Jumat, 17 April 2015

Berkunjung (lagi) ke Jogja

Jogja. 
Kota yang selalu disandingkan dengan kata ramah, adem, wisata, murah, dan tentunya travelling.
Pertama kali menginjakkan kaki di Jogja pada tahun 2010, ketika liburan semester pertama perkuliahan.  Dua tahun kemudian, mengunjungi Jogja kembali berkali-kali disebabkan adik memilih untuk kuliah di Jogja dan meninggalkan Bandung yang baru ditinggali tak lebih dari 2 bulan.
Malioboro, Jogja, Maret 2010

Oktober 2014 kembali bersambang ke kota pelajar ini. Kali ini bersama rombongan lingkaran cinta, lebih terasa travellingnya ketika menyusuri jalanan sekitaran malioboro demi penginapan murah, dan alhamdulillah nemu kamar yang cuma Rp120 ribu untuk berempat :D

 Oktober 2014, makan puas dan murah di Angkringan Malioboro

Minggu ke-2 april 2015, tak bosan menjelajah Jogja lagi. Kali ini dengan travelmate yang berbeda, dengan destinasi antimainstream yang sebelumnya tak pernah dikunjungi.
Berawal dari undangan rekan kerja di Direktorat, kemudian direncanakanlah trip to Jogja yang awalnya merekrut banyak peminat. Sayangnya, pada hari-H, beberapa peminat mengundurkan diri sehingga tersisa 12 orang rekan seperjalanan (ah, kata rekan sebenarnya kurang pas berhubung hampir kesemuanya adalah senior saya di kantor ^^)
Trip kali ini diawali dengan ke-hectic-an menuju Stasius Pasar Senen. Berangkat dari kantor persis setelah Sholat Maghrib. Dalam perjalanan menuju stasiun heboh nelpon orang yang di kantor berhubung masih ada satu ibu yang belum bergabung dengan rombongan. Syukurnya beliau sudah meluncur bersama ojek :’D

Kereta Senja Utama Jogja berangkat tepat waktu dari Stasiun Pasar Senen pada pukul 19.00. Perjalanan di kereta dihiasi dengan kehebohan menyesuaikan dan tukar menukar bangku, cari korban snapshoot foto siapa pun yang tertidur, serta rasa excited terutama bagi yang belum punya banyak kesempatan menumpang kereta jarak jauh. Ah, mudah2an saat itu kami tidak terlalu berisik ^^

Touchdown Stasiun Jogja pukul 03.17 pagi sesuai jadwal. Langsung beranjak menuju hotel yang jaraknya dengan stasiun hanya terpisah oleh jalan raya. Berhubung baru bisa masuk kamar jam setengah 5 pagi, dari pada bengong di lobby, kita memutuskan early visit ke Malioboro. Hitung-hitung pengalaman baru mengunjungi malioboro yang sepi tanpa pedagang atau pembeli. Puas bernarsis ria, balik ke hotel dan istirahat sejenak sebelum sarapan jam 7 nanti.
 Cuma ber-9 karena 2 orang kembali ke rumah, dan 2 lagi jadi fotografer :P

 Otw cari sarapan

Perjalanan hari pertama dimulai jam 9.30 (molor 30 menit karena yang cowok entah kenapa ribet banget dandannya hahaha). Destinasi pertama adalah trip to Merapi. Perjalanan ke sana ditempuh kira-kira satu jam dari hotel di sekitaran stasiun. Ada beberapa penyedia jasa untuk trip tour di Merapi, ada beberapa pilihan jalur dan rute juga. Berhubung kita masih ada destinasi lain, akhirnya memilih rute tersingkat yang singgah di 3 check point.
Check point pertama, bekas rerumahan penduduk yang terkena awann panas.
(Pose-nya sudah semacam Gadis sampul hahahaha)

Sepanjang perjalanan, Mas-mas tour guidenya banyak bercerita tentang peristiwa Erupsi Merapi di tahun 2010 lalu. Merinding membayangkan beberapa tempat yang kami kunjungi dulunya adalah perkampungan yang ramai, yang kami temukan kini hanya puing-puing bekas rumah yang tertumpuk tanah dan sisa-sisa abu, kebanyakan hanya berupa pondasi samar-samar.





Check Point Kedua, Batu Besar bentuk Wajah Manusia (malah gak di-foto -_-")
Yang penting pose dulu XD









Masih di check Point Kedua, Lembah yang jadi latar foto sekilas mirip Ngarai sianok di Bukit Tinggi.
(Jadi pengen pulang, padahal baru cuti minggu sebelumnya T.T)





Sedangkan di poin terakhir, Bungker, rumpun edelweiss tampak tumbuh liar di beberapa tempat. Beberapa warga sekitar menjual seikat bunga spesial ini dengan harga yang amat murah. Agak miris sebenarnya, terutama bagi mereka yang terbiasa mendaki gunung dan tahu betul aturan tak tertulis para pendaki soal edelweis ini.



 
Check Point Ketiga, Bungker (dan lagi, Bungkernya malah gak difoto)


Lepas dari merapi, perjalanan berlanjut ke Museum Ullen Sentalu yang terletak di daerah Pakem, Kaliurang, Kabupaten Sleman. Museum semi modern kalau kata saya. Dengan konsep unik, di lahan seluas 1,2 hektar, dan  tata ruang menyerupai labirin (untungnya ketersediaan tour guide udah given). Museum ini secara ringkas bercerita tentang Keraton Jogja, Keraton Solo, Kadipaten Mangkunegaraan dan Kadipaten Pakualaman serta tokoh-tokoh terkait. Jika kebanyakan museum bercerita tentang sejarah lampau ratusan tahun silam. Cerita di museum ini terasa tak jauh, karena kebanyakan tokoh yang diceritakan adalah generasi kekinian, bahkan beberapa di antaranya masih hidup dan beberapa kali berkunjung ke museum tersebut. Highlightnya adalah tokoh-tokoh Keraton yang selalu punya nama Belanda yang singkat dan terkesan “gaul” hahaha. Ah, dan masih ingat dengan Gusti Nurul yang cantiiiikkk banget. Sayangnya selama dalam museum sama sekali tidak diperkenankan mengambil gambar. informasi lebih lanjut bisa dilihat disini.


cuma bisa foto di depan pintu masuk museum.
Dan, jumlah rombongan bertambah hampir dua kali lipat, karena ada yang nyusul bersama keluarga :D

Tour dalam museum selesai, dan kami disambut hujan lebat di pintu keluar. Lelah, dingin, hujan, dan lapar, kombinasi yang sempurna untuk melewatkan santap siang yang dilakukan sore hari (hahaha). 
“Jejamuran” memang sudah jadi tujuan utama kami, bahkan ketika masih di Jakarta, Resto ini sudah masuk dalam poin wajib kunjung. Perjalanan satu jam dalam kondisi lapar berat dari Museum Ullen Sentalu menuju Resto Jejamuran di daerah Sleman terbayar tuntas begitu menu-menu istimewa dihidangkan. Rendang jamur, tongseng jamur, gulai jamur, jamur crispy, sambal jamur dan semua yang berbau jamur terhidang di meja. Dan sungguh, saya sarankan anda berkunjung ke tempat ini. Recommended sekali !! Lebih istimewa lagi karena jamurnya mereka kembangkan sendiri. “Kebun” jamur ini tampak indah dan jadi spot foto yang bagus #tetep ya, narsis !! hahaha
 Foto diambil ketika belum semua menu dikeluarkan, beberapa saat kemudian tidak memungkinkan difoto berhubung tangan-tangan tak sabar sudah bergerak lebih cepat :P

 Kebun jamur sehat, cantiiik dan tentunya spot foto favorit pengunjung

Hari yang melelahkan namun menyenangkan hampir berlalu, tapi ini masih terlalu awal untuk menutup cerita. Beristirahat sejenak sambil membasuh diri untuk kembali fresh menjalani agenda berikutnya. Berangkat selepas maghrib, tujuan berikutnya adalah Ramayana Ballet Show di kompleks Candi Prambanan. Special thanks to Pak Bos yang sudah mengakomodir kesempatan ini sehingga kita semua bisa menyaksikan pertunjukan dengan tenang, nyaman dan gratis :D


 Akhirnyaaaa bisa sedikit mengerti cerita Ramayana :D

 Show selesai, Pemeran memberikan penghormatan terakhir

 Leksmana yang sangat berhasil mencuri hati penonton. Bahkan sejak awal, Rama ketutup sama bijaksana dan pesonanya Mamas Leksmana ini.
Ah, dan berkali-kali adegan manahnya akuraaaaaat banget

Aduh, lupa nama tokohnya :(

Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika kami meninggalkan daerah Prambanan, masih terlalu pagi untuk istirahat pada travelling day ini. Bakmi Kadin jadi tujuan berikutnya. Menikmati kuah hangat bakmi godog nan nikmat dalam dingin malam, maknyusss !!!
Hari pertama yang panjang namun full happy-happy berlalu.

Pagi kedua. Bersyukur dengan nikmat tidur yang terasa jauh lebih lelap dibanding hari lainnya. Diawali sarapan di resto hotel, perjalanan menuju Magelang, tujuan utama trip ini dimulai sekitar jam 9-an. Tiba di lokasi pesta kurang lebih pukul 10.30-an. As always, take a memorable photo dulu, terus masuk gedung dan masih sempat menyaksikan pertunjukan tari-tari India sebagai hiburan. Lanjut dengan salam-salaman dan foto bersama manten (kita jadi rombongan pertama dong setelah tamu kehormatan keluarga mempelai hahahaha). Lanjut dengan wisata kuliner nyobain ini itu hidangan yang tersedia (tapi sama sekali gak makan hidangan utama hehehe).
Seperti biasa, narsis-narsis dulu 

salam-salaman sama raja dan ratu sehari

Pukul 12.30 rombongan terpecah dua, yang menuju Semarang utk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan pesawat, dan kami yang kembali menuju Jogja demi kereta sore nanti. Sesampai Jogja, singgah sejenak di daerah Gelagahsari untuk beli oleh-oleh, makan sore (rapel makan malam) di Ayam Goreng Bu Tini, kemudian super super short visiting ke Malioboro dalam 30 menit-an.
Kereta Senja Utama Solo menjemput kami menuju Jakarta. Kembali ke rutinitas esok hari, kembali menyapa ramai Jakarta, kembali ke realita #eh hahaha.

 Rombongan pulang tinggal berdelapan
Yang pasti, super duper puas dengan trip kali ini. Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi. Mengenal sisi lain rekan dan senior yang jadi travelmate kali ini. Dan, selama di Joga, saya menghabiskan.... 0 rupiah saja !!! hahahahaha (puaaassssss banget).

Terima kasih banyak buat pengantin baru yang sudah mengundang kita dan memberi kesempatan untuk terealisasinya trip ini. Terima kasih kepada Bapak Direktur dan Ibu Kasubbag TU yang sudah jadi sponsor yang mendukung penuh pembiayaan, terima kasih untuk mbak yang telah bersusah-susah menjadi EO dan mengakomodir segala permintaan peserta, juga kepada Pak Bos yang secara tak langsung jadi tuan rumah, dan tentu untuk semua travelmate yang memungkinkan trip ini menjadi perjalanan yang super seru.

Jogja, sampai bertemu kembali, dengan travelmate yang berbeda (mungkin) ^^

Selasa, 14 April 2015

Sesungguhnya Kumenerima

Pernahkah kamu merasa apa yang kamu ucapkan berbeda dengan yang sebenarnya kamu rasakan?
Iya, mungkin apa yang kamu selalu ucapkan awalnya benar adanya, tapi seiring waktu, kondisi berubah, lingkungan berbeda, tapi kamu tetap keras kepala berkata sama.
Mungkin kamu yang tak siap dengan semua kebaikan dan perhatian yang tumbuh perlahan. Atau kamu tak mau apa yang acapkali kamu sampaikan ke orang-orang kini tak lagi valid?
Atau mungkin, kamu terlalu gengsi untuk menerima?
Apapun itu, jangan terikat dengan kebaikan yang lama dan selalu mensugesti diri dengan buruknya yang baru. Yang baru, yang lama, kamu sadari sendiri kini bahwa keduanya punya kebaikan walau dalam dimensi yang berbeda.
Jujurlah pada hati dan terima

#ternyata, lingkungan ini bisa jadi jauh lebih menyenangkan. Dan kamu pun harusnya paham bahwa kamu adalah satu dari alasan itu.

Kamis, 09 April 2015

Kerang Darah



Tahukah kamu?
Cangkang cantik fotogenik di atas adalah milik salah satu moluska yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kerang darah. Bertolak belakang dengan sisi indahnya, kerang ini punya nama yang agak “horor”. Disebut sebagai kerang darah karena ia menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah yang dihasilkannya.


Kerang cantik, kalian tidak kesepian kan di hamparan luas pantai yang hening ini?


Senin, 06 April 2015

Jejak-jejak

Ketika kamu tak lagi di sini, segala hal tentang kamu akan menjadi jejak.

Bukti bahwa kamu pernah ada di sini, atau mungkin tetap di sini selamanya

Bukan Jejak Gajah :P

Sabtu, 04 April 2015

Biduk


Terdiam menunggu kamu, yang kini mungkin lebih senang bercanda bersama awan