejut. lantas semakin memeluk rapat selimut hangat.
malam ini kilat menyambar. silau.
cukup buat semua makhluk beristighfar. buru-buru masuk rumah.
ah, tapi kita masih disini. di bawah payung penuh warna warni.
berjalan beriring. sesekali tersenyum, lebih banyak tawa.
tak peduli rok terjuntai. basah menyapu tanah.
tak peduli ciprat air yang dengan senang hati dihadiahkan para penunggang motor.
kita beriring. satu-satu. kau, aku, dan mereka.
hei, hujan ini indah bukan?
dan kau tersenyum. membalas,
ya, bukankah hujan adalah rahmat?
Selasa, 15 November 2011
Jendela..
Sya, siang ini terik
tak seperti hujan kemarin
tak kulihat titik air di lembaran daun
pun dengan tanah basah dengan baunya yang khas
siang ini panas, Sya
mengingatkanku pada saat ketika kita duduk bersama
memandang jauh keluar
dengan kibasan buku yang kita sulap menjadi kipas
kita bertengkar siang itu
tentang dunia yang kita lihat bersama
kukatakan bahwa anak-anak berlarian dengan gembira
entah itu petak umpet, atau mereka justru sedang main kasti,
aku tak pasti
kau melengos,
mereka tak sedang bermain,
mereka berlari ketakutan, kau bilang
siapa yang mengejar mereka, tanyaku
dan kau diam, tak menjawab
di lain waktu,
kita duduk sejajar, dengan secangkir coklat hangat di tangan kita
aku tersenyum
percik air hujan yang menghujam tanah terdengar indah
bau tanah basah menambah indah sore ini, kataku
kau tersenyum, senyum yang janggal di mataku
air ini membawa bencana, katamu
aku tersentak
bagaimana kau bisa berkata seperti itu?
akan ada banyak perut yang kelaparan karena hujan ini,
akan ada banyak tubuh yang menggigil kedinginan karena air ini
aku tak lepas memandangmu
mencoba melihat lebih jauh ke dalam matamu
tapi seperti biasa, kau selalu lihai menghindar
itu dulu, saat kita masih sering duduk bersama
menghabiskan sore dengan memandang dunia
aku hanya sedikit penasaran
katakan, Sya..
kenapa kita bisa melihat dunia yang berbeda
padahal kita memandang dari jendela yang sama?
Minggu, 22 Mei 2011
akukah itu?
Kuberjalan dalam gamang
melangkah tak henti di tengah rinai gerimis
kulirik sekitar, ada gadis riang tersenyum
wajahnya...
ah, akukah itu?
kualihkan tujuan
tegar menapak bebatuan
kulirik di sana
ada seorang gadis tersedu
wajahnya....
ah, akukah itu?
penat, letih kuberlari
kusaksikan kini sekelompok muda mudi berjalan beriring
tersenyum, tertawa,terbahak
dan kulihat satu di antara mereka
wajahnya...
ah,akukah itu?
bingung menyergap semakin dalam
lalu tiba-tiba kudengar
isak tertahan, pilu,
meratap, mrintih, menyayat
dan sungguh aku terkejut
wajahnya
ah, akukah itu?
dan kini ku semakin linglung
yang manakah aku?
melangkah tak henti di tengah rinai gerimis
kulirik sekitar, ada gadis riang tersenyum
wajahnya...
ah, akukah itu?
kualihkan tujuan
tegar menapak bebatuan
kulirik di sana
ada seorang gadis tersedu
wajahnya....
ah, akukah itu?
penat, letih kuberlari
kusaksikan kini sekelompok muda mudi berjalan beriring
tersenyum, tertawa,terbahak
dan kulihat satu di antara mereka
wajahnya...
ah,akukah itu?
bingung menyergap semakin dalam
lalu tiba-tiba kudengar
isak tertahan, pilu,
meratap, mrintih, menyayat
dan sungguh aku terkejut
wajahnya
ah, akukah itu?
dan kini ku semakin linglung
yang manakah aku?
Rabu, 13 April 2011
Bendera setengah tiang
puisi jaman SMA yang tiba-tiba keinget lagi gara-gara nonton berita di TV tentang kepala sekolah yang jadi pemulung
Bendera Setengah Tiang
Rinai hujan membasah rumput
Menyisakan bening tetesan embun
Yang tak pernah mengharap hadirnya mentari
Awan kelabu berkelayut manja
Tak terdengar kicau burung pagi ini
Pun dengan Sang Surya,
Agaknya bersinar dengan galau hati
Pagi ini,
Bendera berkibar setengah tiang
Indonesia raya bergaung sendu
Seonggok jasad terbujur
Diselingi isak tangis bocah – bocah ingusan
Mulut mungil mereka berucap, “ Pak Guru Mati ! ”
Mati ? Ah, mereka terlalu kecil untuk mengerti arti sebuah kematian
Yang mereka tahu, kini pak guru tlah pergi,
Dan tak ‘kan berdiri di depan kelas lagi
Semua menangis, alam jua berduka
Namun tak ada yang sempat mencatat
Bibir pak guru terkembang. Ah, dia tersenyum !
Pergilah Pak, pergilah dengan bahagia !
Bahagia? Atas apa ia bahagia?
Atas gubuk reotnya yang nyaris bubruk?
Atau upahnya yang terkadang untuk makan saja pas - pasan?
Atau bahkan, tempatnya membagi ilmu yang nyaris sama dengan kandang ayam?
Bukan, bukan karena itu ia tersenyum
Pak Guru pergi dengan bahagia
Tak ‘kan lagi ia dengar, obral janji beribu pejabat tentang nasib dirinya dan rekannya yang lain
Tak ‘kan lagi ada berita, komisi pembelian inventaris sekolah dipotong birokrasi, lebih separuh masuk kantung jas safari
Tak ‘kan lagi umat menangis, karena pasar dan sekolah dibakar,
Kelak, berdirilah pusat belanja modal raksasa
Tidurlah Pak, tidurlah dengan damai
Pagi ini,
Bendera berkibar setengah tiang,
Bukan karena setengah hati
Tapi karena ia tahu, pak guru tlah berjuang setengah mati
Langganan:
Postingan (Atom)

