Selasa, 19 Januari 2016

Petrichor, Simfoni Hujan

Kamu tahu apa itu petrichor? Iya, memang terdengar aneh dan rumit. Mungkin akan mengingatkanmu pada buku kimia dan perpustakaan, atau bisa jadi guru eksakta jaman SMA yang galak. Tapi aku tidak sedang ingin membahas nostalgia masa belajar itu sekarang.

Keisengan yang timbul akibat hujan deras sore ini mengantarkanku pada berbagai jendela laman yang membahas bau harum yang ditimbulkan hujan. Dan salah satu bau itu disebut Petrichor. Kata Petrichor sendiri diciptakan oleh dua ilmuwan Australia, Isabel Joy Bear dan R.G. Thomas pada tahun 1964. Penelitian mereka tentang aroma hujan kemudian dipublikasikan di jurnal Nature “Nature of Agrillaceous Odor”. Petrichor berasal dari kata petra yang berarti “batu” dan ichor yang berarti “darah dewa”, keduanya adalah bahasa Yunani.

Petrichor utamanya disebabkan oleh dua hal, yaitu minyak yang menguap dari tumbuhan dan geosmin yang dilepaskan oleh mikroba. Tumbuhan mengeluarkan sejenis minyak yang mudah menguap, minyak tersebut bereaksi dengan tetesan hujan dan dilepaskan sebagai gas ke udara. Sedangkan geosmin adalah senyawa organik yang dihasilkan oleh beberapa mikroba yang hidup di tanah, air tawar, dan air laut. Geosmin dilepaskan ketika mikroba mati, dan saat terkena terpaan air hujan, geosmin terangkat ke udara dan terciptalah aerosol partikel geosmin dalam udara. Geosmin juga menjadi penyebab ikan air tawar seringkali berbau seperti tanah.

Aku tidak tahu banyak sih tentang Petrichor. Tapi cukuplah menjadi semacam bukti, bahwa bahkan sensasi melankolis sehabis hujan pun ternyata didasari fakta-fakta ilmiah yang menarik jika kita mencari tahu.

Kapan-kapan, mungkin akan aku ceritakan padamu tentang pluviophile dan nyctophilia.



Dari berbagai sumber



Hallo, Tuan
Sore ini mendung. Walau siang tadi mentari seakan begitu bersemangat membagi cahaya. Peluh menetes, makan terasa lebih nikmat di cuaca ini apalagi sambal yang pedasnya mendukung untuk berkeringat lebih.

Hallo, Tuan
Sore ini hujan. Mendung yang tadi menggelantung segera berubah jadi gelap yang menyeruak. Bunyi deras hujan dan gelegar guntur terdengar jelas dari lantai sebelas ini. Sekali lagi, mungkin menunggu sejenak untuk dapat kembali ke surga 3x2,5 meter itu.

Hallo, Tuan
Lama aku tak mengunjungi. Pun kau berbulan tak menyapa. Hanya memori lama yang terus kuputar. Terlalu sering hingga bahkan aku hafal detik, jeda, bahkan hela nafas.

Hallo, Tuan
Hujannya mulai mereda. Cepat sekali ternyata. Hanya butuh waktu untuk menyelesaikan satu tulisan serabutan ini. Dan aku mulai berasumsi di luar nalar lagi, bahwa Tuhan mengirimkan hujan untuk menyentak orang-orang yang terpisah agar merindu.

Hallo, Tuan

Sepertinya aku akan bersiap pulang.

(Masih tentang) Palembang, dalam lensa 5 MP

Jumat, 8 Januari 2015
Perjalanan menuju Bandara Soekarno Hatta dalam taksi putih, senja menjelang. 


 Scrapbook apa adanya, yang diselesaikan di sela-sela menunggu dan selama penerbangan (dan dibungkus apa adanya dengan kertas kado tanpa gunting, akibat gunting yang kita sediakan disita di counter X-Ray Bandara hahahahaha)


 Salah satu ikon Plaembang, masih di sekitaran pinggir Sungai Musi. Sayangnya cuma bisa foto2 benteng luarnya :D


 Jembatan Ampera yang cerah tetapi mendung ^^


 Di kejauhan tampak Pasar 16 Ilir, pasar grosir dan tempat semua jurusan angkot bermuara


 Tongkang milik PT PUSRI


 Pulao Kemaro. Samar-samar terlihat penampakan klenteng dan Pagoda.


Jalan dermaga Pulau Kemaro


 Tangga Naga (kyaaaa Nagaaaaa *salah fokus)


 Penampakan Pagoda (sayangnya tidak bisa ambil foto dari angle lebih kece, antriiiiii mak oii...)


 Patung Budha Emas yang jadi salah satu ikon Pulau Kemaro


 Legenda Pulau Kemaro. Dan....kok ternyata agak serem ya... -_______- hahahahaha


 Soemantri Brodjonegoro? Ini Kapalnya keluarga Pak Menteri?? Numpang Pak....


 Bapak navigator ini sejak berangkat posenya gak nahanin.. Fotogenik sekali hahahaha


 Jembatan Ampera di malam hari. Jauh lebih indah bila dilihat langsung (maklumi kamera ponsel)


 Pasar malam di pinggiran Sungai Musi. Hampir naik Kora-Kora dan Bianglala, tapi berhubung naik bianglalanya harus 4 orang, gak jadi deh (pengalaman krik krik krik naik bianglala di Dufan dan jadinya malah nontonin org pacaran hahahaha)


 Yeayyy akhirnya resmi ke Palembang setelah makan Pempek Vico (setelah sebelumnya melakukan hal konyol, nungguin tokonya buka dari depan PIM hingga jam 10-an, padahal ternyata udah buka dari tadi, yang baru buka itu toko khusus kemplang dan kerupuk -__-")


Angkot Palembang yang unik. Semua penumpang menghadap depan dengan tiga baris tempat duduk. Irit kata karena kalau mau turun tinggal pencet bel yang ada di kiri-kanan penumpang.
Dua hari di Palembang kami sudah hafal rute-rute angkot, dan beneran jelajah Palembang bermodalkan angkot hahahaha. Terima kasih untuk Palembang yang ramah sekali terhadap angkoters :D.
gambar ambil dari sini (gak sempat foto hehehe)


Pengalaman yang menyenangkan di Palembang. Sayangnya belum sempat mengunjungi Galeri Al-qur-an Akbar di Pesantren Al-Ihsaniah, Gandus, yang menyimpan ukiran-ukiran raksasa Alqur-an 30 juz, juga Hutan Wisata Punti Kayu (yang kata mertuanya pengantin adalah tempat jin buang anak hahahahaha). Semoga ada kesempatan berikutnya untuk menyambangi dua tempat yang belum sempat dikunjungi ^^

Terima kasih Palembang atas pengalaman yang menyenangkan :D

Senin, 18 Januari 2016

Bapak tua di dekat Kosan

Jakarta, 23 November 2015

Di dekat kosan, jarak satu rumah ke arah kiri, tepatnya di samping rumah pak RT, di teras depan pagar rumah itu, setiap malam selalu ditempati oleh seorang bapak. Seorang bapak yan telah sepuh. Dari perawakannya, kutebak berumur 50 atau 60-an.

Bapak ini biasanya hanya duduk diam sambil memeluk lutut. Jarang kulihat si bapak berinteraksi dengan orang sekitar. Di sebelah kirinya ada tas plastik besar yang lagi-lagi kutebak berisi semua harta benda yang dimiliki si bapak.

Tidak tahu sejak kapan bapak itu ada di sana, lama-lama kami jadi terbiasa dengan adanya beliau. Tiap berangkat pagi menuju kantor, si bapak tidak di “tempat tidur” nya, tapi di jalan depan yang lebih ramai. Duduk di pinggir jalan, memeluk lutut, dan di depannya sebuah toples plastik kosong, namun sepertinya belum pernah kulihat bapak itu menengadahkan tangan ke orang-orang yang lewat. Beliau hanya duduk diam, sambil memandang kosong, memeluk lutut. Malamnya, sepulang dari kantor, sebelum membuka pagar, selalu ada bapak tersebut, sudah di “tempat tidur”nya, terkadang sudah meringkuk tertidur, di kala lain masih duduk tegak sambil mengipas-ngipas, mungkin kegerahan.
Beberapa kali kami pernah bertanya-tanya tentang bapak tadi. Kasian tidur nya di sana, mandinya bagaimana ya? Dan seterusnya.

Dan rasa iba kian bertambah ketika salah seorang anak kosan mendapatkan info bahwa bapak tersebut dulunya punya rumah, tidak jauh dari tempat kami kos, beda kelurahan saja. Rumah tersebut entah bagaimana ceritanya akhirnya ditempati anaknya, yang singkat cerita akhirnya mengusir si bapak tadi. Hingga kemudian bapak tersebut mencari tempat tinggal lain, dan berakhir di teras depan sekitar kos kami.

Beberapa kali sepulang rapat, atau ketika ada makanan kotak di kantor, kusempatkan untuk bawa pulang, lalu pelan-pelan saya letakkan di samping bapak yang sudah terlelap, dan buru-buru pergi takut bapaknya terbangun. Beberapa kali begitu, hingga Ramadhan lalu, ketika membeli pakaian untuk oleh-oleh orang rumah, saat memilihkan kemeja untuk bapak, tiba-tiba teringat bapak itu, akhirnya saya belikan beberapa pasang yang lain dengan ukuran berbeda. Pun ketika Ramadhan kemarin saya mengikuti diklat dan kami diberi fasilitas yang lumayan, saat sendal2 yang dibagikan sama sekali tak dilirik oleh peserta diklat, saya tiba-tiba teringat bapak tadi lagi, akhirnya saya bawa pulang dua pasang sendal itu. Si bapak tersenyum, dan untuk pertama kalinya saya mendengar suara beliau. Sebuah ucapan terima kasih.

Seminggu ini ada yang berbeda.
Saya pulang kosan dan tidak melihat beliau tertidur seperti biasanya. Berangkat pagi pun, tidak melihat beliau di pinggir jalan tempat bisas beliau duduk. Awalnya saya berpikir beliau mungkin lagi mandi, mungkin sedang kemana. Tapi sekarang, sudah lebih seminggu dan sama sekali tidak terlihat keberadaan beliau. Teras kecil itu kosong, hanya menyisakan karung putih yang selalu ada di situ sejak dulu, mungkin milik beliau. Ingin bertanya, tapi bingung pada siapa.

Ah, yang pasti, tiba-tiba ada yang aneh. mungkin semacam kehilangan karena ada rutinitas yang berbeda.

Semoga beliau ada di tempat yang lebih baik. Semoga sekarang sedang berkumpul dengan keluarganya. Aamin...

Jumat, 15 Januari 2016

Palembang, you called it bestfriend’s wedding

Akhir november, kabar bahagia itu tiba. Belum ramai dibicarakan memang, karna hanya sekadar bisik lirih yang kau tujukan pada kami berdua. Merencanakan perjalanan ke tanah Sriwijaya. Tempat yang baru, pengalaman baru.

Akhir Desember, tiket Jakarta–Palembang dan Palembang-Jakarta sudah di tangan. Penginapan sudah diurus oleh sang “bride to be”. Tinggal menunggu hari untuk berangkat sembari merencanakan akan dihabiskan kemana saja waktu 2 hari itu.

Jumat Malam, 8 Januari 2016. Hujan menyambut kami di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Masih pukul 21.20, tapi suasana sudah sangat lengang. Entah penerbangan JT-332 itu merupakan penerbangan terakhir atau tidak. Seorang juru mudi taksi menawarkan jasa, maka menumpang taksi berwarna putih dengan lambang koperasi itu lah kami menuju pusat kota, ke tampat yang sebelumnya sudah diberitahu oleh sang tuan rumah.

Empat puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pusat kota, persis di depan rumah yang esoknya akan menjadi tempat akad nikah. Disambut payung dan beberapa anggota keluarga calon mempelai pria, kami digiring menuju rumah, dihidangkan makan malam (yang mau tak mau harus dinikmati walau sudah kenyang). Bercakap sejenak sembari menunggu hujan sedikit lebih bersahabat. Diantar calon mempelai pria, kami berangkat menuju penginapan. Sang calon mempelai wanita? Sudah dipingit, disuruh beristirahat untuk menyiapkan diri menghadapi hari yang panjang esok :D

Sabtu, 9 Januari 2016.
Kami tiba di tempat akad pukul 07.40, persis beberapa menit sebelum persiapan pelaksanaan akad nikah dimulai. Maka kami turut berkerumum bersama keluarga besar kedua mempelai, menjadi saksi mitshaqan ghalizha, janji yang berat itu terucap (setelah sebelumnya mengintip ke kamar tempat sang mempelai wanita sedang dirias).

Pukul 08.10
wajah-wajah bahagia begitu kata “sah” terucap semeakin berseri tatkala mempelai wanita akhirnya muncul dan bergabung, mengambil tempat di sebelah suami (sudah jadi suami :D). Selanjutnya, prosesi adat suap-suapan dan cacap oleh keluarga kedua pihak. Dilanjutkan dengan resepsi beberapa jam kemudian.



Aku melihat kembali foto-foto yang menggunung di galeri ponsel. Semacam balas dendam selama berkawan lima tahun ini tidak banyak menyimpan foto masing-masing atau bahkan foto bersama, maka momen berbahagiamu kemarin agaknya hampir terekam tiap detiknya lewat bingkai kamera, walau hanya dengan ponsel beresolusi 5 megapixel ini.

Dan aku tersenyum lagi, melihat wajah-wajah bahagia itu tertawa saat prosesi suap-suapan dan segala kekikukan kalian. Dan aku terharu lagi, mengenang keramahan keluarga besar kalian menyambut kami, tamu yang hanya menumpang sejenak tapi bahkan ikut dalam rombongan keluarga pria menyerahkan hantaran (sebenarnya kita ini di pihak keluarga pengantin pria apa wanita sih? Hahahaha)

Dan aku, kembali ingin menangis lagi, entahlah aku pun tak tahu kenapa harus menangis di hari yang pastinya semua harusnya berbahagia. Mari kita simpulkan saja bahwa tangis itu tangis bahagia, mungkin, hahahahahaha.

Barakallahulakuma wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoiir.
Selamat untuk kalian. Semoga rahmat Allah selalu menyertai.


Selasa, 12 Januari 2016

Sedap malam datang mengadu pada bunga matahari
Mengeluh pada Mentari yang katanya datang terlalu cepat dan jengah untuk segera pulang di senja yang cerah

Bunga matahari datang bercerita pada sedap malam
Protes mengapa mendung seringkali mengganggunya menikmati cahaya siang, mulai kesal pada senja yang menjemput lebih cepat di hari-hari hujan

Sedap malam dan bunga matahari tinggal berdampingan. Tapi berbeda rasa dan kepentingan.
Mereka saling bercerita, untuk saling memahami, mungkin. Tapi diam-diam, bisa jadi ada sakit yang terpelihara di jiwa kekanakan mereka.

Jumat, 08 Januari 2016

Setelah tiga tahun, tanya yang mengendap itu akhirnya menguap
Beroleh jawaban atas duga dan segala asumsi.
Dan lihatlah, betapa lega dada ini ketika keraguan memang sejatinya hanya penambah gamang


Medan, 2 Desember 2015

Rabu, 06 Januari 2016

jalan menuju ikhlas

Cukuplah di belakang layar.
Tak mengapa dirimu tak tampak, tak mengapa tepuk tangan tak ditujukan pada engkau, tak mengapa namamu tak disebut atau mungkin diingat.
Tak mengapa. 
Kau, masih tertatih belajar tentang ikhlas kan?
Inilah salah satu jalannya, mungkin sedikit berbatu, tapi tak apa.
Tujuanmu kan ada di depan sana.

Sedikit berlelah tak mengapa. 
Peluh itu menambah nikmat perjuangan kan?

Senin, 04 Januari 2016

Istighfar, Hamdallah

Senin, 21 Desember 2015.


Merencanakan menghabiskan liburan 4 hari di akhir Desember dengan rafting dan sekalian sedikit “mendaki” Puncak Sikunir di Dieng bersama warga kantor. Demi ke-praktis-an,  perlu mengenakan sendal gunung yang tahan air. Singgah sejenak di pusat perbelanjaan  yang berada di antara kantor dan kosan. Menyempatkan beberapa saat untuk berkeliling sambil memilih sendal, lihat ini, lihat itu, dan begitu selesai mencoba, mata tertumbuk pada tas ransel yang laci depannya sudah menganga lebar. Meraba sejenak. Handphone Asus Zenfone 5 T00F yang berusia 1 tahun lenyap. Terdiam sebentar. Ber-istighfar. Periksa dompet. Alhamdulillah aman. Lalu berjalan lagi, melanjutkan tujuan semula sambil membenak agar yang hilang bermanfaat bagi yang menemukan dan agar diri merasa diingatkan. Untuk berhati-hati, untuk melepas barang yang hanya jadi titipan.

Rabu, 30 Desember 2015

Maskapai Penerbangan Indonesia (berdasarkan pengalaman)

(Ditulis 28 September 2015, diperbaharui 30 Desember 2015) 

Sebagai anak rantau yang kini tinggal terpisah pulau dari rumah, mau tak mau si burung besi adalah satu-satunya transportasi paling efektif untuk sampai rumah. Jarak Jakarta-Sumatera Utara yang bila ditempuh melalui perjalanan darat baru bisa  ditempuh selama 3 hari 2 malam atau 2 hari 3 malam, dengan pesawat hanya dibutuhkan waktu 2 jam 15 menit ke Medan, atau 1 jam 40 menit ke Padang, atau 1 jam 50 menit ke Pekanbaru. Dulu, bis-bis besar lintas provinsi dan lintas pulau semacam ALS masih berjaya ketika masih banyak orang yang bergantung padanya karena pesawat masih merupakan barang mewah.

Sekarang? Dengan terus meningkatnya demand terhadap layanan penerbangan ditambah berkembangnya berbagai maskapai penerbangan dan persaingannya untuk merangkul penumpang, boleh dikata naik pesawat sudah bergeser dari kotak “mewah” menjadi semacam “kebutuhan”. Contoh, tiket pesawat Jakarta-Medan untuk pertengahan 2015 pada hari biasa non liburan normalnya berkisar Rp700-an ribu rupiah. Sedangkan naik bis ALS Jakarta- Medan kira-kira Rp500 ribu. Iya, masih beda 200 ribu. Tapi 200 ribu itu udah bisa dikonversi untuk efektivitas waktu, efektivitas tenaga, belum dalam perjalanan naik bis 2 hari 3 malam itu pasti berhenti makan kan? Perkirakan akan 6 kali makan dengan kira-kira sekali makan butuh 25 ribu, 6x25 ribu = 150 ribu. Masih selisih 50 ribu, tapi tenaga dan waktu masih tersimpan dengan baik.

Saya naik pesawat pertama kali di bulan September 2009, ketika harus daftar ulang untuk masuk kuliah. Sampai hari ini, kira-kira setelah 6 tahun sejak saya masih kagok pakai seatbelt, terhitung masih lebih kurang 30-an kali saya duduk manis di pesawat. Dari zaman kuliah yang tiap beli tiket di agen travel bilangnya, “Mbak, pesawat ke Medan, Padang, atau Pekanbaru tanggal sekian yag paling murah berapa mbak?”, yang masih zaman gak mikir itu maskapai apa atau penerbangan pukul berapa (yang penting murah), hingga sekarang yang mulai ikhlas bayar sedikit lebih mahal demi sebuah “kenyamanan”.

Penerbangan saya yang paling fresh adalah perjalanan saya dari Padang-Jakarta hari Minggu 27 September kemarin. Sambil memandangi kursi biru pesawat, jendela darurat di sebelah kiri, dan flight attendance  Sriwijaya Air, entah kenapa tiba-tiba tercetus ide untuk menulis sedikit tentang pengalaman terbang saya bersama berbagai maskapai. Niat yang baru bisa saya laksanakan keesokan harinya karena saya baru sampai di kosan lewat tengah malam dan memilih langsung beristirahat.

1.       Batavia
Saya hanya sempat merasakan layanan maskapai ini 2 kali, Jakarta-Pekanbaru dan Pekanbaru-Jakarta sebelum kemudian akhirnya tutup dan berhenti beroperasi. Tidak banyak yang bisa ceritakan karena saya tidak terlalu ingat juga. Kemungkinan standar (berpatok pada saya tak terlalu mengingat hal baik maupun hal buruknya).

2.       Lion Air
Kalau maskapai yang satu ini sih udah jadi juaranya tenar hahaha. Hubungan saya dan Lion Air semacam hubungan pasangan yang putus-sambung, lebih tepatnya Love-Hate relationship. Cinta tapi benci. Benci, tapi rindu.

Soal delay, jangan ditanya lagi, Lion juaranya. Bahkan sampe ada plesetan jargon LION= Late is Our Nature. Tak terhitung berapa kali saya di-PHP, dikecewakan, luntang-lantung di bandara karena delay 5 jam dan tidak ada snack maupun makan besar sebagai kompensasi. Saya marah, kecewa dan menyesal. Tapi beberapa bulan kemudian ketika hunting tiket lagi, tetap saya rujuk kembali (walau tak sepenuh hati) karena penerbangan maskapai ini tetap berada di bagian teratas waktu filter kategori termurah (hahahaha.. ).

Satu hal lagi yang saya rasa perlu ditingkatkan kualitasnya oleh Lion Air adalah pelayanan oleh kru, baik ground, boarding, maupun flight attendant. Dari sekian belas perjalanan saya bersama Lion, ada satu kejadian yang saya ingat sekali (mudah-mudahan ini bukan karena dendam ^^). H-2 Lebaran 1435 Hijriah, bertepatan 26 Juli 2014. Saya dapat perlakuan yang membuat saya benar-benar harus berusaha keras menahan air mata biar tidak jatuh. Mungkin terdengar cengeng, tapi saya tipe orang yang tidak bisa menyampaikan kemarahan. Jadi, kalau saya sudah kesal sekali ataupun marahnya level atas, larinya pasti ke nangis hahahaha. Tapi tak perlu saya ceritakan detail lah seperti apa, mudah-mudahan itu perilaku oknum saja (namun sayangnya hampir dipastikan yang tercoreng adalah nama instansi, kan?)

Tapi di balik cerita delay dan beberapa kejadian dengan kru Lion Air baik yang saya alami maupun saya saksikan, keunggulan Lion Air yang paling utama adalah banyaknya pilihan penerbangan yang memudahkan calon penumpang. Saya rasa untuk urusan pilihan jam keberangkatan dan pilihan kota tujuan, Lion Air menguasai hampir separuh pangsa pasar penerbangan. Karenanya seandainya Lion didemo dan dipaksa tutup dan berhenti beroperasi, yang pertama panik dan gelagapan selain pihak internal perusahaan adalah penumpang-penumpang yang setia (Iya, setia. Tingkat setia yang tinggi sampe di-PHP-in, dikecewakan, ditelantarkan tetap masih akan berlabuh ke Lion lagi :’D). Tak heran seorang Rudi Kirana pun mengakui dan berkata “Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya, ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu” ketika diwawancara dan diminta membandingkan Lion Air dengan airlines di Amerika.

Lion lagi? Well, jika nanti-nanti tak ada pilihan yang lebih lumayan, mungkin saya akan terus memelihara hubungan Love-Hate ini :’).

3.       Citilink
Naik citilink baru dua kali, ketika pulang liburan semester 2011, Jakarta-Medan dan terakhir perjalanan Medan-Jakarta selepas dinas pada tanggal 6 Desember 2015. Penerbangan terakhir saya delay 90 menit dari jadwal yang tertera di boarding pass.

4.       Sriwijaya Air
Sejauh ini saya sudah menumpang layanan penerbangan maskapai ini setidaknya sebanyak 5 kali. Namun 2 penerbangan terakhir saya dengan Sriwijaya sangat berkesan dan sulit dilupakan. Penerbangan Jakarta-Padang pada H-3 lebaran 1436 Hijriah (lebaran Idul Fitri Juli 2015 kemarin). Delay sekian jam. Okelah, masalah delay mungkin sudah mulai saya anggap tidak terlalu serius mengingat hampir semua maskapai penerbangan kita agak susah untuk lepas dari kendala ini. Yang saya paling tidak bisa lupakan saat itu adalah layanan yang diberikan oleh kru dan tim Sriwijaya Air, kru boarding di ruang tunggu dan flight attendance selama penerbangan.
Dikarenakan delay beberapa jam dan tidak ada pengumuman resmi maupun info apa-apa yang diberikan kepada calon penumpang, akhirnya beberapa orang bertanya langsung kepada kru yang ada di belakang meja service desk ruang tunggu (ada kru dari penerbangan lain juga, tapi kru sriwijaya tetap bisa dikenali dengan seragam hijau dan logo maskapainya). Nah, kejadian bertanya informasi pasti ini terjadi beberapa kali. Setelah mungkin beberapa orang yang hilir mudik bertanya, sepertinya si mbak kru Sriwijaya tadi mulai kesal sampai terdengar suaranya meninggi dan setengah berteriak,
“Yang Sriwijaya beloooom !! susah banget sih dibilangin !! kita tuh juga gak tau apa-apa, Pak. Kita kan tugasnya hanya bantu proses boarding ke pesawat, soal kenapa delay ya jangan paksa kita jawab doong !!!”, begitu kira-kira kilah si mbak yang kemudian menarik minat sebagian orang untuk menolehkan pandangan menonton adegan ini. Secara rasionalitas, yang dikatakan beliau mungkin benar adanya. Walaupun berada dalam satu bendera maskapai yang sama, namun tugas kru check in, kru boarding, dan flight attendance berbeda-beda dan terbatas pada job desk-nya saja. Namun alangkah lebih bijak kalau menanggapinya bisa dilakukan dengan bahasa yang lebih sopan dan halus, lebih baik lagi disampaikan secara massal agar seluruh penumpang tahu bahwa ada keterlambatan pesawat dan tidak perlu bertanya-tanya kebingungan atau bahkan ragu apakah mereka salah masuk ruang tunggu atau tidak.

Selanjutnya, masih di penerbangan yang sama, ketika pesawat sedang melaju di ketinggian sekian ratus kaki di udara, tim flight attendance  pun berkeliling dengan troli makanan dan bersiap membagikan kotak roti dan air mineral. Persis ketika akan menyerahkan kotak snack kepada penumpang di depan saya, salah seorang flight attendance  yang bertugas tersebut tidak sengaja menjatuhkan kotak sehingga roti dan cemilan di dalamnya menyentuh lantai. Dan yang membuat saya geleng2 adalah, roti dan cemilan tersebut dimasukkan kembali ke kotak dan diberikan kepada penumpang seolah tak terjadi apa-apa. Masalah higenitas mungkin bisa dikesampingkan mengingat roti maupun cemilan masih terbungkus plastik, tapi untuk hal kesopanan dan kepatutan sepertinya tindakan tadi bukan pilihan yang tepat.

5.       Garuda Airlines
Untuk layanan maskapai dalam negeri, Garuda Indonesia memang masih unggul mutlak dibandingkan maskapai lainnya. Walau pada pengalaman bersama Garuda Airlines pernah merasakan yang namanya delay juga, tapi sejauh pengalaman saya, keramahan dan kesigapan tim untuk melayani memang belum dapat ditandingi oleh maskapai lain.

6.       Batik Air
Batik Air hadir menjembatani kualitas prima Garuda dan harga terjangkau Lion Air. Menjanjikan kelas yang lebih elegan dari Lion namun dengan harga yang lebih terjangkau daripada Garuda. Sejauh ini, saya sudah 5 kali menumpang pesawat milik maskapai ini. Sebagian besarnya memuaskan. Space lebih luas, layanan hiburan di atas pesawat, ketersediaan konsumsi. Sayangnya di penerbangan terakhir saya dari Jakarta menuju Medan pada 2 Desember kemarin, awak penerbangan yang bertugas agaknya masih awak junior. Terlihat dari kurangnya konsentrasi dalam melayani penumpang, mengobrol dan tertawa keras-keras sepanjang  membagikan konsumsi kepada penumpang, juga dari gerak laku tangan dalam penyajian makanan di depan penumpang. Tapi secara keseluruhan, Batik Air kini menjadi alternatif pertama selain garuda yang saya pilih ketika merencanakan perjalanan.


Terlepas dari semua pengalaman tersebut, semoga industri penyedia layanan penerbangan Indonesia semakin berkembang dan berbenah mengingat kebutuhan masyarakat akan transportasi udara juga kian meningkat.