Jumat, 31 Oktober 2014

27 September

2012
Seminggu menjalani pembinaan mental berkedok capacity building di markas besar kopassus, cijantung, badan masih remuk redam, pikiran masih terngiang-ngiang semua teriakan yel-yel dan lagu-lagu penggugah semangat patriotisme. Sorenya, dengan bis besar berduyun-duyun, kami kembali ke kampus, ke kosan yang kini terasa jauh lebih nyaman. Malamnya saya langsung menuju bandara, berangkat dengan penerbangan malam menuju Yogyakarta, karena esok paginya adik saya akan mengikuti wisuda kelulusan. Bapak dan Umak yang sudah berada di sana dari dua hari yang lalu, menyiapkan segala hal.

Esok paginya, bisa dipastikan suasana heboh yang terjadi. Ketika hari masih subuh, gelap, dan matahari bahkan belum bangun dengan sempurna, hiruk pikuk di daerah sekitaran jalan Bumi itu mulai terasa,  saya menyusul ke kosan adik saya dari wisma tempat kami menginap. Dan benar saja, di kosannya sudah ada beberapa teman beserta ibunya masing-masing. Ketika saya masuk, mereka sedang disibukkan dengan perdebatan dengan make up dan pilihan kosmetik lainnya, juga tentang lambang pangkat, topi, sarung tangan, serta baju seragam yang dipastikan licin tanpa kusut sama sekali (FYI, perguruan tinggi tempat adik saya menimba ilmu boleh dikata bersifat semi militer). Dan begitulah pagi dimulai, prosesi upacara hingga siang hari, makan siang di salah satu tempat makan yang lumayan terkenal di kota itu, kemudian kembali ke sekitaran kampus, bersembang ramai dengan teman dan orang tua yang lain, bersiap untuk berpisah dan melanjutkan hidup di tempat berbeda-beda. Dan kira-kira seperti itulah 27 september dua tahun lalu itu saya jalani.

2013
Jumat, 27 september 2013. Salah satu hari bersejarah dan penting bagi saya, juga untuk ribuan orang lain lulusan sekolah kedinasan kami. Hari itu untuk pertama kalinya kami diperintahkan melapor ke instansi pusat penempatan masing-masing. Maka dengan langkah ragu-ragu, dengan celingak-celinguk  tak percaya diri, saya melangkah ke aula, ke lantai lima sebagaimana di instruksikan oleh security yang bertugas di lantai satu. Hari itu, untuk pertama kalinya saya bertemu dan berkumpul dengan 99 orang lainnya.  Sembilan puluh sembilan orang yang kelak menjadi keluarga baru dan pemberi warna baru dalam hidup saya. Beberapa darinya saya tahu dan kenal, tapi sebagian besar bahkan saya merasa tak pernah berpapasan muka, walau kampus kami tergolong sempit untuk ukuran perguruan tinggi. Ya, satu jurusan khusus yang memang penempatan utamanya ditempatkan di sini. Mereka, yang jumlahnya paling minoritas di kampus, hingga kata sebagian orang eksistensinya diragukan. Ketika jurusan lain berjumlah ratusan, bahkan ribuan orang, jumlah mereka bahkan tak genap lima puluh orang. Terlalu besar untuk dijadikan satu kelas, terlalu kecil untuk dipisah jadi dua kelas, serba salah. Saya sendir berasal dari jurusan dengan jumlah mahasiswa terbanyak, jurusan donor kata mereka, karena bisa ditempatkan di instansi mana saja.
Hari itu kami dikumpulkan. Di beri pengarahan singkat. Dan kemudian dikelompokkan kembali berdasarkan unit penempatan eselon II. Wajah-wajah baru. Tingkah-tingkah aneh bersatu padu, genap 100 orang, hingga kemudian mendasari angkatan kami diberi nama Family 100. Dan kini, keluarga besar itu sudah tersebar, mengabdi di berbagai pelosok negeri.

 2014
Sabtu, 27 September 2014.
Hari saya dimulai dengan sebuah kejutan manis ketika membuka pintu. Otak baru bangun saya yang belum sepenuhnya sadar betul segera meraba apa gerangan isi kresek hitam yang langsung terkulai jatuh d ketika saya membuka pintu itu. Saya otomatis tersenyum, karena sesuatu berlapiskan kertas kado itu pastilah dari seseorang penghuni kamar ujung sana, dan benar, tak lama kemudian ia mampir sebentar dan mengucapkan beberapa kata selamat. Saya tersenyum, pagi ini dimulai dengan indah.
Selanjutnya saya kemudian berangkat ke agenda pekanan, bertemu beberapa sahabat yang tergabung dalam lingkaran cinta yang sama. Dan seperti biasa, agenda sabtu pagi kami dihiasi dengan banyak makanan, tawa dan tentunya berbagi ilmu hahaha. hingga ketika saatnya menutup acara, mereka lalu mengeluarkan sebuah plastik besar. Dan di dalamnya, lagi, saya dapatkan dua buah benda berlapis kertas kado. Saya terharu, berucap terima kasih dan senyum-senyum gak jelas.




Setelah sejenak mengelana di seputaran matraman demi mencari tukang jahit yang sayangnya sedang memilih untuk tidak ambil orderan, lalu main sebentar ke Gramedia dan ternyata tak menemukan apa yang saya cari, waktunya kembali ke kosan untuk berleyeh-leyeh ria. Sorenya, seorang teman berbagi rumah yang paginya baru saja kembali dari dinas di Mataram memberikan sebuah plastik kecil bertulis nama toko buku yang seringnya bertempat di beberapa bandara. Dan ternyata, isi plastik tersebut adalah tiga kartu pos manis khas Indonesia hahaha. Ah, kebahagiaan saya semakin bertambah.
Sorenya sambil mengikuti berita tentang Asian Games, kami berleyeh-leyeh bertiga di depan TV. Lalu tetiba muncul ide untuk makan malam di luar. Cari punya cari, akhirnya kami putuskan makan di sebuah kafe rumah yang tak jauh dari kosan dan masih bisa diakses dengan berjalan kaki. Rumah kafe yang kami kenal justru dari sebuah ulasan di televisi. Dan akhirnya, berangkatlah kami. Makan malam bertiga, dengan menu sapo tahu, merapi merbabu shusi, chicken roll, calamary dan onion ring. Lumayan memuaskan. Dan begitulan, 27 september indah saya berakhir.


 Senin, 29 September 2014. Rekan kerja yang weekend kemarin main ke Bandung bawa oleh-oleh (titipan sih sebenarnya haha), kartu pos khas Jawa Barat yang Indonesia sekali, dan gak tanggung-tanggung, ada 12 biji !! (saya tidak menyangka sebanyak ini, terima kasil Aul ^^). Ditambah lagi bonus perangko antik edisi Asia Afrika. Aduuuh.. membuat sempurna September ceria ini ^^

Awal Oktober 2014.
Saya baru saja memulai persahabatan pena dengan seseorang yang saya kenal dari komunitas bertukar kartu pos, seorang warga negara Jepang. Surat pertama sudah saya kirimkan sejak akhir Agustus, dan sudah diterima di awal September. Saya menanti harap-harap cemas setiap hari surat balasan yang tak kunjung tiba. Daaaan.. surat itu tiba di awal Oktober. Yang membuat saya surprise adalah Naoko-san (sahabat pena saya itu) sengaja memperlambat pengiriman surat agar bertepatan dengan hari Ulang tahun saya. Maka sebuah amplop cantik dengan susunan perangko lucu, juga kartu pos di dalamnya, memiliki cap stempel yang sama, 27 September 2014. Ah, dan saya juga dapet cake sticker hahaha.

Terima kasih,
Terima kasih banyak telah menjadi bagian dari hidupku ~~~
^^

Waspada atau Curiga ?

*gambar pinjam dari sini

(Jakarta, 09 Oktober 2014)
Kemarin itu, saya sempat panik ketika di kantor, memasang laptop dan ternyata charger atau adaptornya tidak bisa connect ke laptopnya. Saya sudah utak atik, lurus-lurusin kabel, sampe diputar-putar dengan berbagai gaya, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa si lepi menerima kehadiran chargernya. Syukurnya seorang rekan juga membawa laptop, dan rezekinya jenis chargernya sama. Akhirnya kami gantian memakai charger yang sama hingga sore.
Sorenya, sepulang kantor langsung saya niatkan untuk membeli charger laptop ke salah satu pusat perbelanjaan yang memiliki area electronic centre, langsung cari toko yang kira-kira bisa dipercaya, liat barangnya, di tes, tawar menawar, dan kemudian deal. Jadilah saya bawa pulang charger baru dan juga sebuah usb bluetooth yang memang saya cari-cari dari kemarin-kemarin tapi belum sempat beli.

Saya yang memang paling sulit mengingat arah dan dimensi ruang, sempat muter-muter dulu di lantai bawah demi mencari pintu keluar yang sama seperti yang saya gunakan untuk masuk tadi, akhirnya saya mengikuti petunjuk-petunjuk yang tertera hampir di setiap sudut atas, hingga kemudian mengikuti petunjuk ini mengantarkan saya ke blok kecil yang lumayan sepi dan agak remang, berbeda dengan blok-blok lain yang terang dan ramai penuh hiruk pikuk. Ketika saya hampir mencapai ujung lorong, sebuah tangan meraih lengan saya. Seorang mabak-mbak cantik berpakaian merah terang ala-ala SPG, dengan senyum lebar dan suara ramah ia menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang dibalut kertas kado.
“Perusahaan kami lagi promosi kak, ini kita bagi-bagi bonus dan souvenir untuk pengunjung” demikian katanya. Ketika saya nyatakan saya kan gak belanja di tokonya beliau, si mbak tadi dengan semangat menjelaskan memang mereka memberikan suvenir untuk siapa saja, bahkan pelanggan toko lain yang lewat dari depan tokonya. Saya baru mau bilang terima kasih dan berniat segera pulang ketika lengan saya ditahan dan dia ajak masuk ke dalam tokonya, di suruh duduk dan disuguhi minum. Lalu si mbak tadi mengeluarkan semacam daftar, katanya untuk pertanggung jawaban kalau suvenir yang mereka bagikan itu benar-benar diterima oleh pelanggan. Baiklah, kemudian saya tuliskan nama, daerah tempat tinggal, dan ketika tiba di nomor kontak, saya sedikit berpikir. Hmm.. saya bukan orang yang mudah memberi nomor kotaknya kepada orang lain.  Sering dapat sms berisi promo ini itu atau sms-sms aneh lain gegara pernah ngisi pulsa di counter umum lama-lama lumayan bikin sebal juga. Akhirnya saya minta maaf, dan bilang gak ngasih nomor ponsel gak apa-apa kan ya? Eh, si mbaknya mulai deh ngotot, (tapi masih dengan senyum bisnis pastinya), bilang kalau itu berhubungan dengan pekerjaan dia, berhubungan dengan karir dia. Baiklah, akhirnya saya berikan nomor ponsel saya, bukan nomor utama yang sering saya gunakan.

Ketika saya rasa semua sudah selesai dan akan beranjak ke luar, ternyata surprisenya belum selsai. Si mbak tadi pun mengeluarkan beberpa amplop kecil yang berisi kupon-kupon, katanya dari puluhan amplop itu, ada yang isinya jam tangan, kipas, atau benda-benda sejenis itulah. Dan saya di suruh milih satu. Oke, baiklah, tanpa banyak berpikir saya pilih salah satu. Kemudian dibuka oleh si mbak-nya, daaaan.. tadaaaa tulisannya adalah kupon senilai 500 ribu rupiah. Si mbak dengan mata terbelalak berulang kali menjabat tangan saya, dan kehebohannya itu kemudian mengundang beberapa rekannya (menurut saya) yang lain datang. Dalam sekejap, saya dikerubungi 4 orang yang tak henti-henti mengucapkan selamat dan memuji-muji kalau saya beruntung.
Salah seorang yang sepertinya mereka tuakan lalu duduk di depan saya, menjelaskan kalau kupon itu bisa dipakai itu bisa saya pergunakan di semua cabang toko mereka di jakarta. Untuk bisa menukarkan kupon itu, saya dimintai KTP, untuk data diri valid, katanya. Setelah memikirkan beberapa saat, saya putuskan untuk pamit saja dan tak usah mengambil kupon itu, mereka terbengong-bengong, mencoba menahan saya. Tapi karena memang hari sudah malam juga dan saya pengen segera istirahat, saya kekeuh untuk pamit saja. Mereka berempat masih terus mendesak saya, bahkan hingga ke pintu keluar. 
"Hanya butuh KTP" itu katanya. Tapi sesopan mungkin saya tolak.
Mungkin banyak yang berpikir saya sombong hahaha.
Apa saya sudah cukup kaya hingga 500 ribu tak berarti untuk saya?
Bukaaaaan
Siapa sih yang gak mau dapet barang atau uang gratisan seharga 500 ribu? Tapi ya demi mempertimbangkan ini itu saya putuskan untuk tidak mempertahankan kupon itu. Sejujurnya, saya emang bukan tipe yang ngejar-ngejar gratisan atau bonus-bonus sih :p hahaha

Beberapa pertimbangan yang membuat saya tidak jadi ambil kupon antara lain:
1.     Tokonya katanya banyak cabang di seputaran Jakarta. Tapi sama sekali gak ada plang nama toko. Gimana mau nemu cabangnya kalau nama tokonya aja gak tau?
2.     Tokonya katanya bergerak di bidang penjualan alat elektronik dan keperluan rumah tangga, laptop sama handphone juga. Tapi dari penerawangan saya, barang yang ada di dalam toko itu hanya beberapa kardus dengan gambar macam-macam, tidak ada barang fisiknya yang dipajang langsung. Dan juga, yang jelas saya ingat hanya sebuah kotak yang gambar depannya mi semacam alat korset pelangsing.
3.     Ketika pertama si mbak dengan ramah menyapa dan minta data itu saya masih fine-fine aja, tapi begitu rekannya yang lain datang dan saya berasa dikepung itu... beneran, rasanya serem banget. Di situ saya mulai berpikir ini itu, pikiran bercabang, dan insting untuk bertahan mulai muncul hahaha
4.       Ketika saya bilang mau pulang saja, ekspresi mereka itu terlihat panik, dan bahkan masih megangin tangan saya, mengikuti hingga saya sampai ke pintu keluar.
5.       Karena udah malam juga sih, jadi mikir pengen cepat istirahat hahaha

Dan  begitulah, selepas dari tempat itu, saya beristigfar. Semoga yang saya lakukan adalah langkah untuk berhati-hati, bukan penghalang untuk sampainya rezeki orang lain.


Hidup di kota yang berbagai tempat kejadian perkara kriminal terasa dekat, menjadikan insting untuk berhati-hati menjadi jauh lebih sensitif. Ketika kemudian terlalu seringnya mendengar kabar-kabar kejahatan lama kelamaan seolah membuat mati rasa, seolah itu menjadi berita biasa, dibicarakan sebentar, didiskusikan sejenak, lalu kemudian lupa sama sekali. Dan akhirnya, semakin lama, jarak antara waspada dan curiga hampir tak terlihat.

Kamis, 30 Oktober 2014

Damai yang sederhana


Sebuah pagi yang sederhana. Merapatkan jaket, menikmati segar udara Lembang. Teduh yang menyejukkan berpadu sempurna dengan kilau bulir embun. Sekuntum kamboja tergeletak di tengah hamparan hijau. Damai yang sederhana.
(Lembang, 18 Oktober 2014)

Jumat, 19 September 2014

blog dan rahasia

Suatu kali, seorang teman  pernah memergoki saya ketika akan memposting tulisan di blog. Si teman langsung berseru heran, 
“Kamu punya blog? kok gak pernah bilang-bilang? Iih.. alamatnya apa tadi?”
Tapi saya mati-matian merahasiakan, bahkan sampai sekarang.

Mungkin ada yang pernah berpikir juga kenapa saya tak pernah mengungkapkan nama asli saya atau bercerita panjang lebar secara gamblang tentang diri saya. Dan juga kenapa merahasiakan alamat blog saya sendiri kepada orang-orang lain yang dekat di sekitar saya (kecuali beberapa orang tertentu).
Tidak, bukan karena saya bermuka dua atau berusaha membuat sebuah persona baru. Hanya saja, saya takut jadi tak lepas mengungkapkan sesuatu dan harus mempertimbangkan banyak hal sebelum menulis sesuatu.

Kenapa? Karena pastinya lebih banyak orang yang membaca blog ini, akan semakin banyak hati yang harus kita jaga.  Misalkan, bisa jadi pembicaraan tentang topik X terkesan seakan menyindir si A, padahal saya sedang membicarakan tokoh lain, atau saya sedang memuji si B, lalu si C merasa tak senang karena menganggap si B adalah  musuh abadinya, atau hal-hal lain semacam itu.

Mungkin saya terdengar terlalu kekanakan, atau mungkin pengecut? Hahaha. Entahlah.
Setidaknya saya menikmati saat-saat seperti ini, ketika saya bisa menulis tentang apa yang saya ingin sampaikan, sering kali berkeluh tentang pengalaman penat hari ini, atau hal-hal lain yang bagi sebagian orang selain saya tentunya dianggap tak penting.

Karena pada dasarnya, saya membuat blog ini memang untuk bermonolog ria, atau mungkin berdialog dengan diri saya yang lain hahaha (semakin tidak jelas).


Intinya, well, saya cinta dan rindu blog ini. Walau tanpa komen pembaca, walau tanpa statisk pengunjung ^^
Seringkali kita baru menyadari keistimewaan sesuatu setelah ia berada jauh dari genggaman, padahal  sebelumnya keberadaannya dianggap yang normal, lumrah dan memang seharusnya. Lupa, bahwa bahkan hal yang kita anggap biasa itu adalah nikmat yang besar yang tak kita sadari. 

Kesehatan.


#di tengah batuk yang begitu betah bertahan, dua minggu lebih menemani. Insya Allah sudah berusaha, berbagai pendapat dan saran juga sudah dijalankan. Madu rutin, habbatussauda, sirup obat batuk, jeruk nipis dan kecap, permen pelega tenggorokan. Tapi sepertinya batuk ini cukup ampuh. 
Ada ide lain?

Kamis, 18 September 2014

Kartu pos

Seperti  yang sejak dulu saya dengung-dengungkan, kecintaan saya akan surat dan segala hal tentangnya masih tak padam, makin bertambah malah.
Nah, beruntung sekali ketika beberapa bulan lalu nge-blog walking ke salah satu blog seorang mbak yang merupakan kontak blogger dari seorang mas temennya kakak kelas yang merupakan temennya kak kos saya (bingung kan? jadi, kak kos saya punya teman, temannya punya teman yang lain, nah si temen yang lain ini punya blog, salah satu kontak blognya itu si mbak yang saya maksudkan. Paham? begitulah pokoknya). Intinya, tiba2 saja saya terdampar di blog tersebut. Dan di blog itu mereka ramai berbicara tentang satu hal. Kartu pos.

