Selasa, 20 Oktober 2015

Tabungan rindu

Sekian ratus hari kutabung rindu ini. Sedikit demi sedikit, mengumpulkannya dengan sabar
Berpuluh minggu kutabung rindu ini, menyimpannya rapi, dalam segelas toples kaca warna warni.
Kala akhir pekanku tak berlalu dengan dinamis, cukup puas aku menghabiskan pagi ke siang, siang ke malam, memandangi tabungan rindu yang semakin menggemuk.

Tabungan rinduku hampir penuh, dan kini aku terjebak dalam bimbang antara melepasnya atau kembali mencari toples kosong yang lain.

Duh, aku rindu.

Kata mereka, terkadang  kita sangat merindukan seseorang atau sebuah tempat, tapi memutuskan untuk tak menengoknya demi memelihara kerinduan itu*. Mungkin karena itu, ataukah mungkin karena aku aku terlalu takut tabungan rindu yang dengan pelan-pelan kusimpan ternyata hanya debu kosong yang tak bisa ditebus dengan apa-apa.


Tabungan rindu ini, kuncinya masih kau simpan, bukan?


*Quotes dari Tasaro GK

Jumat, 16 Oktober 2015

Aku kembali menyurati kamu, mengabari rindu


Pagi ini, entah karena apa aku tetiba ingin kembali berkirim kabar padamu
Tidak lewat sapa hangat suara di saluran telepon, atau bantuan cepat pesan singkat, atau bahkan berbagai aplikasi komunikasi yang dalam sepersekian detik dapat terkirim ke berbagai penjuru dunia.

Pagi ini, aku ingin berkirim kabar padamu seperti dulu
Seperti romantisme klasik yang kata orang sudah ketinggalan jaman
Lewat kertas harum yang kini sudah mulai ditinggalkan,
Lewat senyum hangat pak pos yang kini dering sepedanya tak lagi terdengar, digantikan deru motor dan abu yang beterbangan di belakangnya.
Pagi ini, aku ingin berkirim kabar padamu.

"Apa kabar, kamu?
aku rindu"

Sreeet.. kusobek kertas itu. Terlalu blak-blakan, terlalu singkat, terlalu to the point.

"Selamat pagi, kamu, cuaca akhir-akhir ini mulai mendung ya? huj...."

Aaah.. cuaca? Klise.. klise sekai.. topik cuaca hanya akan dibawakan oleh orang-orang yang kehabisan topik untuk dibicarakan.

"Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku harap kamu sehat dan baik-baik saja.
Kamu masih bekerja hingga larut malam kah?
Masih suka makan seadanya karena malas keluar rumah?
Hati-hati dengan makananmu, kemarin itu aku sempat baca berita di internet, ada orang yang terkena kanker karena terlalu sering makan mie instan, ada yang terkena radang tenggorokan karena terlalu suka gorengan (apalagi cireng!) bahkan ada juga yang terkena insomnia akut dan tak bisa tidur berbulan-bulan karena kecanduan kopi..
Aku dengar jug..."

Hhh.. kupandangi lagi kertas itu, kuremas menjadi bulatan kecil lalu melemparkan ke kotak sampah dekat pintu. Surat barusan terdengar teralu detail, terlalu personal, terlalu mengikat, dan lebih-lebih, terdengar seperti ocehan seorang kekasih yang terlalu posesif (yang tentu saja, bukan)

Kugaruk kepala yang tidak gatal. Tak ku sangka sesusah ini hanya untuk sekedar berkabar padamu.

Kuambil kertas baru.

"Apa kabar, kamu?"

Gerak tanganku berhenti sejenak


"Aku rindu."

Selasa, 06 Oktober 2015

Kamu

Banyak orang yang bilang kamu terlihat berbeda ketika sedang bekerja. Katanya kamu tidak seperti kamu. Tapi banyak juga yang mengatakan bahwa kamu yang sesungguhnya adalah kamu dengan wajah serius dan berkharisma, sedangkan kamu yang berambut acak, kaos oblong dan terlihat santai bukanlah kamu yang sesungguhnya.

Karena itu, mereka ramai berdebat yang mana kamu yang sesungguhnya. Persona, kata mereka.

Meski kamu punya dua nama dan (mungkin) dua persona, bagiku kamu tetap kamu.  Sorot matamu tetap sorot mata itu, sorot mata penuh defensif, percaya diri, tapi juga menyiratkan kesepian.

Tapi malam ini aku melihat ekspresi lain yang terpancar dari matamu. Sorot teduh dan melindungi. Sorot mata  canggung tapi penuh kasih.
Sorot mata kebapakan.


Ah, kamu :D

Kamis, 17 September 2015

Radio. Buku. Kopi.

Radio.
Radio membantuku bernostalgia.
Melemparkan ke beberapa masa yang dulu lewat lantunan irama-irama yang terlalu familiar.
Lewat lirik-lirik yang kadung hafal di luar kepala, bahkan secara tak sadar melantunkan perlahan tanpa perintah otak.
Radio menyembunyikan sepiku dalam tawa cekikik dan sahut menyahut riang penyiar.
Radio menjadi pengganti nina bobo yang kuperlukan saban hari tatkala penyakit susah tidur menerpa, tatkala kasak kusuk guling sana guling sini tak jua berhasil mengantar tidur. Radio menjadi semacam nyanyian sebelum tidur, yang perlahan mengantar terlelap.

Buku.
Buku membawaku ke dunia lain. Kehidupan yang tampak jauh lebih indah.
Janji-janji manis, alur kisah hidup yang penuh drama, tapi kebanyakan berakhir bahagia.
Buku membuatku merasa seperti putri kecil yang tinggal di istana, dikelilingi keluarga penuh cinta dan dayang-dayang yang setia
Buku membuatku berangan menjadi wanita mandiri yang berkeliling negara-negara lain dengan bebas, tak khawatir memikirkan pandangan dan cibir orang lain, namun melenggok asyik dari satu bandara ke bandara lain
Buku membawaku menelusuri hijau lebat dedaunan di hutan belantara Amerika, gersang panas gurun Afrika, dingin menusuknya Eropa, serta hembusan sepoi angin di musim gugur di pinggiran sungai Asia.
Buku memberiku ruang berimajinasi. Dalam dunia yang jauh lebih indah dari kenyataan. Dalam dunia dimana aku tak hanya berperan sebagai aktor, tapi juga sutradara atas alurku sendiri.

Kopi.
Aku benci kopi, tapi aku suka kopi.
Aku benci kopi. Karena racikannya begitu susah untuk dimengerti.
Berbeda biji kopi, berbeda pula rumus yang yang diperlukan untuk menghasilkan rasa sempurna.
3:3, tiga sendok kopi dan tiga sendok gula untuk arabika sipirok. 
2:4, dua sendok kopi dan empat sendok gula untuk kopi semendo. 
3:2, tiga sendok kopi dan dua sendok gula untuk kopi gayo yang wangi.
Aku benci kopi, tapi aku suka kopi.
Aku suka kopi karena pahitnya membangunkanku dari angan. Kembali dari romantisme imajinasi, pulang pada dunia nyata yang walau seperti apa pun, harus kujalani.

Rabu, 16 September 2015

love. confusion

"You're not in love, dear. You just are falling in love with the idea being in love"

Rabu, 02 September 2015

poisoned arrow

“The nasty things people say behind your back are like poisoned arrows
But, thankfully the words people say while hiding have no strength 
So those arrows can’t pierce your heart 
However the most foolish thing you can do is… 
Pick those arrows that have fallen on the ground. 
Then pierce your own heart with those arrows.” 
(Baek Seung Chan – Producer ep 9)
Secuek dan seminim  apapun interaksi seseorang dengan kondisi sekitarnya, tak ada yang bisa menghentikan orang lain untuk tetap berkomentar atau setidaknya sekedar menaruh perhatian pada kehidupan kita. Bagi orang yang kuat mental dan percaya diri, mungkin itu bukan hal apa-apa. Tapi berapa banyak dari kita yang dengan yakin berkata bahwa kita tak terpengaruh komentar orang lain atau setidaknya tak memikirkan hal itu menjelang jatuh tidur?

