Sabtu, 17 Mei 2014

pengabdian #2

Sudah semenjak minggu yang lalu, pemberangkatan pertama telah dilaksanakan. Teman-teman yang mendapat rezeki untuk memulai pengabdian dari pelosok timur dan ujung barat Indonesia telah berangkat. Membaktikan diri pada ibu pertiwi. Meninggalkan janji-janji manis hedonitas ibu kota dan segala ke-mentereng-an mall-mall kota besar. Terlewat satu minggu, tapi sungguh semua yg mereka telah jalani menerbitkan seberkas cemburu di hati.

Minggu, 11 mei 2014.
Rombongan yang pertama melapor ke grup angkatan adalah mereka, teman-teman yang membaktikan diri di tanah Papua. Foto pertama yang mereka posting adalah sebuah bangunan bertuliskan “Bandar Udara Sentani Jayapura”.
Yap, rombongan pertama sudah menyentuhkan kaki mereka ke tanah harapan, bentangan daratan penuh limpahan kekayaan ibu pertiwi. Mereka, dengan muka hitam gosong sisa-sisa pelatihan militer dan kepala nyaris plontos dengan rambut yang baru tumbuh di sana-sini tampak tersenyum, memamerkan deretan gigi yang kontras dengan kondisi wajah hahaha. Tapi sungguh, di senyum-senyum itu tak kulihat penyesalan, hanya senyum bahagia dan senyum tertantang akan tempat baru.
Beberapa jam setelah itu, ponsel terus berbunyi, ternyata laporan mereka tak sampai di situ. Belasan foto mereka lampirkan. Seolah menenangkan kami agar tak resah, tanah Papua tidaklah seekstrem kabar burung yang sering terbang terbawa angin.

Mereka bercerita tentang rumah kos yang terletak di pertengahan bukit kecil yang berhadapan dengan laut. Buka pintu rumah, maka yang terlihat adalah garis pantai yang bersih. Dan sungguh satu yang paling membuat iri adalah ketika malamnya mereka melampirkan foto sunset pertama di tanah timur. Empat orang duduk di tepi pantai, dengan gitar dan kepulan asap dari mie instant, nun di belakang sana, menjadi latar foto adalah semburat jingga kemerahan yang bertemu dengan garis lurus air laut. Ah.. siapa yang tidak ikut tersenyum menyaksikan hal ini?

Laporan kedua datang dari tanah rencong. Bumi serambi Mekkah yang diberkati (insya Allah). Wajah-wajah tersenyum tampak di sana-sini. Dan laporan lucu dari makhluk-makhluk galau ini pun datang bertubi-tubi. 
“Gimana dong? Disini nyaman, aku takut betah di sini T.T. cewek-ceweknya cantik-cantik pula :3”. Seperti yang saya bilang, entah mengapa makhluk-makhluk galau ini dikumpulkan di satu tempat hahaha

Selanjutnya ada laporan dari Biak. Tak banyak foto, tapi dari ramainya kicauan dan keriangan mereka menanggapi berbagai pertanyaan setidaknya memberi kesan bahwa mereka mulai menikmati berada di tempat itu.
“Biak abrasi”
“Biak selesai dikelilingi dalam satu jam”
“di Biak ada bola naga ke-sembilan”
“Biak itu pulau kura-kura raksasa son goku”
Hahaha dan segala macam celoteh aneh tapi lucu bermunculan.

Ambon pun memberi kabar. Karena relatif minoritas, ikatan muslim di sini kuat, katanya. Sentimen agama masih terlihat, walau tidak ditampakkan secara nyata. Tapi semua masih dalam tahap menyenangkan. Indonesia itu luas, begitu katanya.
Sorong dan Ternate saya belum tahu seperti apa perkembangannya.


Sekarang menantikan pemberangkatan kedua dilepas. Kalimantan, Sumatera bagian tengah, dan Kepulauan Nusa Tenggara segera menyusul. Tak sabar seperti apa cerita tentang Indonesia di tanah lain.

#Baktiku padamu, Negeri

*foto-foto insya Allah menyusul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar