Kamis, 10 April 2014

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah:216)

Amplop itu, akhirnya tiba jua.

Rabu, 26 Maret 2014

Kronologis sebuah amplop

Senin, 17 Maret 2014
Kabar yang awal yang menyebutkan bahwa angkatan kita akan penempatan maksimal pada hari ini terbukti tidak benar. Karena disinilah kami, di sebuah gedung hotel di bilangan mangga dua, Jakarta. Bukan untuk rapat, juga bukan karena ikut nebeng makan gratis karena ada acara konsinyering dari kantor. Hari ini kita berseratus diwajibkan mengikuti ujian (lagi) untuk yang kesekian kalinya. Jadilah ujian berembel-embel mapping pegawai ini mempertemukan kita semua lagi di satu tempat setelah terakhir kali berkumpul ketika pendidikan. Suasana pagi itu dihiasi banyak tawa dan sapa rindu antar sesama, terutama teman-teman yang jarang bertemu dikarenakan ditempatkan di kantor yang berbeda. Pemikiran tentang penempatan sejenak kami lupakan, menikmati lagi saat-saat berkumpul. Hingga kemudian kekhusyukan pagi itu berubah karena Negara api menyerang Bapak Kepala bagian kepegawaian (yang kita tunggu sejak pukul 07.30 dan baru hadir pukul 09.15) tiba-tiba menyebutkan komentar yang tidak kami duga.
“ Insya Allah dua hari lagi kalian akan menerima amplop tertutup”
Setelah perkataan beliau tersebut, suasana langsung gempar, semua membuka mulut, heboh beradu pendapat dengan teman sebelahnya, ucapan syukur dan teriakan gembira, atau sekadar ekspresi terkejut dengan wajah melongo.
Dan seperti itu, harapan itu mulai pelan-pelan kami biarkan tumbuh lagi.

Rabu, 19 Maret 2014
Sejak Senin kemarin, entah kenapa wajah-wajah (sok) polos kami rasanya selalu dipenuhi senyum. Percakapan mulai bergeser dari pendapat skeptis dan sinis, beralih menjadi ungkapan optimis dan bahagia. Saat absen pagi, bertemu beberapa teman di lobi kantor, saling bertukar kabar dan cerita-cerita lucu tentang mimpi semalam. Ada yang berkata dapat feeling akan menangis, ada yang bilang punya firasat mungkin akan “dibuang” ke daerah timur, tapi tetap, semua itu disampaikan  dengan air muka sumringah.
Pukul 10.00. Grup angkatan di media sosial mulai ramai, mempertanyakan mengapa hingga detik itu belum jua ada perintah untuk berkumpul di ruang besar, tempat dimana biasanya peristiwa istimewa dilaksanakan.
Pukul 11.27. Pesan berantai diterima dari ketua angkatan.
“Pembagian amplop diundur seminggu lagi karena menunggu Pak Dirjen pulang.. Sekian, Terima kasih.”
Fix, berarti bukan Rabu. Insya Allah minggu depan, begitu masing-masing dari kami menghibur diri. Rasa ragu mulai tumbuh, tapi harapan itu masih kami pelihara, meski entah kenapa kian hari ia kian semakin kerdil.

Senin, 24 Maret 2014
Semua masih menanti. Tidak ada yang mau jauh dari telepon genggam masing-masing, karena dari alat tersebutlah berita dan perintah berkumpul harusnya diterima. Sayangnya, di siang hari kami terima kabar bahwa hari ini Sang Beliau sangat sibuk, mungkin menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk setelah sembilan hari kerja tak masuk kantor. Besok, begitu kata pihak yang berwenang menenangkan. Dan senyum-senyum itu mulai memudar, berganti sorot mata ragu-ragu.

Rabu, 26 Maret 2014
Besok, kata mereka di hari Senin kemarin. Artinya Selasa, dan hari Selasa telah berlalu. Kata-kata optimis menghilang lagi. Percakapan-percakapan skeptis berkembang lagi. Dan semua makin subur begitu mendengar bahwa pasti tidak mungkin dalam minggu ini, karena Sang Beliau sudah ada kegiatan padat melaksanakan tugas Negara hingga hari Jum’at di luar kota. Baiklah. Dan semuanya seolah pecah.
Satu tahun lima bulan. Mungkin ini puncaknya. Kalau digambarkan dalam kurva parabola, maka ini adalah titik balik, posisi tertinggi atau terendah yang bisa dicapai oleh titik tertentu.Mungkin ini, titik jenuh kami.


Mungkin dari sudut pandang orang lain terkesan tak sabaran dan berlebihan. Tapi begitulah, mungkin akan terasa berbeda bila merasakannya sendiri. Dan sekarang, untuk sementara sepertinya tak ada yang ingin membahas tentang hal ini dulu. Kita tunggu sajalah akan seperti apa jadinya. Kan sudah commitment toh kalau kepentingan Negara diatas kepentingan pribadi? :D

Selasa, 25 Maret 2014

janji dan kesempatan

Satu angka berwarna merah yang berada di deretan angka-angka kalender merupakan satu lagi hari bahagia untuk para pekerja kantoran. Apalagi letaknya di awal atau akhir minggu. Seperti akhir minggu di penghujung Januari kemarin. Libur tiga hari tanpa harus ke kantor dan sejenak melupakan tumpukan berkas kerja adalah berkah tiada tara. Tak heran kalau sebagian besar teman satu kost atau rekan kerja memilih untuk mudik. Pulang sejenak, mengunjungi orang tua atau sekadar me-recharge semangat. Sayangnya saya belum bisa pulang, akhirnya hanya bertiga di kosan. Tapi tak apalah, masih ada empat dorama dan tiga novel lagi untuk dilahap. Hidup masih indah :D

Tadi pagi di kantor, ruangan berlimpah oleh-oleh dari berbagai daerah. Obrolan tentang tiket kereta, delay penerbangan dan jalur bis yang macet menjadi topik hangat sepanjang pagi. Senang rasany melihat wajah-wajah ceria, penuh semangat setelah menghabiskan waktu walau hanya satu hari kembali ke keluarga masing-masing.

Tadi, saya sempat berdiskusi dengan seorang kawan tentang  alas an mengapa ia memilih untuk tidak pulang, padahal jarak rumahnya lumayan tidak jauh dari ibukota, dan menururt saya bisa diakomodasilah dibandingkan saya yang punya keluarga nun di utara Sumatera, jauh dari Bandara pula. Si kawan tersenyum, menjelaskan bahwa ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pulang sebelum membawa SK di tangan dan beberapa gepok rupiah sebagai lambing kesuksesan. Saya Cuma bisa be-ooh ria.

Tiba-tiba pikiran saya melayang diterbangkan waktu, hinggap dan mendarat di suatu malam tujuh tahun yang lalu. Suatu malam selepas isya di mesjid asrama, kajian kali itu diisi oleh kakak alumni yang baru pertama kami kenali wajahnya, tetapi telah kami kenal baik lewat cerita turun temurun kakak-kakak kelas yang lain. Malam itu, si kakak tidak mengajarkan kami tentang hadits atau membimbing kami memperbaiki bacaan Qur’an seperti jadwal biasanya. Malam itu ia hanya bercerita, murni bercerita. Bertutur tentang penyesalan paling dalam yang pernah ia rasakan. Bukan karena terlambat check in dan ketinggalan pesawat sehingga beasiswa full 4 tahun di Jepang hangus tanpa jejak, bukan kepengecutan yang mengakibatkan wanita yang selama ini ia harapkan akhirnya pergi dan hanya meninggalkan selembar undangan pernikahan, tapi yang paling ia sesali adalah kesombongannya, kebesaran ego lelakinya yang membuatnya sempat beradu pendapat dan  berjanji tak akan menampakkan wajah di rumah sebelum ijazah di tangan dan pekerjaan jelas diperoleh. Hingga pada saat semua itu ia dapatkan, saat ia dengan bangga kembali ke rumah, yang ia dapati adalah gundukan tanah merah, tempat ayahandanya beristirahat untuk selamanya. Hal itu menjadi pukulan telak bagi beliau, hingga selembar ijazah dan tumpukan rupiah yang ia bawa pulang itu rasanya tak ada harganya lagi.



Tadinya ingin saya sampaikan kisah ini kepada si kawan, tapi entah kenapa pada akhirnya saya malah memilih diam dan manggut-manggut sok mengerti. Mungkin kondisi dan posisi tiap orang berbeda. Mungkin prioritas dan tujuan tiap orang berbeda. Yang pasti, cara pandang dan pola pikir tiap manusia tak sama.

Kubikel pojok, 
4 Februari 2014
16.35

Jumat, 21 Maret 2014

Setiap aku merasa dekat dengan seseorang, maka setiap kali aku menganggap ia berpikiran sama
Berpikir aku harusnya sadar ketika ia ada masalah, menganggap aku harusnya tahu bila ia hendak kemana
Tapi berkaca lagi, sepertinya ada yg salah
Mungkin itu justru membuat orang lain merasa terkekang dan sesak
Sedikit demi sedikit, harus belajar untuk lebih memahami bahwa aku bukanlah poros dunia

Sedikit demi sedikit, harus belajar untuk melonggarkan ikatan tanpa melepasnya

Kamis, 06 Maret 2014

Bisik Bisik

"Berbahagialah, Insya Allah akhir bulan ini" kata beliau.
"Eh, eh, pertengahan februari"
"mungkin akhir februari..."
"Yah.. udah Maret, April kali yak?"
"Ssst.. Aku percaya, pokoknya sebelum 17 Maret. Yakin Aku !!!"


Kasak kusuk.
Simpang Siur.
Mungkin seperti kata seorang teman,
"Kita butuh harapan, walaupun ia hanya sekedar harapan palsu"

Minggu, 23 Februari 2014

baik sangka

kita hidup di tengah-tengah khalayak
yang selalu berbaik sangka…
alangkah berbahayanya
terlalu percaya pada baik sangka mereka
membuat kita tak lagi jujur pada diri
atau menginsyafi, bahwa kita tak seindah prasangka itu
tapi keinsyafan membuat kadang terfikir
bersediakah mereka tetap jadi saudara
saat tahu siapa kita sebenarnya
kadang terasa, bersediakah dia tetap menjadi sahabat
saat tahu hati kita tak tulus, penuh noda dan karat
dan… bersediakah dia tetap mendampingi kita dalam dekapan ukhuwah
ketika tahu bahwa iman kita berlubang-lubang
inilah bedanya kita dengan Sang Nabi
dia dipercaya, karena dia dikenal
sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya
sementara kita dipercaya, justru karenamereka semua tidak mengenal kita…yang ada hanya baik sangka…
~Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah~

Aku merinding, membayangkan mereka tahu.
Aku menggigil, menutup rapat semua pintu.
Aku menggugu, berharap Kau tutup semua aib.
Aku tersedu, terduduk tak berdaya.
Siapalah aku? Dan apa dayaku?
Sungguh, tak ada yang patut kusombongkan di hadapan-MU

Kamis, 20 Februari 2014

jakarta

Sometimes I think Jakarta isn’t a place to start a family. Ketika seorang ayah harus buru-buru pulang dari kantor untuk merayakan ulang tahun anaknya tapi terjebak macet dan tiba di rumah setelah anaknya tertidur masih mengenakan topi ulang tahun. Atau ketika seorang ibu muda ingin merasakan bagaimana menyusui anaknya sendiri namun harus rela memakai perantara breast pump dan botol susu karena kesibukannnya di kantor. When times that are supposed to be spent with our loved ones are eaten by the busy street of this city.
–Ika Natassa, Divortiare-

Terlepas dari bagaimana isi cerita dalam novel ini, quotes di atas adalah salah satu part favorit saya dalam buku tersebut. Bagi saya yang berasal dari kota kecil, pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta adalah momen yang luar biasa bagi saya yang dulu. Kawanan bangunan tinggi menjulang di semua sisi, barisan kendaraan mentereng yang seolah merayap tak habis-habis. Jakarta, adalah representasi dunia modern bagi kami yang datang dari daerah.

Empat tahun tinggal di kota ini (walau tiga tahunnya sebenarnya di pinggiran, sebut saja Bintaro), keistimewaan itu pudar sedikit demi sedikit, berganti sesak dan suntuk akan keramaian, lelah dan penat karena semua hal.dan keinginan untuk segera menjauh dari sini semakin kuat kian hari.

Hidup di kota metropolitan terbesar di Indonesia ini memang punya dua sisi bertolak belakang. Diliputi kemudahan dalam berbagai hal, juga dikelilingi risiko yang sepaket dengan keputusan. Jakarta berlimpah fasilitas. Apa sih yang tak ada disini? Media mencari ilmu ada di setiap tempat. Universitas, sekolah, tempat kursus, komunitas apa pun ada di sini. Ingin mendalami agama? Beragam pengajian dan kajian bertebaran di setiap tempat, ingin ikut Kaderisasi Tarbiyah, majelis Rasulullah, majelis taklim, kajian dzikr, pergerakan dakwah pemuda, tinggal pilih mau menghadiri yang mana. Segala macam fasilitas olahraga ada, semua barang-barang kebutuhan tersedia, dari yang murahnya membuat tercengang hingga yang mahalnya ampun-ampunan. Lengkap. Sekali lagi, semua ada di sini.

Ada keuntungan, tentunya ada konsekuensi juga untuk itu. Maka bersiaplah untuk bertemu kemacetan di hampir setiap persimpangan jalan, tak peduli pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Maka berhati-hatilah akan tindakan kriminalitas yang terkadang tak kita sadari jauh lebih dekat dari yang kita bayangkan. Maka lindungi diri dari gemerlap pergaulan dan dunia hiburan yang kini bukan menjadi hal tabu lagi, menggeser sedikit demi sedikit standar moral penduduknya.

Mungkin terdengar skeptis dan sinis, terutama bagi teman-teman yang memilih untuk menetap di Jakarta. Tapi apalah daya, pemikiran setiap orang berbeda, dan itu pendapat saya.


Mengaitkan Jakarta dan perihal penempatan kerja, oleh sebab itu saya lebih memilih ditempatkan di kota kecil yang tenang ketika sebagian besar sahabat yang lain berharap dapat penempatan Kantor Pusat. Minggu demi minggu berlalu, berita itu sudah naik dan turun ke permukaan hingga beberapa kali, tapi hingga detik ini, perihal penempatan ini masih misteri yang belum terpecahkan

Kamis, 09 Januari 2014

cerita dari atas metromini

Hari ini saya menumpang kendaraan reot berwarna oranye itu lagi bersama puluhan orang yang berebut naik, lelah karena sejak pagi duduk di depan komputer atau mungkin tiba-tiba merasa gerah karena seharian terbiasa dengan semilir AC di ruang kerja.
Saya naik metromini yang sama dengan seorang rekan almamater yang juga kini jadi rekan kerja di kantor yang sama. Saya pertama kali kenal dengannya pada saat diklat pelatihan kerja. Teringat bagaimana teman-teman lelaki yang lain selalu bercanda sinis ketika bersama dia atau di lain waktu tertawa menyebalkan ketika namanya muncul dalam topik obrolan mereka. Hanya karena satu alasan, bahwa menurut mereka si teman tersebut “kurang maskulin”. Sebenarnya bukan itu istilah yang mereka gunakan, tapi sebut saja begitu karena mungkin itu istilah paling sopan yang bisa saya temukan.

Kembali ke cerita metromini dan si teman, lokasi kosan kita yang searah dan hanya bisa ditempuh dengan angkutan umum bernama metromini menjadikan kami sering bertemu di bis reot itu. Dia anak yang menyenangkan dan penuh humor, tidak terlalu rame tapi cukup ramah. Dan satu hal yang selalu saya perhatikan adalah bahwa dalam perjalanan pergi atau pulang kantor hampir tidak pernah dia duduk di metromini. Tidak, bukan karena tak kebagian kursi. Letak kantor kami masih di awal rute dan biasanya metromini yang melintas masih lumayan kosong, namun dia selalu memberikan kursinya untuk penumpang wanita yang lain. Beberapa penumpang pria terkadang memberikan kursinya untuk ibu-ibu yang sudah berumur, atau yang sedang hamil, atau yang membawa anak, atau yang menenteng banyak belanjaan. Tapi si teman ini rasanya tak pernah memilih-milih, seorang wanita kantoran dengan pakaian modis, anak sekolah yang tertawa cekikikan, ibu-ibu yang pulang belanja dengan wajah judes, atau teman-teman sebaya yang perempuan, selalu ia persilahkan duduk di kursinya dan ia memilih untuk berdiri.

Tadi sore kami naik metromini yang sama lagi, juga dengan beberapa rekan kerja saya yang lain. Semua kebagian tempat duduk, hingga beberapa meter kemudian naiklah dua orang ibu setengah baya. Yang seorang tampak berkeringat kelelahan sambil menjinjing bungkusan yang saya pikir adalah barang belanjaannya, sedangkan ibu yang lainnya berusaha mencari pegangan dan mengapit erat tas “Chanel” yang tersampir di bahunya. Seperti yang sudah saya duga, si teman tadi sigap berdiri, mempersilahkan ibu dengan plastik belanjaan itu duduk. Akhirnya saya memilih untuk berdiri juga, memberikan kursi untuk ibu dengan tas Chanel, yang ia sambut dengan senyum.
Saat itu saya banyak berpikir, memperhatikan gerombolan rekan kerja saya lainnya yang sibuk tertawa terbahak-bahak entah memperbincangkan apa. Padahal dua ibu tadi naik dari pintu depan yang persis dengan deretan bangku mereka, tapi sampai dua ibu itu duduk, tak sedikit pun perhatian mereka beralih, walau sejenak untuk melihat. Sementara si teman yang duduk hampir di kursi paling belakang cepat tanggap dan beraksi jantan.


Hingga malam ini saya jadi kepikiran dengan kejadian itu. Ah, di satu sisi mungkin ini efek samping gembar-gembor emansipasi wanita yang didengungkan banyak orang dan akhirnya ditanggapi berbeda oleh kaum lelaki. Tapi di sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, ukuran apa yang teman-teman saya tadi gunakan untuk mencap seseorang cukup maskulin atau tidak. Karena dari kacamata saya, tingkah mereka tadi sore sungguh bukan perilaku seorang gentlemen sejati. Atau mungkin saya yang terlalu kolot dan menganggap dongeng-dongeng pangeran Disney itu benar adanya? Entahlah.

Senin, 30 Desember 2013

Tentang kelebat mendung yang bertamu tadi pagi, betapa aku curiga ada konspirasi di balik semua ini. Mungkin antara supir metro mini, pak satpam kantor, abang penjual jus, dan pak atasan ruang sebelah telah bersekongkol untuk membuat hari ini lebih semarak.
Sungguh hari yang menarik.
Dan saya hanya bisa tertawa kikuk (lagi).

Jumat, 27 Desember 2013

selesai

Benar, semua sudah selesai sekarang.
Logikamu berjalan lurus, hanya hatimu yang masih berat menerima.
Mungkin kamu hanya rindu degup2 riang tak beraturan itu.
Mungkin kamu hanya tidak ingin melupakan sentakan elektrik yang selalu terjadi tiap kalian tak sengaja berpapasan.
Mungkin kamu hanya sudah terbiasa pada ada, sehingga ketiadaan berasa asing bagimu.
kurasa kamu pun masih ingat, kata-katanya di siang itu,
"Kamu tidak sedang jatuh cinta, sayang. Kamu hanya terobsesi dengan ide-ide tentang mencintai dan dicintai."