Mungkin salah satu cara terbaik adalah dengan berpura-pura bodoh dan tak melihat jatuhnya anak-anak panah itu.

Selasa, 18 Agustus 2015

Selamat hari lahir, Bapak

Selamat hari lahir, Bapak
Lelaki yang penuh senyum dan canda
Mengedepankan kepentingan anaknya di atas apa pun
Masih teringat waktu tatkala rumah kita hanya berdindingkan kayu dengan 2 kamar tidur seadanya,
Menikmati lauk ayam adalah sesuatu yang sangat mewah bagi kita saat itu
Dan kau pun merelakan hanya menelan nasi putih hangat yang disirami kecap asin
Sementara kami yang masih lugu dan tak paham, saat itu dengan lahap dan gembira menghabiskan gigitan demi gigitan daging ayam

Selamat hari lahir, Bapak
Sosok yang pengalah untuk anak-anaknya namun di kali lain menjadi begitu kuat tak tergoyahkan
Bapak yang berkulit legam, dengan senyum dan tawa yang khas
Bapak yang entah mengapa semakin hari menjadi objek bully-an di rumah,
Tidak, bukan bully kejam,  hanya menjadi tempat kami bercanda

Selamat hari lahir, Bapak
Yang dulu karena suatu hal kami terpaksa dititipkan untuk bermalam di rumah keluarga, dan Bapak harus berjalan kaki 11 km di gelap malam karena sudah tak ada lagi angkutan umum yang melintas

Selamat hari lahir, Bapak
Yang selalu mengungkapkan rasa kasih dan cintanya secara langsung
Maafkan anak-anakmu ini yang mungkin kini mulai menghindar kala ingin kau peluk dan cium
Maafkan kami yang kini mungkin tak lagi berlama-lama menyandarkan kepala di bahumu

Selamat hari lahir, bapak
Sosok pria penyayang keluarga
Yang darinya aku mulai pelan-pelan mendefinisikan kata “lelaki”

Selamat hari lahir, Bapak
Yang tak bosan duduk bersimpuh di dini hari, berdoa tak putus untuk anaknya
Sementara kami masih bergumul dengan selimut
Bapak yang menjadi Alarm abadiku,
Yang saban hari kuminta sekedar misscall untuk membangunkan
Walau seringkali telponnya untuk membangunkan justru ditanggapi dengan gerutu dan rasa enggan

Selamat hari lahir, Bapak
Jauh di tanah rantau
Kini ingin kucium tanganmu sesering mungkin
Ingin kulabuhkan diri lagi dalam pelukanmu dan kecup sayangmu di ubun-ubun

Selamat hari lahir, Bapak
Syukur tiada terkira pada Allahu Rabbi,
Dilahirkan dalam keluarga yang begitu sederhana, namun cinta berlimpah tak habis-habis
Keluarga yang menurut pandangan orang lain mungkin di bawah kata cukup,
Tapi dukungan untuk pendidikan sama sekali tak terbatas
Dari dulu kala betapa apa adanya kita, hingga sekarang Allah limpahkan rezeki yang insya Allah mencukupi

Selamat Hari lahir, Bapak
Tak Banyak yang bisa kami berikan, karena dengan apa pun, tak kan terbalas semua limpahan cinta yang kau beri
Akan selalu kuperbaiki diri, hingga kata sholehah layak untuk disandang
Agar apa yang kuperbut, dan kulafazkan dalam doa, dapat mempermudah pertemuan kita di Jannah

Selamat hari lahir, Bapak

Aku rindu




Dan,
Selamat hari lahir, kamu
Dua tujuh usiamu kini
Kurangilah bekerja di larut malam
Kurangilah konsumsi rokok yang begitu kau sukai asapnya itu
Sehat-sehat di sana ya..
Kau tak tahu kalau begitu banyak orang yang mengkhawatirkanmu, kan?

Selamat hari lahir, kamu
Semoga ada waktu untuk kita bersua lagi

Selasa, 11 Agustus 2015

sekretaris baru

Momen perpisahan dimanapun selalu menyisakan duka. Jangankan berpisah antar dunia, negara, bahkan kota, berpisah ruang pun entah kenapa masih menghadirkan suasana gloomy abu-abu.
Hm.. tidak untuk berlebihan sih sebenarnya, hanya ya itu, kalau sudah terbiasa, akan ada yang terasa aneh jika rutinitas berjalan tak seperti biasanya kan?
walau hanya terpisah 5 meter mungkin, walau hanya terpisah 2 pintu mungkin, tetap saja judulnya berpisah.

Tapi ah, lama kelamaan, sesuatu yang tak biasa ini toh akan menjadi kebiasaan baru kan?

Senin, 10 Agustus 2015

Petisi, Pembelaan diri dan Klarifikasi setengah hati


Orang yang meminta maaaf tidak pernah terlihat rendah, justru sebaliknya. Dengan meminta maaf menunjukkan kebesaran jiwa dan kelapangan dada serta luasnya pola pikir.
Menolak meminta maaf, bahkan secara tak langsung hanya mengisyaratkan pembelaan,yang pada akhirnya akan membuat terlihat lebih kerdil.
Masih tentang 1 Agustus 2015

Kamis, 06 Agustus 2015

Selamat Datang, Terima Kasih, dan Maaf...

source : as watermark

Kabar rencana datangmu telah berhembus sejak jauh-jauh hari
Diberitakan angin, diiringi riuh gembira daun-daun bersuka cita.
Aku, sebagai orang yang merindu tentunya gembira tak terkira,
Namun tetap harus kusembunyikan tawa lebar itu pada daun dan ilalang yang sedang berdansa.

“Aku akan kembali lagi, segera” katamu waktu itu
Tapi tak kusangka, "segera" dalam defenisimu berarti tiga tahun.

Menghitung waktu menunggu datangmu, sambil sesekali berjalan dan mencuri dengar obrolan dedaun menanti hadirmu.

Lalu, pada akhirnya tiba waktu kau nyata hadir. Mencuri tawa dari setiap sudut bumi, dan mengumpulkannya bersamamamu.
Menyebar bahagia yang merembet dari hati.
Dan aku hanya bisa memandangmu dari jauh.
Jauh dalam artian sebenarnya. Terlalu ramai daun dan ilalang yang bersorak,
Desau angin tak kalah gemuruh, menyisakan riuh yang membuat suaramu timbul tenggelam
Dan aku perlahan mulai mundur, memandang keramain dengan wajah-wajah bahagia tiada terkira, hanya karena hadirmu
Senang? Tentu aku senang, bisa merasakan hadirmu setelah sekian lama
Walau tak terlihat jelas seperti apa wajahmu, lebih tirus kah karena lelah yang bertumpuk
Atau lingkaran matamu lebih gelap karena malam adalah waktumu untuk produktif?

Aku hanya bisa berdiri di belakang, bahkan tak lagi mencoba memandang ke depan, mencari celah diantara rimbun daun dan ilalang yang menari-menari bersama angin.
Aku bahkan susah untuk mendengar isak tangisku sendiri. Sesenggukan menyadari betapa dekat namun sekaligus jauhnya dirimu
Bukan karena iri dengan barisan rapat ilalang di depan sana
Bukan juga karena tarian dedaun yang terus gempita tiada lelah.
Terlalu banyak emosi dan rasa yang membaur.

Sudahlah, mungkin lebih baik aku jauh-jauh saja.
Seperti yang pernah kuucap dulu.
Hadirmu itu bagai bintang, benderang menyinari di kala jauh,
Namun panas membakar dalam  dekat.
Entah, harus berapa kali lagi aku mengukur jarak aman agar tak hangus oleh radiasimu.


Based on pengalaman Sabtu malam di Serpong, 1 Agustus 2015