Rabu, 30 Desember 2015

Maskapai Penerbangan Indonesia (berdasarkan pengalaman)

(Ditulis 28 September 2015, diperbaharui 30 Desember 2015) 

Sebagai anak rantau yang kini tinggal terpisah pulau dari rumah, mau tak mau si burung besi adalah satu-satunya transportasi paling efektif untuk sampai rumah. Jarak Jakarta-Sumatera Utara yang bila ditempuh melalui perjalanan darat baru bisa  ditempuh selama 3 hari 2 malam atau 2 hari 3 malam, dengan pesawat hanya dibutuhkan waktu 2 jam 15 menit ke Medan, atau 1 jam 40 menit ke Padang, atau 1 jam 50 menit ke Pekanbaru. Dulu, bis-bis besar lintas provinsi dan lintas pulau semacam ALS masih berjaya ketika masih banyak orang yang bergantung padanya karena pesawat masih merupakan barang mewah.

Sekarang? Dengan terus meningkatnya demand terhadap layanan penerbangan ditambah berkembangnya berbagai maskapai penerbangan dan persaingannya untuk merangkul penumpang, boleh dikata naik pesawat sudah bergeser dari kotak “mewah” menjadi semacam “kebutuhan”. Contoh, tiket pesawat Jakarta-Medan untuk pertengahan 2015 pada hari biasa non liburan normalnya berkisar Rp700-an ribu rupiah. Sedangkan naik bis ALS Jakarta- Medan kira-kira Rp500 ribu. Iya, masih beda 200 ribu. Tapi 200 ribu itu udah bisa dikonversi untuk efektivitas waktu, efektivitas tenaga, belum dalam perjalanan naik bis 2 hari 3 malam itu pasti berhenti makan kan? Perkirakan akan 6 kali makan dengan kira-kira sekali makan butuh 25 ribu, 6x25 ribu = 150 ribu. Masih selisih 50 ribu, tapi tenaga dan waktu masih tersimpan dengan baik.

Saya naik pesawat pertama kali di bulan September 2009, ketika harus daftar ulang untuk masuk kuliah. Sampai hari ini, kira-kira setelah 6 tahun sejak saya masih kagok pakai seatbelt, terhitung masih lebih kurang 30-an kali saya duduk manis di pesawat. Dari zaman kuliah yang tiap beli tiket di agen travel bilangnya, “Mbak, pesawat ke Medan, Padang, atau Pekanbaru tanggal sekian yag paling murah berapa mbak?”, yang masih zaman gak mikir itu maskapai apa atau penerbangan pukul berapa (yang penting murah), hingga sekarang yang mulai ikhlas bayar sedikit lebih mahal demi sebuah “kenyamanan”.

Penerbangan saya yang paling fresh adalah perjalanan saya dari Padang-Jakarta hari Minggu 27 September kemarin. Sambil memandangi kursi biru pesawat, jendela darurat di sebelah kiri, dan flight attendance  Sriwijaya Air, entah kenapa tiba-tiba tercetus ide untuk menulis sedikit tentang pengalaman terbang saya bersama berbagai maskapai. Niat yang baru bisa saya laksanakan keesokan harinya karena saya baru sampai di kosan lewat tengah malam dan memilih langsung beristirahat.

1.       Batavia
Saya hanya sempat merasakan layanan maskapai ini 2 kali, Jakarta-Pekanbaru dan Pekanbaru-Jakarta sebelum kemudian akhirnya tutup dan berhenti beroperasi. Tidak banyak yang bisa ceritakan karena saya tidak terlalu ingat juga. Kemungkinan standar (berpatok pada saya tak terlalu mengingat hal baik maupun hal buruknya).

2.       Lion Air
Kalau maskapai yang satu ini sih udah jadi juaranya tenar hahaha. Hubungan saya dan Lion Air semacam hubungan pasangan yang putus-sambung, lebih tepatnya Love-Hate relationship. Cinta tapi benci. Benci, tapi rindu.

Soal delay, jangan ditanya lagi, Lion juaranya. Bahkan sampe ada plesetan jargon LION= Late is Our Nature. Tak terhitung berapa kali saya di-PHP, dikecewakan, luntang-lantung di bandara karena delay 5 jam dan tidak ada snack maupun makan besar sebagai kompensasi. Saya marah, kecewa dan menyesal. Tapi beberapa bulan kemudian ketika hunting tiket lagi, tetap saya rujuk kembali (walau tak sepenuh hati) karena penerbangan maskapai ini tetap berada di bagian teratas waktu filter kategori termurah (hahahaha.. ).

Satu hal lagi yang saya rasa perlu ditingkatkan kualitasnya oleh Lion Air adalah pelayanan oleh kru, baik ground, boarding, maupun flight attendant. Dari sekian belas perjalanan saya bersama Lion, ada satu kejadian yang saya ingat sekali (mudah-mudahan ini bukan karena dendam ^^). H-2 Lebaran 1435 Hijriah, bertepatan 26 Juli 2014. Saya dapat perlakuan yang membuat saya benar-benar harus berusaha keras menahan air mata biar tidak jatuh. Mungkin terdengar cengeng, tapi saya tipe orang yang tidak bisa menyampaikan kemarahan. Jadi, kalau saya sudah kesal sekali ataupun marahnya level atas, larinya pasti ke nangis hahahaha. Tapi tak perlu saya ceritakan detail lah seperti apa, mudah-mudahan itu perilaku oknum saja (namun sayangnya hampir dipastikan yang tercoreng adalah nama instansi, kan?)

Tapi di balik cerita delay dan beberapa kejadian dengan kru Lion Air baik yang saya alami maupun saya saksikan, keunggulan Lion Air yang paling utama adalah banyaknya pilihan penerbangan yang memudahkan calon penumpang. Saya rasa untuk urusan pilihan jam keberangkatan dan pilihan kota tujuan, Lion Air menguasai hampir separuh pangsa pasar penerbangan. Karenanya seandainya Lion didemo dan dipaksa tutup dan berhenti beroperasi, yang pertama panik dan gelagapan selain pihak internal perusahaan adalah penumpang-penumpang yang setia (Iya, setia. Tingkat setia yang tinggi sampe di-PHP-in, dikecewakan, ditelantarkan tetap masih akan berlabuh ke Lion lagi :’D). Tak heran seorang Rudi Kirana pun mengakui dan berkata “Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya, ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu” ketika diwawancara dan diminta membandingkan Lion Air dengan airlines di Amerika.

Lion lagi? Well, jika nanti-nanti tak ada pilihan yang lebih lumayan, mungkin saya akan terus memelihara hubungan Love-Hate ini :’).

3.       Citilink
Naik citilink baru dua kali, ketika pulang liburan semester 2011, Jakarta-Medan dan terakhir perjalanan Medan-Jakarta selepas dinas pada tanggal 6 Desember 2015. Penerbangan terakhir saya delay 90 menit dari jadwal yang tertera di boarding pass.

4.       Sriwijaya Air
Sejauh ini saya sudah menumpang layanan penerbangan maskapai ini setidaknya sebanyak 5 kali. Namun 2 penerbangan terakhir saya dengan Sriwijaya sangat berkesan dan sulit dilupakan. Penerbangan Jakarta-Padang pada H-3 lebaran 1436 Hijriah (lebaran Idul Fitri Juli 2015 kemarin). Delay sekian jam. Okelah, masalah delay mungkin sudah mulai saya anggap tidak terlalu serius mengingat hampir semua maskapai penerbangan kita agak susah untuk lepas dari kendala ini. Yang saya paling tidak bisa lupakan saat itu adalah layanan yang diberikan oleh kru dan tim Sriwijaya Air, kru boarding di ruang tunggu dan flight attendance selama penerbangan.
Dikarenakan delay beberapa jam dan tidak ada pengumuman resmi maupun info apa-apa yang diberikan kepada calon penumpang, akhirnya beberapa orang bertanya langsung kepada kru yang ada di belakang meja service desk ruang tunggu (ada kru dari penerbangan lain juga, tapi kru sriwijaya tetap bisa dikenali dengan seragam hijau dan logo maskapainya). Nah, kejadian bertanya informasi pasti ini terjadi beberapa kali. Setelah mungkin beberapa orang yang hilir mudik bertanya, sepertinya si mbak kru Sriwijaya tadi mulai kesal sampai terdengar suaranya meninggi dan setengah berteriak,
“Yang Sriwijaya beloooom !! susah banget sih dibilangin !! kita tuh juga gak tau apa-apa, Pak. Kita kan tugasnya hanya bantu proses boarding ke pesawat, soal kenapa delay ya jangan paksa kita jawab doong !!!”, begitu kira-kira kilah si mbak yang kemudian menarik minat sebagian orang untuk menolehkan pandangan menonton adegan ini. Secara rasionalitas, yang dikatakan beliau mungkin benar adanya. Walaupun berada dalam satu bendera maskapai yang sama, namun tugas kru check in, kru boarding, dan flight attendance berbeda-beda dan terbatas pada job desk-nya saja. Namun alangkah lebih bijak kalau menanggapinya bisa dilakukan dengan bahasa yang lebih sopan dan halus, lebih baik lagi disampaikan secara massal agar seluruh penumpang tahu bahwa ada keterlambatan pesawat dan tidak perlu bertanya-tanya kebingungan atau bahkan ragu apakah mereka salah masuk ruang tunggu atau tidak.

Selanjutnya, masih di penerbangan yang sama, ketika pesawat sedang melaju di ketinggian sekian ratus kaki di udara, tim flight attendance  pun berkeliling dengan troli makanan dan bersiap membagikan kotak roti dan air mineral. Persis ketika akan menyerahkan kotak snack kepada penumpang di depan saya, salah seorang flight attendance  yang bertugas tersebut tidak sengaja menjatuhkan kotak sehingga roti dan cemilan di dalamnya menyentuh lantai. Dan yang membuat saya geleng2 adalah, roti dan cemilan tersebut dimasukkan kembali ke kotak dan diberikan kepada penumpang seolah tak terjadi apa-apa. Masalah higenitas mungkin bisa dikesampingkan mengingat roti maupun cemilan masih terbungkus plastik, tapi untuk hal kesopanan dan kepatutan sepertinya tindakan tadi bukan pilihan yang tepat.

5.       Garuda Airlines
Untuk layanan maskapai dalam negeri, Garuda Indonesia memang masih unggul mutlak dibandingkan maskapai lainnya. Walau pada pengalaman bersama Garuda Airlines pernah merasakan yang namanya delay juga, tapi sejauh pengalaman saya, keramahan dan kesigapan tim untuk melayani memang belum dapat ditandingi oleh maskapai lain.

6.       Batik Air
Batik Air hadir menjembatani kualitas prima Garuda dan harga terjangkau Lion Air. Menjanjikan kelas yang lebih elegan dari Lion namun dengan harga yang lebih terjangkau daripada Garuda. Sejauh ini, saya sudah 5 kali menumpang pesawat milik maskapai ini. Sebagian besarnya memuaskan. Space lebih luas, layanan hiburan di atas pesawat, ketersediaan konsumsi. Sayangnya di penerbangan terakhir saya dari Jakarta menuju Medan pada 2 Desember kemarin, awak penerbangan yang bertugas agaknya masih awak junior. Terlihat dari kurangnya konsentrasi dalam melayani penumpang, mengobrol dan tertawa keras-keras sepanjang  membagikan konsumsi kepada penumpang, juga dari gerak laku tangan dalam penyajian makanan di depan penumpang. Tapi secara keseluruhan, Batik Air kini menjadi alternatif pertama selain garuda yang saya pilih ketika merencanakan perjalanan.


Terlepas dari semua pengalaman tersebut, semoga industri penyedia layanan penerbangan Indonesia semakin berkembang dan berbenah mengingat kebutuhan masyarakat akan transportasi udara juga kian meningkat.

Kamis, 26 November 2015

Hari Guru

25 November 2015.

Membuka media sosial hari ini, sebagian besar status maupun update teman-teman di jendela masa bernada sama. 
Hari guru.
Ada yang menampilkan foto yang suasana peringatan tadi pagi di sekolahnya, ada yang menulis notes dan kenangan tentang guru ketika dulu di masa sekolah, ada yang sekadar mengucapkan selamat dan terimakasih, juga tentang definisi guru yang tak terbatas pada seseorang yang memberikan pelajaran secara formal di depan kelas, lebih luas dari itu, kata mereka.

Saya tersenyum, terharu, menggulirkan halaman demi halaman jendela masa, melihat foto-foto penuh senyum (dan kado :P). Saya pun besar di lingkungan yang dekat dengan pendidikan. Ibu saya guru, ayah saya tenaga administrasi di salah satu Sekolah Menengah Atas tak jauh dari rumah, kami tinggal di komplek pendidikan dengan tetangga sekeliling yang banyak berprofesi sebagai guru, dari 9 rumah di lingkungan Gang kecil tempat kami tinggal, 7 rumah diantaranya dihuni oleh keluarga guru.

Saya pun, pernah dan masih memiliki cita-cita untuk menjadi seorang guru. Bukan tak bersyukur dengan pekerjaan saat ini. Tentu saja saya bersyukur, posisi yang saya tempati saat ini mungkin diperebutkan oleh puluhan ribu pencari kerja tiap tahunnya. Alhamdulillah, saya bisa sampai di tempat ini. Tapi bukan berarti duduk di kursi ini membuat keinginan saya untuk mengajar hilang. Hingga detik ini, keinginan untuk berbagi ilmu, berdiri di depan kelas, mengamati perilaku sosial yang berbeda dari tiap pelajar. Aahhh.. indah sekali membayangkannya.

gambar ambil dari sini

Teringat dulu, tiga tahun yang lalu ketika masa jeda antara lulus kuliah dan menunggu keputusan penempatan kerja, saya terima tawaran Paman untuk mengisi posisi guru matematika yang sedang kosong di salah satu yayasan sekolah di luar kota, ratusan kilometer dari rumah. Mengajar matematika untuk kelas 3 SMP dan kelas 2 SMA. Bahkan tak genap satu semester, tapi banyak pengalaman yang masih saya simpan baik-baik. Menyiapkan bahan ajar esok hari dengan metode yang bisa dengan mudah diterima pelajar, menyisipkan pengetahuan-pengetahuan umum tentang psikologi untuk membuat mereka rileks dan lebih terbuka (selama kuliah, saya mempelajari dunia akuntansi, tapi entah mengapa topik psikologi selalu menarik perhatian ^^), mengkreasikan metode ujian/kuis dengan cara yang lebih kreatif, dan pasti mengamati mereka satu per satu dan mencoba memahami kelebihan, kekurangan, dan minat mereka masing-masing.

Masih ingat, pas belanja mingguan ke kota, misi khusus saya adalah membeli spidol warna-warni agar catatan di papan tulis terlihat lebih menarik, beli kertas origami untuk kertas soal ujian, dibentuk macem-macem dulu baru tulis soalnya, kemudian dikembalikan ke bentuk asal. Alhasil, yang mau ngerjain soal harus bisa melipat kertasnya ke bentuk origami dulu baru bisa melihat soal hahahahaha. Kalau dipikir iseng banget. Dan ketika esoknya perpisahan, malamnya begadang menyiapkan surat khusus untuk masing-masing anak dengan isi yang beda, sesuai dengan kepada siapa surat itu tertuju. Lalu di saat perpisahan dan pamitan, yang menangis tidak hanya muridnya, yang kakak gurunya ini justru malah terisak juga, sambil di antar ke gerbang sekolah ditemani lambai-lambai dan teriakan serta panggilan yang masih ramai bahkan hingga gerbang sekolah hampir tak tampak. Ah... masa itu... ^^

Kembali lagi ke jendela masa, memperhatikan dan menganalisis satu persatu update dan kiriman orang-orang yang dikenal, membuatku menyadari betapa banyak ternyata teman SD, SMP, dan SMA yang kini telah menjadi guru. Telah mengabdikan dirinya untuk membagi ilmu dan memajukan pendidikan. Alhamdulillah. Beberapa dari mereka bahkan berdiri berdampingan dengan guru senior yang dulunya mengajar kami, tak henti mengambil hikmah dan bersiap menggantikan ketika kelak tiba masanya untuk beliau-beliau beristirahat.

terimakasih, Guru !! (dari sini)

Terakhir, ucap terima kasih untuk semua guru di manapun kalian berada. Guru dengan pakaian dinas lengkap, guru dengan pakaian seadanya, guru yang sudah mendapat tunjangan sertifikasi, guru yang masih dibayar dengan hasil kebun (ada, masih ada, kawan), guru yang berdiri formal di depan kelas, guru yang ada dimanapun, di jalanan, di gerbong kereta, di terminal, di lapak-lapak pedagang sayur, guru dimanapun yang menciptakan madrasah ilmu di tempat yang tak terduga.

Untuk semua guru, para pembagi ilmu, dan penebar hikmah,
Terima kasih

Selamat Hari Guru

Senin, 23 November 2015

Surat Kaleng

Salah satu yang spesial dari travelling adalah obrolan-obrolan sepanjang perjalanan. Mulai dari sekedar bertukar kabar, keseharian, menertawakan hal-hal remeh-temeh, mengomentari apa yang terlihat selama perjalanan, bahan hingga hal-hal serius semacam politik dan isu pernikahan (ehemm..).

Perjalanan pulang dari Jogja  menuju Jakarta tadi malam juga menyisakan banyak cerita dan kabar-kabar yang terlewat oleh telinga. Dan, satu hal yang paling berkesan, adalah tentang surat kaleng.

Saya dan teman seperjalanan kali ini bekerja di instansi Kementerian yang sama, tapi berbeda unit organisasi level Eselon I. Sudah menjadi rahasia umum bahwa unit Eselon II tempatnya mengabdi banyak diperbincangkan karena kondisi ruang kerja yang penuh asap rokok. Padahal gedung berlantai 20 itu tentu saja dilengkapi dengan pendingin udara di setiap sudut, dan siapa pun tahu bahwa merokok adalah hal terlarang, tidak hanya di ruang kerja atau lobby, bahkan toilet dan tangga darurat pun harusnya steril dari asap rokok. Tapi apalah daya, para perokok di unit kerja itu tetap berjaya menyebarkan bau asap ke setiap sudut. Bukan tidak ada yang melarang, bisik-bisik dari yang sekedar halus hingga sindiran ketus pun tak jua mampu meredam. Mungkin untuk level staf atau kepala subbagian masih beranilah untuk mereka ingatkan setiap hari, tapi jika yang paling semangat menjadi ahli hisap adalah pimpinan tertinggi unit kerja? Nah, ini baru masalah. Bertahun-tahun hal ini terjadi, dan untuk kasus teman saya tadi, dua tahun sejak ia pertama kali bekerja.

Foto pinjam dari sini

Nah, yang membuat cerita ini seru adalah ketika bulan lalu ada sebuah amplop tertutup yang dialamatkan kepada pimpinan unit kerja tersebut. Isinya? Semacam teguran dan “ancaman” bahwa jika masalah “rokok” ini masih terus berlanjut, maka akan dilaporkan kepada Tim Pengawas Internal Kementerian, serta pimpinana Eselon I yang merupakan atasalan langsung beliau. Mau tak mau, kini para pegawai yang merokok di ruang kerja mulai pindah, bergeser ke tangga darurat, bahkan si bapak pimpinan tadi pun tak tampak lagi asyik merokok di ruangannya. Syukurnya, kondisi ruang kerja sudah mulai lebih lega tanpa cekikan asap rokok.

Saya kira sampai disitu saja. Namun ternyata, sang pimpinan walau terlihat “takut” dengan ancaman ini, diam-diam menugaskan bawahannya untuk menyelidiki asal muasal surat yang dikirim melalui salah satu jasa pengiriman ternama dengan letak kantor yang jauh dari tempat kami bekerja. Beliau bahkan meminta rekaman CCTV kepada pihak jasa pengiriman.

Teman saya, yang setiap pagi sesampainya di kantor akan otomatis menyalakan kipas dan filter udara serta memakai masker kain sebagai bentuk ketidaknyamanan terhadap asap rokok, termasuk yang dicurigai sebagai tersangka. Namun hingga sekarang belum diketahui siapa yang punya nyali besar untuk mengirimkan surat itu. Siapapun pengirimnya, kata teman saya, sebagian besar pegawai di unit kerja itu sama-sama berdoa agar pelakunya jangan sampai ketahuan.

Cerita yang menarik. Setidaknya, hingga sebulan setelah peristiwa “surat kaleng” itu, ruang kerja masih steril dari bau dan asap rokok.

Salut !


Kamis, 12 November 2015

Hujan pertama di bulan November

Sabtu siang.

Semarak akhir pekan telah dimulai. Pemuda kantoran yang setiap hari berjuang bangun dini hari dan bersiap berangkat sejak pagi masih awal, kali ini masih mendengkur. Tersenyum dalam tidurnya yang terbungkus selimut hangat.

Anak-anak sekolah yang saban hari terburu mengejar denting bel sekolah, pagi ini terlihat ceria, bercanda sepanjang jalan. Tak mereka pakai seragam penuh atribut seperti biasa, pakaian olahraga yang menemani mereka berpeluh hari ini, beberapa menenteng alat musik di punggung. Sabtu jadwalnya mereka belajar di luar kelas. Ekstrakurikuler bahasa modern-nya.

Sabtu yang hangat berubah menjadi lebih syahdu ketika kawanan awan hitam bergerak perlahan. Lalu diam-diam meneteskan bulir-bulir kecil air berukuran sebutiaran jagung.

Gerimis.

Seperti seorang kekasih yang telah merindu lama, langit tampaknya masih tak puas hanya bertemu gerimis. Gelegar suara guruh membelah hangatnya sabtu pagi yang kini berubah lebih sejuk.
Tak ingin tertinggal angin pun bergabung membersamai awan dan bulir air yang jatuh.
Hujan. Deras. Basah. Kuyup.

Anak-anak sekolah yang tadi bergerombol riang terlihat mulai kocar-kacir, berlarian ke segala arah mencari tempat berteduh. Pemuda kantoran yang awalnya hampir beranjak dari tempat tidur, kembali merapatkan selimut demi mendengar senandung lagu hujan di luar sana, memutuskan semangkok mie instant yang direndam air panas cukuplah mengobati lapar.

Beberapa orang mengeluh. Merasa belum bersiap, merasa belum berakrab-akrab dengan payung.
Mengeluh sesaat untuk kemudian tersenyum.
Ini hujan pertama di musim ini. Hujan yang harusnya bertandang di Oktober, namun terlambat tiba dan baru menyapa di November.

Bapak-bapak bersyukur, sumur yang kering mulai terisi lagi. Niat untuk mengeruk sumur lebih dalam diurungkan. Uang untuk mengupah penggali sumur bisa disimpan, masuk kantong lagi. Alhamdulillah.

Kakek yang sedang menjemur kerupuk menggerutu, membayangkan ratusan tampah kerupuknya harus dikeringkan tanpa bantuan mentari. Perlu angin dari kipas, kipas perlu listrik untuk berputar, ujung-ujungnya, bertambah lagi rupiah yang harus ia keluarkan bulan ini.

Anak-anak kecil bergembira. Segera keluar dengan puluhan payung warna-warni, beragam jenis. Ojek payung mulai semarak lagi. Akan ada uang tambahan yang bisa mereka gunakan untuk bayar ini-itu atau sekadar jajan es potong di pedagang keliling.

Ibu-ibu menggerutu, terbayang pakaian basah yang harus segera dikeringkan. Menjemur di luar bukan lagi solusi yang cerdas. Yang dijemur belum kering, yang kering sudah basah lagi.

Banyak rasa, banyak cerita. 
Tapi hujan kali ini tetaplah diiringi dengan banyak syukur dan ucap Hamdalah.

Dan aku? 
Aku sedang terbanting-banting dalam bajaj berwarna biru. Membuka lebih lebar payung yang tak seratus persen mampu melindungi dari serangan angin dan hujan. Berpayung dalam bajaj?
Iya, kau tak salah baca kawan, dan lucunya bahkan dengan bantuan payung pun aku tetap berhasil basah kuyup hahahaha.

Tapi tidaklah mengapa. Bau tanah kering yang disiram hujan terlalu harum untuk membuatku menggerutu terus, bukan?

Selamat datang musim hujan
Selamat datang rezeki yang berlimpah
sudah lama kami nanti hadirmu

Sabtu, 7 November 2015.
Hujan pertama bertemankan angin
Jakpus

Kamis, 05 November 2015

Penjara Suci

Beberapa hari belakangan di jendela media sosial lagi banyak review dari alumni sekolah tempat saya menghabiskan pendidikan menengah pertama dulu, baik teman seangkatan maupun kakak kelas yang beberapa angkatan di atas. Ternyata seorang abang kelas baru saja menuliskan buku yang bercerita tentang kehidupan kami dulu semasa di asrama. Karena penasaran, akhirnya saya pesan buku tersebut, dan sekarang sudah dalam perjalanan dari Pontianak menuju Jakarta. Yeaayyy !!! :D

penampakan sampul depan buku, dari obrolan di WA ^^

Saya pernah bercerita tentang kehidupan asrama di sini sebelumnya.

Ya, saya menghabiskan pendidikan tingkat pertama di sebuah SMP swasta bernafaskan Islam di kota kelahiran. Sekolah kami merupakan yayasan yang didirikan dan dibina oleh seorang Bapak Dokter yang telah sepuh, beliau sangat dihormati tidak hanya di kota kecil kami, namun juga hingga kota dan kabupaten-kabupaten tetangga. Dulunya hanya sebatas SMP dan SMA, sejak tahun 2009 mulai dibuka juga untuk tingkat SD IT.

Siswa sekolah kami diwajibkan tinggal di asrama. Asrama, kata yang lekat dengan kata “pesantren”, tapi kami akan dengan tegas menolak untuk disebut pesantren hahahaha. Setiap tahun, sekolah kami hanya menerima 2 kelas murid (sekitar 60-an siswa). Awalnya kelas terbagi menjadi kelas A dan B, namun sejak tahun 2003, sejak kami duduk di bangku kelas 1 SMP, pemisahan kelas menjadi kelas putra dan putri.

Walau hanya menerima 60an siswa tiap angkatannya, jangan salah kawan, ini bukan karna reputasi kami yang tidak baik. Justru sebaliknya, sekolah kami bahkan masuk 5 sekolah favorit tingkat provinsi. Tiap tahun, terlalu banyak calon siswa yang mendaftar, sehingga hanya akan diterima dua kelas saja. Hal ini berhubungan fasilitas asrama dan kelas. Siswa sekolah kami tidak hanya berasal dari kota kecil kami maupun kabupaten tetangga, tidak sedikit yang datang dari provinsi sebelah, bahkan juga ada beberapa yang dari pulau Jawa ^^.

Tahun 2003, ketika saya mendaftarkan diri ke sekolah itu, sekitar 900-an lebih siswa yang bersaing demi meraih kursi untuk duduk di sekolah kami, namun yang diterima hanya 60an :D. Banyak syarat bahkan untuk bisa ikut tes masuk, salah satunya harus juara kelas ketika masih SD. Kemudian akan ada beberapa tahapan tes untuk masuk sekolah kami. Tes ilmu pengetahuan, tes psikologi, tes kesehatan dan kebugaran, dan terakhir adalah wawancara, tidak hanya calon siswa, tapi juga orang tua siswa.
tampak depan gedung utama, berisi kantor guru, aula, dan laboratorium

Banyak yang bilang sekolah asrama itu biayanya mahal, tapi tidak dengan sekolah kami. Karena sekolah ini merupakan yayasan, sebagian besar kebutuhan siswa dibiayai oleh “Pak Dokter”. Kami memang masih membayar, namun hanya sejumlah sekian rupiah yang menurut saya masih sangat  murah, tidak beda jauh dengan sekolah negeri.

Terkait pembayaran ini (kami tidak menyebutnya dengan uang sekolah, melainkan “Infaq”), siswa akan dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan kemampuan orang tua. Kategori A untuk siswa yang dianggap kurang mampu dan tidak perlu membayar Infaq, kategori B untuk siswa yang dianggap cukup, dan kategori C untuk yang keluarganya dianggap mampu. Seingat saya, tahun 2004 waktu itu saya hanya membayar uang “Infaq” sebesar Rp50.000 sebulan (dan saya sudah dapat fasilitas asrama, tempat tidur, makan setiap hari, dan fasilitas lainnya, bahkan semua fasilitas sekolah sudah disediakan, jadi kami tidak perlu membeli apapun ^^).

Tempat itu, tempat awal saya belajar segalanya. Dari yang manja menjadi lebih mandiri, dari yang ilmu sedikit menjadi ilmu yang lebih banyak, dari yang iman sedikit menjadi iman (yang semoga) terus bertambah.

Sudah belasan tahun berlalu sejak saya tak sabar menanti waktu dua minggu-an untuk pulang ke rumah, lalu kemudian menghela nafas panjang jika sudah waktunya harus kembali ke tempat itu lagi.
Sudah belasan tahun sejak segala hal terasa sangat perlu diperjuangkan, bahkan untuk sekedar mandi pagi, jemuran yang strategis, bahkan tempat duduk yang aman untuk tertidur di dalam kelas hehehehe.
Sudah belasan tahun sejak suara lantunan Almatshuroh terdengar rutin tiap shubuh dan menjelang maghrib, didengungkan ratusan anak-anak kecil yang beranjak remaja, beberapa khusyuk, tak sedikit yang mengantuk, bahkan banyak yang melafazkannya dengan mode otomatis, di luar kepala walau sambil berangan-angan.

Sudah belasan tahun sejak masa-masa itu berlalu. Tapi hingga kini, ikatan ukhuwah itu masih kokoh, bahkan meluas. Jika dulu hanya kenal maksimal lima tahun angkatan atas dan lima tahun angkatan bawah, bulan lalu bahkan kami berkumpul di rumah kakak kelas lintas generasi, lima belas tahun di atas angkatan kami. Generasi awal ketika sekolah kami masih tertatih baru berdiri. Berkumpul di tanah rantau, 1.597 kilometer dari tempat kami hidup bersama dulu.

Sudah belasan tahun, tapi sampai berpuluh tahun berikutnya, tempat itu tetap akan menjadi tempat yang menyatukan kami. Tidak hanya dunia, insya Allah juga di hari akhir.
Seperti kata seorang teman, “Sesungguhnya, segala yang baik padaku berasal dari tempat itu.”


Tempat itu, tempat yang kami sebut “Penjara Suci”.

Kumpul bulanan Alumni sekolah kami yang domisili Jabodetabek
Dalam rangka menyambut pengantin baru, Mei 2015

Selasa, 20 Oktober 2015

Tabungan rindu

Sekian ratus hari kutabung rindu ini. Sedikit demi sedikit, mengumpulkannya dengan sabar
Berpuluh minggu kutabung rindu ini, menyimpannya rapi, dalam segelas toples kaca warna warni.
Kala akhir pekanku tak berlalu dengan dinamis, cukup puas aku menghabiskan pagi ke siang, siang ke malam, memandangi tabungan rindu yang semakin menggemuk.

Tabungan rinduku hampir penuh, dan kini aku terjebak dalam bimbang antara melepasnya atau kembali mencari toples kosong yang lain.

Duh, aku rindu.

Kata mereka, terkadang  kita sangat merindukan seseorang atau sebuah tempat, tapi memutuskan untuk tak menengoknya demi memelihara kerinduan itu*. Mungkin karena itu, ataukah mungkin karena aku aku terlalu takut tabungan rindu yang dengan pelan-pelan kusimpan ternyata hanya debu kosong yang tak bisa ditebus dengan apa-apa.


Tabungan rindu ini, kuncinya masih kau simpan, bukan?


*Quotes dari Tasaro GK

Jumat, 16 Oktober 2015

Aku kembali menyurati kamu, mengabari rindu


Pagi ini, entah karena apa aku tetiba ingin kembali berkirim kabar padamu
Tidak lewat sapa hangat suara di saluran telepon, atau bantuan cepat pesan singkat, atau bahkan berbagai aplikasi komunikasi yang dalam sepersekian detik dapat terkirim ke berbagai penjuru dunia.

Pagi ini, aku ingin berkirim kabar padamu seperti dulu
Seperti romantisme klasik yang kata orang sudah ketinggalan jaman
Lewat kertas harum yang kini sudah mulai ditinggalkan,
Lewat senyum hangat pak pos yang kini dering sepedanya tak lagi terdengar, digantikan deru motor dan abu yang beterbangan di belakangnya.
Pagi ini, aku ingin berkirim kabar padamu.

"Apa kabar, kamu?
aku rindu"

Sreeet.. kusobek kertas itu. Terlalu blak-blakan, terlalu singkat, terlalu to the point.

"Selamat pagi, kamu, cuaca akhir-akhir ini mulai mendung ya? huj...."

Aaah.. cuaca? Klise.. klise sekai.. topik cuaca hanya akan dibawakan oleh orang-orang yang kehabisan topik untuk dibicarakan.

"Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku harap kamu sehat dan baik-baik saja.
Kamu masih bekerja hingga larut malam kah?
Masih suka makan seadanya karena malas keluar rumah?
Hati-hati dengan makananmu, kemarin itu aku sempat baca berita di internet, ada orang yang terkena kanker karena terlalu sering makan mie instan, ada yang terkena radang tenggorokan karena terlalu suka gorengan (apalagi cireng!) bahkan ada juga yang terkena insomnia akut dan tak bisa tidur berbulan-bulan karena kecanduan kopi..
Aku dengar jug..."

Hhh.. kupandangi lagi kertas itu, kuremas menjadi bulatan kecil lalu melemparkan ke kotak sampah dekat pintu. Surat barusan terdengar teralu detail, terlalu personal, terlalu mengikat, dan lebih-lebih, terdengar seperti ocehan seorang kekasih yang terlalu posesif (yang tentu saja, bukan)

Kugaruk kepala yang tidak gatal. Tak ku sangka sesusah ini hanya untuk sekedar berkabar padamu.

Kuambil kertas baru.

"Apa kabar, kamu?"

Gerak tanganku berhenti sejenak


"Aku rindu."

Selasa, 06 Oktober 2015

Kamu

Banyak orang yang bilang kamu terlihat berbeda ketika sedang bekerja. Katanya kamu tidak seperti kamu. Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa kamu yang sesungguhnya adalah kamu dengan wajah serius dan berkharisma, sedangkan kamu yang berambut acak, kaos oblong dan terlihat santai bukanlah kamu yang sesungguhnya.

Karena itu, mereka ramai berdebat yang mana kamu yang sesungguhnya. Persona, kata mereka.

Meski kamu punya dua nama dan (mungkin) dua persona, bagiku kamu tetap kamu.  Sorot matamu tetap sorot mata itu, sorot mata penuh defensif, percaya diri, tapi juga menyiratkan kesepian.

Tapi malam ini aku melihat ekspresi lain yang terpancar dari matamu. Sorot teduh dan melindungi. Sorot mata  canggung tapi penuh kasih.
Sorot mata kebapakan.


Ah, kamu :D

Kamis, 17 September 2015

Radio. Buku. Kopi.

Radio.
Radio membantuku bernostalgia.
Melemparkan ke beberapa masa yang dulu lewat lantunan irama-irama yang terlalu familiar.
Lewat lirik-lirik yang kadung hafal di luar kepala, bahkan secara tak sadar melantunkan perlahan tanpa perintah otak.
Radio menyembunyikan sepiku dalam tawa cekikik dan sahut menyahut riang penyiar.
Radio menjadi pengganti nina bobo yang kuperlukan saban hari tatkala penyakit susah tidur menerpa, tatkala kasak kusuk guling sana guling sini tak jua berhasil mengantar tidur. Radio menjadi semacam nyanyian sebelum tidur, yang perlahan mengantar terlelap.

Buku.
Buku membawaku ke dunia lain. Kehidupan yang tampak jauh lebih indah.
Janji-janji manis, alur kisah hidup yang penuh drama, tapi kebanyakan berakhir bahagia.
Buku membuatku merasa seperti putri kecil yang tinggal di istana, dikelilingi keluarga penuh cinta dan dayang-dayang yang setia
Buku membuatku berangan menjadi wanita mandiri yang berkeliling negara-negara lain dengan bebas, tak khawatir memikirkan pandangan dan cibir orang lain, namun melenggok asyik dari satu bandara ke bandara lain
Buku membawaku menelusuri hijau lebat dedaunan di hutan belantara Amerika, gersang panas gurun Afrika, dingin menusuknya Eropa, serta hembusan sepoi angin di musim gugur di pinggiran sungai Asia.
Buku memberiku ruang berimajinasi. Dalam dunia yang jauh lebih indah dari kenyataan. Dalam dunia dimana aku tak hanya berperan sebagai aktor, tapi juga sutradara atas alurku sendiri.

Kopi.
Aku benci kopi, tapi aku suka kopi.
Aku benci kopi. Karena racikannya begitu susah untuk dimengerti.
Berbeda biji kopi, berbeda pula rumus yang yang diperlukan untuk menghasilkan rasa sempurna.
3:3, tiga sendok kopi dan tiga sendok gula untuk arabika sipirok. 
2:4, dua sendok kopi dan empat sendok gula untuk kopi semendo. 
3:2, tiga sendok kopi dan dua sendok gula untuk kopi gayo yang wangi.
Aku benci kopi, tapi aku suka kopi.
Aku suka kopi karena pahitnya membangunkanku dari angan. Kembali dari romantisme imajinasi, pulang pada dunia nyata yang walau seperti apa pun, harus kujalani.

Rabu, 16 September 2015

love. confusion

"You're not in love, dear. You just are falling in love with the idea being in love"