Waaaaw.. saya sudah excited duluan selama membaca posting dan berbagai komen tentang kartu pos ini. Jadi ternyata, saya baru tau kalau ada komunitas yang kembali menghidupkan seni saling berkirim kartu pos. Jargon dari komunitas tersebut adalah, “send a postcard and recieve a postcard back from a random person in the world!”

Jadi, komunitas ini tuh global, lintas negara, dan membayangkan kemungkinan mendapat kiriman kartu pos dari seseorang entah siapa di negara antah berantah itu membuat saya tertarik, excited tak terkira. Akhirnya hari itu juga saya daftar  jadi member, langsung nyari tau segala hal tentang kartu pos, dan nyari info tempat membeli kartu pos di Jakarta. Dan ternyataaaa infonya berserakan di internet, banyaak sekali komunitas pecinta kartu pos ini di Indonesia, bahkan yang khusus hanya untuk sesama Indonesia pun ada. Weewww kemana saja saya selama ini?

And then, Let's start this postcrossing thing !! Saya mulai mengirim kartu pos, dan deg-degan menanti notifikasi bahwa kartu pos saya sudah diterima dengan selamat kepada orang yang dituju.

Kalau ada yang bertanya,
"Apa asyiknya mengirim kartu pos di zaman canggih yang bahkan menghubungi seseorang di Amerika dengan jarak belasan ribu km bisa dilakukan sepersekian detik lewat surat elektronik?" 
Memang, mengirim kartu pos itu pasti memakan waktu lama, belum kemungkinan kartu posnya keselip, atau bahkan salah kirim ke negara lain. Tapi, justru di situ seninya. Masa-masa menunggu sambil harap-harap cemas kartu pos yang kita kirimkan akan sampai dan diterima orang yang dituju itu punya sensasi sendiri. Belum lagi, setiap malam ketika pulang kantor, sesekali bertanya ke ibu kos ada surat atau kartu pos yang dikirim ke kosan atau tidak? Ah, setidaknya itu salah satu penawar kepenatan.

Seperti kemarin, setelah seharian sibuk di kantor, sesampainya di kosan, saya dapat kejutan ketika sebuah kartu pos dialamatkan untuk saya. Dari Lauren, seseorang nun jauh di Illinois sana, sebuah desa pertanian di sekitar Chicago yang bercerita tentang daerahnya yang tenang, dimana sungai Missisipi mengalir indah, dan pemandangan burung yang silih berganti terjun ke sungai untuk mencari ikan adalah sesuatu yang biasa. Dan sebentar lagi, akan ada panen pumpkin dan squash. Membaca postcard itu mau tak mau membuat saya tersenyum. Saya tak kenal dengan Lauren, belum pernah ke luar negeri, apalagi tempat sejauh Chicago, tapi mendapat kiriman kartu pos dengan cerita seperti itu, entah mengapa rasanya saya merasa dekat, dekat sekali.

*postcard dari Lauren, entah mengapa saya jauh lebih tertarik dengan sisi Tulisan dibanding gambarnya hehehe

Sejauh ini, saya sudah mengirimkan delapan kartu pos. Tiga diantaranya sudah resmi diterima dan sampai di tangan si yang dituju, Jerman, Taiwan dan China. Sementara kartu pos yang di alamatkan ke Belarus, Canda, US, Jerman dan Rusia masih dalam perjalanan.

Beberapa kartu pos yang saya kirimkan :

*postcard untuk Diana, Jerman

 *postcard untuk Tanya, Belarus

 *postcard untuk Yi Ting, Taiwan

 *postcard untuk Olya, Rusia

*postcard untuk MIke, US

Sedangkan kartu pos resmi yang saya terima berdasarkan sistem, baru satu, dari Lauren di Illinois, Chigago. Yang tidak resmi atau direct swap ada 2, dari Mbak Tintin di Bandung, dan Dinda di Semarang.

saya merasa menemukan mainan baru, stress release yang menyenangkan. Dan entah mengapa akhir-akhir ini saya jadi tertarik membuatkan mailbox khusus untuk dipajang di pagar depan kosan hehehe


Bagi yang ingin tahu lebih banyak atau tertarik bergabung, silahkan intip-intip di postcrossing.com ^^
Share the happiness, send and recieve a postcard to and from a random people in the world. 
Happy postcrossing !!

Senin, 11 Agustus 2014

hujan

"Some people feel the rain. The other just get wet"

Baru saja sorenya saya membaca kalimat itu di blog seseorang (maaf, saya benar-benar lupa blog siapa yg mencantumkan kalimat itu -,-"), dan sorenya, Jakarta diberkahi dengan hujan yang menderas, tumpah tanpa malu-malu.

*gambar pinjam dari sini

Sekeluarnya dari kantor, saya segera menuju ke persimpangan tempat saya biasa menunggu metromini yang membawa saya ke kosan. Tak sengaja bertemu dengan sahabat yang juga teman kos saya. Kami bercakap sejenak, dan tak terasa, tetes-tetes gerimis sebesar jagung berjatuhan. Saya yang tak membawa payung panik, bukan karena takut basah, tapi di tas saya penuh benda-benda elektronik semacam laptop, modem, dan ponsel yang sensitif terhadap air. Untungnya si kawan membawa payung, jadilah kami berpayung berdua dengan romantisnya sementara hujan turun deras tercurah.
Turun dari metromini, bukannya mereda, limpahan air itu justru semakin banyak, langit dengan murah hati menghadiahkan air tak habis-habis untuk bumi. Dan kami sampai di kosan tertawa-tawa, dalam keadaan basah sebasah-basahnya, sampai ke dalam-dalam. Laptop saya juga basah, untungnya saya dobel dengan tas notebook, sehingga walau tasnya basah tapi laptopnya masih bisa dinyalakan.

Saya suka hujan, sebenarnya. Hanya, kalau jiwa egois saya boleh memilih,
Tuhan, saya meminta hujannya sore hari saja ya, karena sampai di kantor pagi hari dengan basah kuyup itu bisa merusak banyak hal ^^

Kamis, 07 Agustus 2014

Sore yang sedikit temaram di meja pojokan tempat saya duduk. 
Hampir  empat bulan di tempat ini, baru kali ini sore terasa seindah ini. Ketika matahari berwarna jingga dan memantulkan cahaya lembut tetapi tegas lewat kisi-kisi jendela kaca.
Senang melihat separuh meja saya bersinar, dan separuhnya lagi tertutup bayangan.
Di depan sana, kubah Istiqlal tampak indah dan misterius. Seperti gambar-gambar indah kota Venice yang pernah terlihat di sebuah kartu pos.

Satu hal yang sangat saya sesalkan saat ini adalah tak punya kamera, dan ponsel tertinggal di kosan. Tak bisa mengabadikan momen yang menurut saya langka ini.

Lupa

Aku takut lupa.
Mungkin sekarang masih bisa dengan mudah mengingat wajah-wajah. Masih bisa dengan mudah merapal nama-nama. Tapi otak juga punya kapasitas. Ketika intensitas bertemu tak sebanyak dulu, mungkin sedikit demi sedikit prioritas tergeser. Dan bisa jadi, akan ada waktu, dimana bahkan untuk memanggil nama pun aku harus berpikir dalam, mencoba mencari di ruang mana ingatan itu tersimpan.
Sungguh, betapa aku takut suatu saat akan lupa.


Kalian, adakah pernah berpikir seperti itu?

hujan di awal Agustus, sebuah pemadangan dari jendela 
di rumah Paman, @Bukittinggi