Kamis, 04 Juli 2019

Umak dan Bapak


Terlalu banyak cara untuk memanggil dua orang paling penting bagi kita di dunia ini. Ada yang memanggil ayah-ibu, ibu-bapak, mama-papa, mami-papi, bunda-ayah, simbok-bapak, amak-apak, dan ratusan nama panggilan lain.
Aku memanggil mereka umak dan bapak. Sebuah sebutan yang sebenarnya tak serasi secara padanan kata. Menurut kebiasaan orang Batak Mandailing, panggilan umak (ibu) biasanya dipasangkan dengan ayak (ayah), sedangkan panggilan bapak biasanya serasi dengan ibu. Tapi begitulah, umak ingin dipanggil umak, dan bapak ingin dipanggil bapak (dan hal ini juga terulang ketika beliau berdua ingin dipanggil dengan sebutan nenek-opung, bukan nenek-kakek atau opung-opung. Umak ingin dipanggil nenek, sedangkan bapak kekeuh dengan sebutan opung. Oke Baiklah).

Anak pertama, strong woman, mandiri, cekatan, tegas adalah kata-kata yang paling bisa menggambarkan tentang umak. Beliau adalah definisi sempurna dari wanita kuat jiwa dan raga. Mengurus kami, keempat anaknya, sedari kecil sendiri, melaksanakan tugas mengajar sebagai guru, seminggu sekali masih menempuh 2 jam perjalanan ke kampung kakek dan mengurus segala macam sawah, kebun, rumah kosong dan urusan lainnya di kampung sepeninggalnya kakek dan nenek. Sebulan sekali masih bolak-balik ke kota Medan dan Padang, mengunjungi mamak/tulang (sebutan adik laki-laki dari umak dlm Bahasa Mandailing), sekedar silaturahim sekaligus membawa berbagai hasil sawah dan kebun warisan dari kakek dan nenek  yang hingga saat ini masih diurus bersama.

Seperti sebuah hukum alam, perlu keseimbangan dalam segala hal. Kalau umak adalah anak sulung, maka bapak justru anak bungsu. Bapak dikenal dengan sifatnya yang humoris, peka, lembut hati, romantis, suka menolong, dan pengalah terutama untuk anak-anaknya. Nenek dan kakek dari pihak bapak hanya kukenal dari foto tanpa warna yang sudah buram, keduanya sudah tiada sebelum kami lahir. Saudara-saudara bapak terpencar jauh dan jarang pulang ke kampung. Mungkin itu sebab aku lebih kenal dan dekat dengan keluarga besar umak.


Umak dan bapak mendidik kami untuk mandiri sedari kecil. Bagi mereka, agama dan pendidikan adalah hal yang utama. Oleh karena itu kami sudah “merantau” untuk sekolah ke kota lain sejak usia setingkat SMP, kecuali si adek nomor 3 yang baru jauh dari rumah ketika memasuki SMA. Bukan hanya soal jarak, sekolah yang ditawarkan (bukan dipilihkan) untuk kami adalah sekolah dengan reputasi yang baik dari segi akademis, juga lingkungan pergaulan dan pendidikan agama. Tidak khusus sekolah seperti pesantren, tapi sekolah umum yang kental dengan nuansa ke-Islam-an (saat ini seperti SMP-SMA IT yang sudah semakin berkembang di mana-mana). Hingga masa kuliah, kami merantau lebih jauh lagi, tidak hanya lintas kota lintas provinsi, tapi beranjak ke pulau seberang. Padang, Jakarta, Bandung, dan Jogja.

Kami bukan dari keluarga yang berada. Terkadang ketika terduduk menunggu santap siang diantarkan di restoran seharga ratusan ribu sekali makan, pikiran ini terbawa ke masa-masa dulu ketika masih kecil. Kami dibiasakan untuk merasa cukup dan menikmati apapun yang ada. Adalah hal yang biasa makan sepiring nasi ditambah kecap asin dengan lauk telur dadar yang dibagi untuk enam orang, telur dadar yg dimasak dengan hanya sebutir telur. Iya, secukup itu memang. Menyantap bakso pun biasanya sekali dalam 4 bulan, agenda tiap caturwulan sepulang menerima rapor dari sekolah. Sebuah reward untuk anak-anaknya yang selalu langganan juara kelas. Alhamdulillah semua cerita-cerita itu jadi masa lalu yang manis dikenang. Perlahan perekonomian keluarga membaik seiring kebijakan peningkatan kesejahteraan guru dari Pemerintah, didukung pula dengan anak-anak yang satu demi satu memiliki pekerjaan tetap. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.

Menjadi anak rantau dalam tiga belas tahun terakhir menyadarkanku akan beberapa hal. Selalu ada kerutan yang bertambah di wajah-wajah itu dalam setiap perjumpaan. Rambut bapak ternyata kini sudah didominasi oleh pigmen warna putih. Lutut dan sendi umak tak lagi setahan banting dulu. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang disadari, semakin terlihat realita yang sebenarnya. Bapak ternyata bukan seorang Superman, ada kala beliau terlihat lemah di depan kami. Umak ternyata tak sekuat itu. Walaupun beliau seorang ibu, tapi di waktu bersamaan beliau juga anak dari kakek. Baru kutahu belakangan ini bahwa di hari-hari ketika beliau merindukan kakek dan nenek, umak dan bapak akan mengunci rapat pintu kamar, memutar lagu Muara Kasih Bunda dan Ringgit tu Rupiah* kemudian menangis sambil memeluk bantal.

Entah aku yang baru menyadari atau memang umak dan bapak yang mulai melonggar, merasa kami sudah cukup besar dan dewasa untuk berbagi beban. Segala yang dulu ditanggung berdua kini bisa ditanggung berenam. Semua hal yang dulu didiskusikan diam-diam sehabis sholat malam kini dibicarakan bersama. Iya, kami semakin dewasa, dan umak bapak ternyata semakin menua.

Di usia akhir dua puluh-an ini, hal yang paling kuinginkan adalah umak dan bapak tetap sehat. Suatu doa yang kupanjatkan setiap hari, melebihi keinginan untuk dipersatukan dengan jodoh yang Allah pilihkan. Mencoba lebih sering bertemu beliau berdua, meningkatkan rutinitas pulang ke rumah yang biasanya hanya dua kali setahun. Semoga Allah tetap mengumpulkan kami di dunia, juga nanti dipersatukan di tempat yang terbaik. Aku yang akan menjadi saksi bahwa mereka adalah hamba yang sholeh/sholehah, teman yang baik, orang tua yang bertanggung jawab, guru yang menginspirasi, dan saudara yang paling penyayang. 


* lagu Batak Mandailing yang dinyanyikan oleh Forra Simamora dan diciptakan oleh Top Simamora. Bercerita tentang kerinduan seorang ayah terhadap anaknya yang merantau ke negeri seberang, kerinduan yang tidak mengharapkan kiriman ringgit atau rupiah, tapi cukup dengan amplop surat  dari anak yang bertahun tidak berkabar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar