Selasa, 25 Maret 2014

janji dan kesempatan

Satu angka berwarna merah yang berada di deretan angka-angka kalender merupakan satu lagi hari bahagia untuk para pekerja kantoran. Apalagi letaknya di awal atau akhir minggu. Seperti akhir minggu di penghujung Januari kemarin. Libur tiga hari tanpa harus ke kantor dan sejenak melupakan tumpukan berkas kerja adalah berkah tiada tara. Tak heran kalau sebagian besar teman satu kost atau rekan kerja memilih untuk mudik. Pulang sejenak, mengunjungi orang tua atau sekadar me-recharge semangat. Sayangnya saya belum bisa pulang, akhirnya hanya bertiga di kosan. Tapi tak apalah, masih ada empat dorama dan tiga novel lagi untuk dilahap. Hidup masih indah :D

Tadi pagi di kantor, ruangan berlimpah oleh-oleh dari berbagai daerah. Obrolan tentang tiket kereta, delay penerbangan dan jalur bis yang macet menjadi topik hangat sepanjang pagi. Senang rasany melihat wajah-wajah ceria, penuh semangat setelah menghabiskan waktu walau hanya satu hari kembali ke keluarga masing-masing.

Tadi, saya sempat berdiskusi dengan seorang kawan tentang  alas an mengapa ia memilih untuk tidak pulang, padahal jarak rumahnya lumayan tidak jauh dari ibukota, dan menururt saya bisa diakomodasilah dibandingkan saya yang punya keluarga nun di utara Sumatera, jauh dari Bandara pula. Si kawan tersenyum, menjelaskan bahwa ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pulang sebelum membawa SK di tangan dan beberapa gepok rupiah sebagai lambing kesuksesan. Saya Cuma bisa be-ooh ria.

Tiba-tiba pikiran saya melayang diterbangkan waktu, hinggap dan mendarat di suatu malam tujuh tahun yang lalu. Suatu malam selepas isya di mesjid asrama, kajian kali itu diisi oleh kakak alumni yang baru pertama kami kenali wajahnya, tetapi telah kami kenal baik lewat cerita turun temurun kakak-kakak kelas yang lain. Malam itu, si kakak tidak mengajarkan kami tentang hadits atau membimbing kami memperbaiki bacaan Qur’an seperti jadwal biasanya. Malam itu ia hanya bercerita, murni bercerita. Bertutur tentang penyesalan paling dalam yang pernah ia rasakan. Bukan karena terlambat check in dan ketinggalan pesawat sehingga beasiswa full 4 tahun di Jepang hangus tanpa jejak, bukan kepengecutan yang mengakibatkan wanita yang selama ini ia harapkan akhirnya pergi dan hanya meninggalkan selembar undangan pernikahan, tapi yang paling ia sesali adalah kesombongannya, kebesaran ego lelakinya yang membuatnya sempat beradu pendapat dan  berjanji tak akan menampakkan wajah di rumah sebelum ijazah di tangan dan pekerjaan jelas diperoleh. Hingga pada saat semua itu ia dapatkan, saat ia dengan bangga kembali ke rumah, yang ia dapati adalah gundukan tanah merah, tempat ayahandanya beristirahat untuk selamanya. Hal itu menjadi pukulan telak bagi beliau, hingga selembar ijazah dan tumpukan rupiah yang ia bawa pulang itu rasanya tak ada harganya lagi.



Tadinya ingin saya sampaikan kisah ini kepada si kawan, tapi entah kenapa pada akhirnya saya malah memilih diam dan manggut-manggut sok mengerti. Mungkin kondisi dan posisi tiap orang berbeda. Mungkin prioritas dan tujuan tiap orang berbeda. Yang pasti, cara pandang dan pola pikir tiap manusia tak sama.

Kubikel pojok, 
4 Februari 2014
16.35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar