Jumat, 06 Juni 2014

Pengabdian #3

Menyambung kisah sebelumnya. Awal minggu ini, pemberangkatan kedua pun terlaksana. Maka melangkahlah mereka, rombongan kedua yang akan menjadi anak bangsa yang mengabdi walau mungkin awalnya tak seikhlas hati. Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera bagian tengah. Beberapa saat setelah menjejak, berbagai laporan pun berdatangan.
“Wah, disini hebat, ada pejabat yang tidak punya pegawai” – Banda Aceh
“Oh, begini toh kantor daerah, seruu” – Pare-Pare
“Kalau liat aktivitas dan pergerakan komentar di grup, keliatan banget mana yang anak pusat mana yang daerah” – Pematang Siantar [pada siang hari atau jam kerja, kalau banyak pergerakan di grup angkatan, hampir dipastikan itu berasal dari penempatan daerah :D]
“Eh, Pekanbaru panas euy” – Pekanbaru (yang mengabdi disini berasal dari bandung :D)
“Wah, Medan gak beda jauh sama Semarang ternyata” -Medan
“Kalian masih sibuk nyari voucher karaoke gratisan? Sini aku traktir, lima jam. Sejamnya karaoke sebelasan ribu hahaha” -Dumai
“Bingung mau ikut WIB/WITA ” - Palangkaraya
“Wah, nanti gak terlalu begadang dong untuk nonton piala dunia, disini mainnya kan pas jam lima pagi.” - Sorong
“Demi apa ini, baru dua hari di kantor, dan gue didaulat jadi bendahara pengeluaran ” –Batam
“Alhamdulillah, duit pindah bisa buat beli ayam bakar” –Lhoksumawe 1
“Bakar ayam sekandang-kandangnya” –Lhoksumawe 2
 
*random googling

Banyak cerita lain, bertaburan komentar lucu, tak sedikit kisah pahit. Apa pun itu, kita memulai langkah dari tempat yang berbeda. Pasti, pasti akan ada kalanya langkah kita berpapasan di suatu tempat kelak.


Selamat berkarya, senang memiliki banyak keluarga di seluruh penjuru negeri.

Sabtu, 17 Mei 2014

pengabdian #2

Sudah semenjak minggu yang lalu, pemberangkatan pertama telah dilaksanakan. Teman-teman yang mendapat rezeki untuk memulai pengabdian dari pelosok timur dan ujung barat Indonesia telah berangkat. Membaktikan diri pada ibu pertiwi. Meninggalkan janji-janji manis hedonitas ibu kota dan segala ke-mentereng-an mall-mall kota besar. Terlewat satu minggu, tapi sungguh semua yg mereka telah jalani menerbitkan seberkas cemburu di hati.

Minggu, 11 mei 2014.
Rombongan yang pertama melapor ke grup angkatan adalah mereka, teman-teman yang membaktikan diri di tanah Papua. Foto pertama yang mereka posting adalah sebuah bangunan bertuliskan “Bandar Udara Sentani Jayapura”.
Yap, rombongan pertama sudah menyentuhkan kaki mereka ke tanah harapan, bentangan daratan penuh limpahan kekayaan ibu pertiwi. Mereka, dengan muka hitam gosong sisa-sisa pelatihan militer dan kepala nyaris plontos dengan rambut yang baru tumbuh di sana-sini tampak tersenyum, memamerkan deretan gigi yang kontras dengan kondisi wajah hahaha. Tapi sungguh, di senyum-senyum itu tak kulihat penyesalan, hanya senyum bahagia dan senyum tertantang akan tempat baru.
Beberapa jam setelah itu, ponsel terus berbunyi, ternyata laporan mereka tak sampai di situ. Belasan foto mereka lampirkan. Seolah menenangkan kami agar tak resah, tanah Papua tidaklah seekstrem kabar burung yang sering terbang terbawa angin.

Mereka bercerita tentang rumah kos yang terletak di pertengahan bukit kecil yang berhadapan dengan laut. Buka pintu rumah, maka yang terlihat adalah garis pantai yang bersih. Dan sungguh satu yang paling membuat iri adalah ketika malamnya mereka melampirkan foto sunset pertama di tanah timur. Empat orang duduk di tepi pantai, dengan gitar dan kepulan asap dari mie instant, nun di belakang sana, menjadi latar foto adalah semburat jingga kemerahan yang bertemu dengan garis lurus air laut. Ah.. siapa yang tidak ikut tersenyum menyaksikan hal ini?

Laporan kedua datang dari tanah rencong. Bumi serambi Mekkah yang diberkati (insya Allah). Wajah-wajah tersenyum tampak di sana-sini. Dan laporan lucu dari makhluk-makhluk galau ini pun datang bertubi-tubi. 
“Gimana dong? Disini nyaman, aku takut betah di sini T.T. cewek-ceweknya cantik-cantik pula :3”. Seperti yang saya bilang, entah mengapa makhluk-makhluk galau ini dikumpulkan di satu tempat hahaha

Selanjutnya ada laporan dari Biak. Tak banyak foto, tapi dari ramainya kicauan dan keriangan mereka menanggapi berbagai pertanyaan setidaknya memberi kesan bahwa mereka mulai menikmati berada di tempat itu.
“Biak abrasi”
“Biak selesai dikelilingi dalam satu jam”
“di Biak ada bola naga ke-sembilan”
“Biak itu pulau kura-kura raksasa son goku”
Hahaha dan segala macam celoteh aneh tapi lucu bermunculan.

Ambon pun memberi kabar. Karena relatif minoritas, ikatan muslim di sini kuat, katanya. Sentimen agama masih terlihat, walau tidak ditampakkan secara nyata. Tapi semua masih dalam tahap menyenangkan. Indonesia itu luas, begitu katanya.
Sorong dan Ternate saya belum tahu seperti apa perkembangannya.


Sekarang menantikan pemberangkatan kedua dilepas. Kalimantan, Sumatera bagian tengah, dan Kepulauan Nusa Tenggara segera menyusul. Tak sabar seperti apa cerita tentang Indonesia di tanah lain.

#Baktiku padamu, Negeri

*foto-foto insya Allah menyusul

Rabu, 14 Mei 2014

"Bila anda di gaji 10 juta oleh perusahaan, namun anda bekerja seperti bergaji 20 juta, maka Allah akan membayar lebihnya dengan kesehatan, keluarga yang bahagia/sejahtera, dan semisalnya. Namun bila anda bekerja seperti orang bergaji 5 juta, maka Allah akan menuntut sisanya dengan memberimu kesusahan, hutang, kesempitan dan semisalnya. Jadi, bekerjalah maksimal. Ikhlaslah. Dan perhatikan apa yang Allah perbuat untuk kejayaanmu"

sebuah tausyiah yg dikirim seorang teman, didapat dari sumber lain. sekarang saya tempel di dinding kubikel, semoga selalu menjadi pengingat.

Selasa, 13 Mei 2014

diam itu emas, tapi kamu punya intan

(mungkin judulnya sedikit tidak nyambung dengan isi tulisan ini)

Akhir-akhir ini saya mengaku pernah beberapa kali korupsi waktu. Ketika rasa bosan dan malas menyerang sementara waktu masih terdeteksi sebagai jam kantor, akhirnya blog-blog Indonesia Menagajar yang seringnya jadi pelarian saya. nah, tadi itu saya membaca tulisan seorang pengajar muda yang kemudian membuat saya berpikir akan kondisi saya sendiri saat ini. tulisannya bisa dibaca di-sini.

Mengamini apa yang disebutkan oleh seorang pengajar muda yang tulisannya barusan saya baca. Mungkin saya merasakan hal yang sama di sini. Ketika awal-awal saya selalu merasa menjadi orang yg berlapang hati. Orang yang selalu bersegera menjemput kebaikan, orang yang tidak mempermasalahkan pilihan ketika beli makan sementara orang di sebelah terus berkomentar tentang pesanannya yang salah dibuat oleh si bapak penjual, orang yang dengan ringan hati segera berdiri, memberikan kursi untuk perempuan lain yang menurut saya jauh lebih pantas dan berhak untuk duduk. Saya merasa takut dan ngeri sebenarnya ketika menyadari semakin lama rasanya standar moral saya semakin menurun

Ah, tidak, saya tak merasa jahat sepenuhnya. Pun di metromini, ketika ada yang saya lihat butuh duduk, tetap saya berikan, hanya saja frekuensinya jauh berkurang saat ini. Kenapa berkurang? Bukan, bukan karena pada akhirnya saya milih-milih dan akhirnya penuh pertimbangan, tapi karena saya merasa akhir-akhir ini kepekaan saya jauh menurun drastis. Dulu, ketika naik metromini selalu memperhatikan siapa yang naik, siapa yg tidak duduk, sekarang perjalan berangkat dan pulang kantor saya ditemani oleh lamunan, mungkin, hingga terkadang saya tak sadar bahwa sudah saatnya saya harus turun. Entah, karena kebanyakan pikiran atau sebaliknya kekosongan pikiran menyebabkan hal itu. Tapi yang jelas, entah karena alasan apa saya merasa menjadi orang yang lebih jahat.

Kamis, 08 Mei 2014

Adalah kamu, degup kencang dalam pandang diam-diam
Adalah kamu, harap pelan dalam khayal doa
Adalah kamu, wajah keras dalam dingin tawa
Adalah kamu,  tawa pedih dalam tangis ironi

Adalah kamu, masa lalu.

Senin, 05 Mei 2014

Lama-lama terpikir, dalam cerita ini, aku yang jadi antagonisnya.

Rabu, 30 April 2014

pengabdian #1

Ruang yang megah, menjelajah.
Waktu yang entah, berpihaklah.
Langit yang pemurah, berkatilah.
Tanah yang indah, kami datang.


~G.S.S~
*seorang teman yang tengah bersiap, berangkat menjemput berkas sinar mentari di tanah borneo.

Rabu, 23 April 2014

Lantang atau diam, (dia) itu cinta {4}

Rabu, 23 April 2014. 
Pagi hari, ketika kebanyakan pegawai masih berada di luar untuk sarapan, setelah lelah-lelah mengejar absen pagi. Sang gadis berjalan keluar ruangan, berlari kecil mengejar lift yang sayangnya tertutup di depan matanya. Sedikit menghela nafas, lalu tanpa sengaja menoleh ke belakang dan matanya bersitatap dengan si pemuda yang berdiri di ambang pintu. Si gadis bergegas memalingkan mata, berpura-pura tak melihat. Sementara si pemuda kebingungan sendiri, akan tetap melangkah ke depan lift atau kembali masuk ke ruangan. Pada akhirnya, ia berdehem kecil lalu memposisikan diri seperti layaknya orang lain menunggu lift terbuka.

Mereka berdiri bersisian. Canggung. Si gadis menatap lurus ke depan, berusaha keras fokus pada selebaran entah apa yang tertempel di dekat pintu lift. Si pemuda merogoh saku, menyibukkan diri  entah dengan fitur apa yang ada di telepon genggamnya. Tapi alam sepertinya sedang sedikit usil dengan dua manusia ini. Secara normal, perhitungan kasar menyebutkan waktu yang dibutuhkan lift untuk membuka di lantai dasar adalah 2 detik, sebutlah ada sepuluh orang yang memasuki lift itu dan  tiap orang membutuhkan waktu masing-masing 1 detik untuk masuk lift. Estimasi ada yang turun di tiap lantai dan proses buka-tutup lift ini membutuhkan waktu 3 detik. Totalnya, waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke lantai 10 menurut perhitungan kasar adalah dibawah satu menit. Tapi seperti yang kita sebutkan tadi, hari ini alam sedang bertingkah jahil pada mereka, karena bahkan hingga menit ke-dua pun pintu lift itu belum jua terbuka.

Setelah hening yang cukp lama,
“Nyari makan?” ragu-ragu si pemuda bertanya.
“Hah? Ooh.. nyari teman.” Si gadis yang tak menduga akan ada percakapan di antara mereka tergeragap.

Sejenak raut wajah bingung menghiasi keduanya, lalu seperti diperintahkan, mereka tertawa dalam waktu yang bersamaan. Tertawa, lepas. 
Dan tepat saat itu pintu lift terbuka lebar

*random googling

Mau kubilang lantang, atau kupendam dalam diam, tetap saja kusebut (dia) cinta.-Tasaro GK

Selasa, 22 April 2014

Kabut ragu-ragu menyeruak, sedikit enggan beranjak pergi karena terusir dengan bias terang matahari
Engkau takut-takut berteriak, sedikit malu membuka isi hati karena terusik rona merah yang tersembul di pipi
(10 jan 2014)

katakan padaku tentang rindu, tentang cinta yang mengadu pada hati
katakan padaku tentang pilu, tentang derita yang meratap pada diri
katakan padaku tentang semu, tentang asa yang bergerak dalam ilusi

katakan padaku tentang kamu, tentang rona yang tak pernah hilang dari pipi
(04 februari 2014)

Kamis, 17 April 2014

yang (ingin) pergi dan yang (berharap) tinggal

Teringat dulu ketika masih bersekolah di jenjang menengah. Sebagian guru dan pembina asrama kami sebenarnya adalah kakak-kakak alumni sekolah yang sama dan baru selesai kuliah. Di masa-masa itu, menjadi PNS adalah salah satu tujuan utama hampir bagi setiap orang. Walau sebenarnya gajinya tak seberapa, tapi zona aman yang ditawarkan bahkan hingga nanti di masa-masa tua masih tetap menjadi pemikat yang tidak bisa dikesampingkan. Dan kala itu pun, saat saya masih duduk di kelas 2, ada masa beberapa hari jam pelajaran kami kebanyakan kosong atau diisi oleh guru pengganti. Pasalnya, semua guru2 muda belia yang juga adalah kakak alumni kami itu sedang mengikuti ujian masuk CPNS.

Kala itu, dikarenakan rasa nyaman dan senangnya kami di keliling beliau-beliau, sempat terlintas celutuk-celutuk kata yang kami sampaikan. “Mudah-mudahan ibu gak lulus tes CPNSnya.”
Saat itu terlihat muka terkejut beliau, “Astaghfirullah, iih jahat kali doanya...” 

Tapi kami hanya tertawa sambil lalu. Apa karena kami tak suka dengan beliau maka kami berkata seperti itu? Tidak, sungguh tidak. Sebaliknya, rasa sayang dan rasa nyamanlah yang mendasari hal itu. Rasa rindu dan takut kehilanganlah yang membuat kami berharap agar beliau tetap di sini. Karena hampir bisa dipastikan, penerimaan CPNS untuk keguruan biasanya ditempatkan di tempat yang agak jauh dari tempat kami saat itu. Itulah pinta polos kami yang saat itu yang hanya bisa memandang dari sisi yang ditinggalkan, belum paham rasanya sisi yang berharap pergi.


Beberapa bulan lalu, ketika pembicaraan mengenai penempatan masih misteri. Ketika doa selalu dipenuhi nama-nama tempat. Beberapa teman selalu berkata sambil bercanda, “Semoga kamu dapat penempatan pusat, jadi bisa tetap di Jakarta.” Mungkin beberapa dari mereka memang tak tahu, tapi beberapa yang lain tahu dengan jelas seperti apa horrornya saya dengan kota Jakarta, seperti apa harap saya agar OJT lekas usai dan segera beranjak pergi dari kota ini. Dan begitulah, rezekinya, saya justru di tempatkan di Jakarta. Definitif. Tidak bisa pindah sebelum beberapa masa mutasi atau ada alasan kuat yang mendasari (semisal ikut suami :p).

Saya sempat down, down sekali bahkan. Saya tahu mood buruk saya membuat hampir semua orang jadi tidak nyaman, bingung bagaimana harus bersikap di depan saya, terlebih untuk beberapa saat saya sempat mengurung diri, meminimalkan hal-hal yg tidak diinginkan. Ah, sebenarnya jauh di lubuk hati saya merasa sangat bersalah. Merasa bersalah karena sempat tersakiti oleh pesan-pesan singkat yang dikirim dengan tulus, merasa bersalah karena tak bisa memberitahu mereka secara personal saya di tempatkan di mana, merasa bersalah karena hingga saat ini pun saya masih menghindar ketika mereka membicarakan topik tentang kota penempatan di lingkaran terbatas kami di media sosial.

Dan tadi, saya teringat kembali dengan peristiwa bertahun-tahun silam itu. Bedanya, sekarang saya berada di sisi yang berharap pergi. Ah, betapa saya paham posisi mereka. Dan (walau sedikit memalukan) setidaknya tangis sudah dihias dengan senyum. Walau mungkin kata-kata itu candaan, betapa harusnya saya merasa tersanjung karena diinginkan. Betapa seharusnya saya merasa terhormat karena berharap saya tetap disini, dekat dengan mereka. Hei, bukankah itu tandanya mereka merasa nyaman? Bukankah mereka berkata seperti itu karena sayang dan takut kehilangan? :D

Betapa bahagianya ketika setelah berlelah-lelah di kantor, malamnya kedatanganmu masih dinantikan, ceritamu masih didengarkan, bahkan seringkali ditemani kudapan-kudapan yang sengaja dibeli untuk dinikmati beramai-ramai. Ah, sungguh, nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?