Jumat, 12 Februari 2016

Namanya Permata


Namanya Permata.
Bukan nama sebenarnya, walau nama aslinya memang masih tak jauh dari defenisi berbagai batu berharga itu

Namanya Permata.
Aku mengenalnya sepuluh tahun yang lalu. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di ruang segi-empat yang sehari-harinya dihuni dua puluh empat orang. Bersama sejak matahari bahkan belum penuh benar hadirnya, hingga senja ketika matahari akan bersiap pulang.

Namanya Permata.
Dan seperti namanya, ia memang istimewa sejak dulu. Ia orang yang dengan mudah dekat dengan siapapun. Ia orang yang dengan santainya bercanda dengan guru yang galaknya saja membuat murid-murid memilih memutar jalan jika berpapasan. Ia orang yang dengan riangnya tertawa dan berlari macam anak kecil, bergelantungan di jerajak pintu tanpa sadar berat bobotnya (V_V), yang berlari saling mengejar di lapangan sekolah yang luas hanya karena hal sepele dan kekanakan, yang dalam diamnya menyimpan banyak rahasia karena hampir semua makhluk di ruang segi-empat itu kadung nyaman dan percaya padanya untuk bercerita segala hal.

Namanya Permata.
Dan seperti permata, kemampuannya tak bisa kau pandang sebelah mata. Berturut-turut ia buktikan bahwa level otaknya jauh di atas, di kasta kaum bangsawan. Namun hal itu sama sekali tak membuatnya merasa duduk di dunia berbeda. Tatkala hampir semua dari kami penghuni ruang segi empat itu memilih untuk konsentrasi ke ruang lain demi mempersiapkan tempat yang lebih baik setelah pergi dengan terhormat dari ruang segi-empat itu, dia mungkin satu-satunya orang yang memilih tak kemana-mana, cukup menekuni barisan kata seorang diri. Self learning kalau bahasa kekiniannya. Dan, ketika hari pengumuman ruang baru yang menentukan hidup itu terjadi, nyatanya dia menjadi bagian dari sebagian kami yang tersenyum sumringah. Sekali lagi, semakin dia membuktikan bahwa memang pantas ia bernama Permata.

Namanya Permata.
Dan seperti hal-nya permata yang harus melalui banyak tempaan sebelum sepenuhnya bersinar, ia pun demikian. Usia belasan tahun, ayahnya berpulang karena ulah dari beberapa orang jahat, meninggalkan ia, ibu, serta saudara-saudara yang juga terkena dampak tulah jahat itu. Sejak itu, wajahnya semakin pucat, dan pada beberapa kesempatan kesehatannya tampak menurun. Tapi sekali lagi, bukan permata jika ia berhenti bersinar.
Beberapa bulan sejak kami semua resmi meninggalkan ruang segi-empat itu dan berpencar pada ruang-ruang lain di penjuru negeri, lewat sebuah pesan singkat dari teman yang lain kudengar kabar duka. Ibunya, telah pergi menyusul ayahnya. Satu hal yang hingga kini masih susah kupahami adalah aku benar-benar terdiam. Tidak merasa berani untuk menghubungi mengucapkan turut berduka, bahkan walau hanya sekedar lewat pesan singkat. Berita itu justru segera kukabarkan pada orang rumah, yang besoknya kemudian hadir ke sana. Dia terlihat tegar kata mereka.
Sejak itu, dia dan saudaranya yang lebih tua menjadi tonggak mengepul tidaknya dapur mereka. Tapi itu tetap tak bisa memadamkan sinar yang terpancar, dia tetap riang, tetap seperti dulu. Tak sekalipun menyisakan kelabu awan dalam setiap perjumpaan. Iya, dia kuat seperti permata.

Namanya Permata.
Bertemu dengannya hanya beberapa kali dalam setahun. Komunikasi pun tak serutin orang lain, dia paham mungkin jika aku adalah orang yang kikuk dalam hal satu ini. Tapi setiap kali bertemu, kami tak bosan berbincang bahkan sehari semalam. Terakhir bertemu, dua minggu yang lalu, kami bercakap-cakap sejak pukul sepuluh pagi, jeda sholat dzuhur, berpindah tempat makan sambil mengobrol, jeda sholat ashar, lanjut berbincang hingga maghrib, pindah tempat nongkrong, lanjut bercakap sambil makan malam, hingga kemudian pulang ke kontrakannya dan terus berbagi cerita hingga adzan shubuh menjelang. Orang bilang, diam itu emas, tapi terkadang dengan bersuara dapat juga membuatmu memperoleh intan :D

Namanya Permata.

Dan sungguh betapa aku bangga mengatakan bahwa aku tahu, kenal, dan dekat dengannya ^^


untuk kamu yang dilahirkan di akhir Januari dan selalu menginspirasi semua orang.

Rabu, 20 Januari 2016

Tamu di rumah sendiri

"Children all become guest as they get grow up"
Merasa tergelitik dengan qoute di atas ketika sedang menonton drama tadi malam. Berawal dari si tokoh yang pulang ke rumah dan akan kembali lagi ke asramanya di kota lain, saat ia pamitan ingin berpisah, orangtuanya mengantarkan sampai di pintu, dan berpesan ini itu, hingga si tokoh hanya bisa tersenyum dan berkata, “Iya.. iya.. aku selalu pulang kan? Kenapa aku diperlakukan seperti tamu?” dan ibunya menjawab, “semua anak yang telah dewasa akan menjadi tamu di rumahnya sendiri.”

Kalau boleh berpendapat, saya mungkin setuju, atau setidaknya merasakan apa yang dimaksud si ibu dalam drama ini.

Saya mulai tinggal jauh dari rumah sejak usia dua belas tahun, kelas 1 SMP. Hidup dan tinggal di asrama, hanya bisa pulang sekali dalam dua minggu, itupun hanya dalam lima jam saja, mulai jam sepuluh pagi hingga jam tiga sore. Tiap kali pulang dalam dua minggu, di rumah sudah disiapkan masakan istimewa, istimewa karena makanan favorit saya (kecuali tumis tahu atau rebus pakis dianggap menu istimewa bagi orang lain hahaha). Juga sudah disiapkan buah apel (yang kala itu semacam buah yang sangat eksklusif) untuk ransum selama di asrama nanti.

Lepas dari masa bersekolah, tahun-tahun menyelesaikan kuliah pun saya lalui di Ibukota, sekian ratus kilometer jaraknya dari rumah. Hingga saat mulai bekerja, harapan untuk setidaknya bekerja di kota dengan jarak tempuh ke rumah bisa dilalu tiap akhir pekan tak kesampaian .

Tinggal jauh dari rumah seperti masa sekarang ini hanya memberikan kesempatan untuk pulang setidaknya sekali dalam empat atau lima bulan. Pun tidak bisa berlama-lama karena dibatasi oleh jatah cuti tahunan untuk pekerja gajian macam saya. Maka bersyukurlah orang-orang yang setiap pagi masih terbangun oleh gedoran cerewet atau nasihat tak henti orang tua, beruntunglah orang yang  mungkin merasa jengkel karena dipaksa makan acap kali dan disuruh tak pilih-pilih makan (macam anak kecil saja), dan berbahagialah engkau mahasiswa yang masih bisa menghabiskan berbulan waktu dengan leyeh-leyeh di rumah :D

Seringkali iri menyambangi kala menelepon ke rumah dan terdengar ramai suara di seberang sana. Ketika mereka tertawa-tawa atas hal lucu yang mungkin terjadi di rumah belakangan, ketika ibu marah-marah kepada abang dan saya hanya diam mendengarkan lewat telepon, ketika mereka mengobrol atau mengeluh sesama mereka tentang sayur hari ini yang keasinan atau telur dadar yang gosong, atau hal-hal kecil seperti keran yang sedang rusak, atau remote TV yang hilang entah kemana. Rasanya iri, iri sekali. Saya seolah merasa jadi orang luar yang tidak tahu apa-apa.

Masa-masa pulang ke rumah semakin menegaskan bahwa mungkin saya mulai dianggap tamu. Dua jam pertama biasanya kami habiskan dengan bercerita, kemudian saya makan, lalu beranjak ke wastafel tempat mencuci piring. Dan rutinitas saya setiap pulang ke rumah tiga tahun belakangan adalah, langsung membersihkan kerak-kerak kotoran di keramik wastafel, yang langsung diprotes oleh ibu dan bapak (terutama bapak). Saya pasti disuruh tidur, istirahat, ditanyain mau makan apa saja selama di rumah, ditanyain apa saja yang perlu diurus selagi di rumah, ditanyain ada sakit atau apa yang perlu diperiksakan ke dokter selagi di rumah. Saya senang, pastinya. Tapi mungkin lebih bahagia lagi kalau bisa pulang lebih sering.

Tapi apapun, rasa syukur tetap harus dinomorsatukan. Saya tau banyak orang yang berharap sebaliknya. Yang ingin merasakan hidup mandiri di kota lain tapi tidak diizinkan, yang ingin berkuliah di kampus jauh tapi tak direstui, atau mungkin yang ingin setidaknya tinggal berjarak dari rumah agar kehadirannya lebih dirasakan, dan tentu agar ada momen untuk “pulang”.


Ayo kita pulang, selagi ada waktu, kesehatan, dan kesempatan.

Selasa, 19 Januari 2016

Petrichor, Simfoni Hujan

Kamu tahu apa itu petrichor? Iya, memang terdengar aneh dan rumit. Mungkin akan mengingatkanmu pada buku kimia dan perpustakaan, atau bisa jadi guru eksakta jaman SMA yang galak. Tapi aku tidak sedang ingin membahas nostalgia masa belajar itu sekarang.

Keisengan yang timbul akibat hujan deras sore ini mengantarkanku pada berbagai jendela laman yang membahas bau harum yang ditimbulkan hujan. Dan salah satu bau itu disebut Petrichor. Kata Petrichor sendiri diciptakan oleh dua ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan R.G. Thomas pada tahun 1964. Penelitian mereka tentang aroma hujan kemudian dipublikasikan di jurnal Nature “Nature of Agrillaceous Odor”. Petrichor berasal dari kata petra yang berarti “batu” dan ichor yang berarti “darah dewa”, keduanya adalah bahasa Yunani.

Petrichor utamanya disebabkan oleh dua hal, yaitu minyak yang menguap dari tumbuhan dan geosmin yang dilepaskan oleh mikroba. Tumbuhan mengeluarkan sejenis minyak yang mudah menguap, minyak tersebut bereaksi dengan tetesan hujan dan dilepaskan sebagai gas ke udara. Sedangkan geosmin adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh beberapa mikroba yang hidup di tanah, air tawar, dan air laut. Geosmin dilepaskan ketika mikroba mati, dan saat terkena terpaan air hujan, geosmin terangkat ke udara dan terciptalah aerosol partikel geosmin dalam udara. Geosmin juga menjadi penyebab ikan air tawar seringkali berbau seperti tanah.

Aku tidak tahu banyak sih tentang Petrichor. Tapi cukuplah menjadi semacam bukti, bahwa bahkan sensasi melankolis sehabis hujan pun ternyata didasari fakta-fakta ilmiah yang menarik jika kita mencari tahu.

Kapan-kapan, mungkin akan aku ceritakan padamu tentang pluviophile dan nyctophilia.



Dari berbagai sumber



Hallo, Tuan
Sore ini mendung. Walau siang tadi mentari seakan begitu bersemangat membagi cahaya. Peluh menetes, makan terasa lebih nikmat di cuaca ini apalagi sambal yang pedasnya mendukung untuk berkeringat lebih.

Hallo, Tuan
Sore ini hujan. Mendung yang tadi menggelantung segera berubah jadi gelap yang menyeruak. Bunyi deras hujan dan gelegar guntur terdengar jelas dari lantai sebelas ini. Sekali lagi, mungkin menunggu sejenak untuk dapat kembali ke surga 3x2,5 meter itu.

Hallo, Tuan
Lama aku tak mengunjungi. Pun kau berbulan tak menyapa. Hanya memori lama yang terus kuputar. Terlalu sering hingga bahkan aku hafal detik, jeda, bahkan hela nafas.

Hallo, Tuan
Hujannya mulai mereda. Cepat sekali ternyata. Hanya butuh waktu untuk menyelesaikan satu tulisan serabutan ini. Dan aku mulai berasumsi di luar nalar lagi, bahwa Tuhan mengirimkan hujan untuk menyentak orang-orang yang terpisah agar merindu.

Hallo, Tuan

Sepertinya aku akan bersiap pulang.

(Masih tentang) Palembang, dalam lensa 5 MP

Jumat, 8 Januari 2015
Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta dalam taksi putih, senja menjelang. 


 Scrapbook apa adanya, yang diselesaikan di sela-sela menunggu dan selama penerbangan (dan dibungkus apa adanya dengan kertas kado tanpa gunting, akibat gunting yang kita sediakan disita di counter X-Ray Bandara hahahahaha)


 Salah satu ikon Plaembang, masih di sekitaran pinggir Sungai Musi. Sayangnya cuma bisa foto2 benteng luarnya :D


 Jembatan Ampera yang cerah tetapi mendung ^^


 Di kejauhan tampak Pasar 16 Ilir, pasar grosir dan tempat semua jurusan angkot bermuara


 Tongkang milik PT PUSRI


 Pulao Kemaro. Samar-samar terlihat penampakan klenteng dan Pagoda.


Jalan dermaga Pulau Kemaro


 Tangga Naga (kyaaaa Nagaaaaa *salah fokus)


 Penampakan Pagoda (sayangnya tidak bisa ambil foto dari angle lebih kece, antriiiiii mak oii...)


 Patung Budha Emas yang jadi salah satu ikon Pulau Kemaro


 Legenda Pulau Kemaro. Dan....kok ternyata agak serem ya... -_______- hahahahaha


 Soemantri Brodjonegoro? Ini Kapalnya keluarga Pak Menteri?? Numpang Pak....


 Bapak navigator ini sejak berangkat posenya gak nahanin.. Fotogenik sekali hahahaha


 Jembatan Ampera di malam hari. Jauh lebih indah bila dilihat langsung (maklumi kamera ponsel)


 Pasar malam di pinggiran Sungai Musi. Hampir naik Kora-Kora dan Bianglala, tapi berhubung naik bianglalanya harus 4 orang, gak jadi deh (pengalaman krik krik krik naik bianglala di Dufan dan jadinya malah nontonin org pacaran hahahaha)


 Yeayyy akhirnya resmi ke Palembang setelah makan Pempek Vico (setelah sebelumnya melakukan hal konyol, nungguin tokonya buka dari depan PIM hingga jam 10-an, padahal ternyata udah buka dari tadi, yang baru buka itu toko khusus kemplang dan kerupuk -__-")


Angkot Palembang yang unik. Semua penumpang menghadap depan dengan tiga baris tempat duduk. Irit kata karena kalau mau turun tinggal pencet bel yang ada di kiri-kanan penumpang.
Dua hari di Palembang kami sudah hafal rute-rute angkot, dan beneran jelajah Palembang bermodalkan angkot hahahaha. Terima kasih untuk Palembang yang ramah sekali terhadap angkoters :D.
gambar ambil dari sini (gak sempat foto hehehe)


Pengalaman yang menyenangkan di Palembang. Sayangnya belum sempat mengunjungi Galeri Al-qur-an Akbar di Pesantren Al-Ihsaniah, Gandus, yang menyimpan ukiran-ukiran raksasa Alqur-an 30 juz, juga Hutan Wisata Punti Kayu (yang kata mertuanya pengantin adalah tempat jin buang anak hahahahaha). Semoga ada kesempatan berikutnya untuk menyambangi dua tempat yang belum sempat dikunjungi ^^

Terima kasih Palembang atas pengalaman yang menyenangkan :D

Senin, 18 Januari 2016

Bapak tua di dekat Kosan

Jakarta, 23 November 2015

Di dekat kosan, jarak satu rumah ke arah kiri, tepatnya di samping rumah pak RT, di teras depan pagar rumah itu, setiap malam selalu ditempati oleh seorang bapak. Seorang bapak yan telah sepuh. Dari perawakannya, kutebak berumur 50 atau 60-an.

Bapak ini biasanya hanya duduk diam sambil memeluk lutut. Jarang kulihat si bapak berinteraksi dengan orang sekitar. Di sebelah kirinya ada tas plastik besar yang lagi-lagi kutebak berisi semua harta benda yang dimiliki si bapak.

Tidak tahu sejak kapan bapak itu ada di sana, lama-lama kami jadi terbiasa dengan adanya beliau. Tiap berangkat pagi menuju kantor, si bapak tidak di “tempat tidur” nya, tapi di jalan depan yang lebih ramai. Duduk di pinggir jalan, memeluk lutut, dan di depannya sebuah toples plastik kosong, namun sepertinya belum pernah kulihat bapak itu menengadahkan tangan ke orang-orang yang lewat. Beliau hanya duduk diam, sambil memandang kosong, memeluk lutut. Malamnya, sepulang dari kantor, sebelum membuka pagar, selalu ada bapak tersebut, sudah di “tempat tidur”nya, terkadang sudah meringkuk tertidur, di kala lain masih duduk tegak sambil mengipas-ngipas, mungkin kegerahan.
Beberapa kali kami pernah bertanya-tanya tentang bapak tadi. Kasian tidur nya di sana, mandinya bagaimana ya? Dan seterusnya.

Dan rasa iba kian bertambah ketika salah seorang anak kosan mendapatkan info bahwa bapak tersebut dulunya punya rumah, tidak jauh dari tempat kami kos, beda kelurahan saja. Rumah tersebut entah bagaimana ceritanya akhirnya ditempati anaknya, yang singkat cerita akhirnya mengusir si bapak tadi. Hingga kemudian bapak tersebut mencari tempat tinggal lain, dan berakhir di teras depan sekitar kos kami.

Beberapa kali sepulang rapat, atau ketika ada makanan kotak di kantor, kusempatkan untuk bawa pulang, lalu pelan-pelan saya letakkan di samping bapak yang sudah terlelap, dan buru-buru pergi takut bapaknya terbangun. Beberapa kali begitu, hingga Ramadhan lalu, ketika membeli pakaian untuk oleh-oleh orang rumah, saat memilihkan kemeja untuk bapak, tiba-tiba teringat bapak itu, akhirnya saya belikan beberapa pasang yang lain dengan ukuran berbeda. Pun ketika Ramadhan kemarin saya mengikuti diklat dan kami diberi fasilitas yang lumayan, saat sendal2 yang dibagikan sama sekali tak dilirik oleh peserta diklat, saya tiba-tiba teringat bapak tadi lagi, akhirnya saya bawa pulang dua pasang sendal itu. Si bapak tersenyum, dan untuk pertama kalinya saya mendengar suara beliau. Sebuah ucapan terima kasih.

Seminggu ini ada yang berbeda.
Saya pulang kosan dan tidak melihat beliau tertidur seperti biasanya. Berangkat pagi pun, tidak melihat beliau di pinggir jalan tempat bisas beliau duduk. Awalnya saya berpikir beliau mungkin lagi mandi, mungkin sedang kemana. Tapi sekarang, sudah lebih seminggu dan sama sekali tidak terlihat keberadaan beliau. Teras kecil itu kosong, hanya menyisakan karung putih yang selalu ada di situ sejak dulu, mungkin milik beliau. Ingin bertanya, tapi bingung pada siapa.

Ah, yang pasti, tiba-tiba ada yang aneh. mungkin semacam kehilangan karena ada rutinitas yang berbeda.

Semoga beliau ada di tempat yang lebih baik. Semoga sekarang sedang berkumpul dengan keluarganya. Aamin...

Jumat, 15 Januari 2016

Palembang, you called it bestfriend’s wedding

Akhir november, kabar bahagia itu tiba. Belum ramai dibicarakan memang, karna hanya sekadar bisik lirih yang kau tujukan pada kami berdua. Merencanakan perjalanan ke tanah Sriwijaya. Tempat yang baru, pengalaman baru.

Akhir Desember, tiket Jakarta–Palembang dan Palembang-Jakarta sudah di tangan. Penginapan sudah diurus oleh sang “bride to be”. Tinggal menunggu hari untuk berangkat sembari merencanakan akan dihabiskan kemana saja waktu 2 hari itu.

Jumat Malam, 8 Januari 2016. Hujan menyambut kami di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Masih pukul 21.20, tapi suasana sudah sangat lengang. Entah penerbangan JT-332 itu merupakan penerbangan terakhir atau tidak. Seorang juru mudi taksi menawarkan jasa, maka menumpang taksi berwarna putih dengan lambang koperasi itu lah kami menuju pusat kota, ke tampat yang sebelumnya sudah diberitahu oleh sang tuan rumah.

Empat puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pusat kota, persis di depan rumah yang esoknya akan menjadi tempat akad nikah. Disambut payung dan beberapa anggota keluarga calon mempelai pria, kami digiring menuju rumah, dihidangkan makan malam (yang mau tak mau harus dinikmati walau sudah kenyang). Bercakap sejenak sembari menunggu hujan sedikit lebih bersahabat. Diantar calon mempelai pria, kami berangkat menuju penginapan. Sang calon mempelai wanita? Sudah dipingit, disuruh beristirahat untuk menyiapkan diri menghadapi hari yang panjang esok :D

Sabtu, 9 Januari 2016.
Kami tiba di tempat akad pukul 07.40, persis beberapa menit sebelum persiapan pelaksanaan akad nikah dimulai. Maka kami turut berkerumum bersama keluarga besar kedua mempelai, menjadi saksi mitshaqan ghalizha, janji yang berat itu terucap (setelah sebelumnya mengintip ke kamar tempat sang mempelai wanita sedang dirias).

Pukul 08.10
wajah-wajah bahagia begitu kata “sah” terucap semeakin berseri tatkala mempelai wanita akhirnya muncul dan bergabung, mengambil tempat di sebelah suami (sudah jadi suami :D). Selanjutnya, prosesi adat suap-suapan dan cacap oleh keluarga kedua pihak. Dilanjutkan dengan resepsi beberapa jam kemudian.



Aku melihat kembali foto-foto yang menggunung di galeri ponsel. Semacam balas dendam selama berkawan lima tahun ini tidak banyak menyimpan foto masing-masing atau bahkan foto bersama, maka momen berbahagiamu kemarin agaknya hampir terekam tiap detiknya lewat bingkai kamera, walau hanya dengan ponsel beresolusi 5 megapixel ini.

Dan aku tersenyum lagi, melihat wajah-wajah bahagia itu tertawa saat prosesi suap-suapan dan segala kekikukan kalian. Dan aku terharu lagi, mengenang keramahan keluarga besar kalian menyambut kami, tamu yang hanya menumpang sejenak tapi bahkan ikut dalam rombongan keluarga pria menyerahkan hantaran (sebenarnya kita ini di pihak keluarga pengantin pria apa wanita sih? Hahahaha)

Dan aku, kembali ingin menangis lagi, entahlah aku pun tak tahu kenapa harus menangis di hari yang pastinya semua harusnya berbahagia. Mari kita simpulkan saja bahwa tangis itu tangis bahagia, mungkin, hahahahahaha.

Barakallahulakuma wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoiir.
Selamat untuk kalian. Semoga rahmat Allah selalu menyertai.


Selasa, 12 Januari 2016

Sedap malam datang mengadu pada bunga matahari
Mengeluh pada Mentari yang katanya datang terlalu cepat dan jengah untuk segera pulang di senja yang cerah

Bunga matahari datang bercerita pada sedap malam
Protes mengapa mendung seringkali mengganggunya menikmati cahaya siang, mulai kesal pada senja yang menjemput lebih cepat di hari-hari hujan

Sedap malam dan bunga matahari tinggal berdampingan. Tapi berbeda rasa dan kepentingan.
Mereka saling bercerita, untuk saling memahami, mungkin. Tapi diam-diam, bisa jadi ada sakit yang terpelihara di jiwa kekanakan mereka.

Jumat, 08 Januari 2016

Setelah tiga tahun, tanya yang mengendap itu akhirnya menguap
Beroleh jawaban atas duga dan segala asumsi.
Dan lihatlah, betapa lega dada ini ketika keraguan memang sejatinya hanya penambah gamang


Medan, 2 Desember 2015

Rabu, 06 Januari 2016

jalan menuju ikhlas

Cukuplah di belakang layar.
Tak mengapa dirimu tak tampak, tak mengapa tepuk tangan tak ditujukan pada engkau, tak mengapa namamu tak disebut atau mungkin diingat.
Tak mengapa. 
Kau, masih tertatih belajar tentang ikhlas kan?
Inilah salah satu jalannya, mungkin sedikit berbatu, tapi tak apa.
Tujuanmu kan ada di depan sana.

Sedikit berlelah tak mengapa. 
Peluh itu menambah nikmat perjuangan kan?