Hidup ini indah. Kau hanya harus menyadari beberapa hal. sesederhana buram jendela karena tempias hujan, sesederhana ribuan lagu yang tak pernah berhenti bersenandung. sesederhana derai sunyi yang menenangkan. hidup ini indah, karena bahagia itu sederhana.
Kamis, 10 April 2014
Rabu, 26 Maret 2014
Kronologis sebuah amplop
Senin, 17 Maret 2014
Kabar yang
awal yang menyebutkan bahwa angkatan kita akan penempatan maksimal pada hari
ini terbukti tidak benar. Karena disinilah kami, di sebuah gedung hotel di
bilangan mangga dua, Jakarta. Bukan untuk rapat, juga bukan karena ikut nebeng
makan gratis karena ada acara konsinyering dari kantor. Hari ini kita
berseratus diwajibkan mengikuti ujian (lagi) untuk yang kesekian kalinya.
Jadilah ujian berembel-embel mapping pegawai ini mempertemukan kita semua lagi
di satu tempat setelah terakhir kali berkumpul ketika pendidikan. Suasana pagi
itu dihiasi banyak tawa dan sapa rindu antar sesama, terutama teman-teman yang
jarang bertemu dikarenakan ditempatkan di kantor yang berbeda. Pemikiran
tentang penempatan sejenak kami lupakan, menikmati lagi saat-saat berkumpul.
Hingga kemudian kekhusyukan pagi itu berubah karena Negara api menyerang Bapak
Kepala bagian kepegawaian (yang kita tunggu sejak pukul 07.30 dan baru hadir
pukul 09.15) tiba-tiba menyebutkan komentar yang tidak kami duga.
“ Insya
Allah dua hari lagi kalian akan menerima amplop tertutup”
Setelah perkataan beliau tersebut, suasana langsung gempar,
semua membuka mulut, heboh beradu pendapat dengan teman sebelahnya, ucapan
syukur dan teriakan gembira, atau sekadar ekspresi terkejut dengan wajah
melongo.
Dan seperti itu, harapan itu mulai pelan-pelan kami biarkan
tumbuh lagi.
Rabu, 19 Maret 2014
Sejak Senin
kemarin, entah kenapa wajah-wajah (sok) polos kami rasanya selalu dipenuhi
senyum. Percakapan mulai bergeser dari pendapat skeptis dan sinis, beralih
menjadi ungkapan optimis dan bahagia. Saat absen pagi, bertemu beberapa teman
di lobi kantor, saling bertukar kabar dan cerita-cerita lucu tentang mimpi
semalam. Ada yang berkata dapat feeling akan menangis, ada yang bilang punya
firasat mungkin akan “dibuang” ke daerah timur, tapi tetap, semua itu
disampaikan dengan air muka sumringah.
Pukul 10.00.
Grup angkatan di media sosial mulai ramai, mempertanyakan mengapa hingga detik
itu belum jua ada perintah untuk berkumpul di ruang besar, tempat dimana
biasanya peristiwa istimewa dilaksanakan.
Pukul 11.27.
Pesan berantai diterima dari ketua angkatan.
“Pembagian
amplop diundur seminggu lagi karena menunggu Pak Dirjen pulang.. Sekian, Terima
kasih.”
Fix, berarti bukan Rabu. Insya Allah minggu depan, begitu
masing-masing dari kami menghibur diri. Rasa ragu mulai tumbuh, tapi harapan
itu masih kami pelihara, meski entah kenapa kian hari ia kian semakin kerdil.
Senin, 24 Maret 2014
Semua masih menanti. Tidak ada yang mau jauh dari telepon
genggam masing-masing, karena dari alat tersebutlah berita dan perintah
berkumpul harusnya diterima. Sayangnya, di siang hari kami terima kabar bahwa
hari ini Sang Beliau sangat sibuk, mungkin menyelesaikan pekerjaan yang
menumpuk setelah sembilan hari kerja tak masuk kantor. Besok, begitu kata pihak
yang berwenang menenangkan. Dan senyum-senyum itu mulai memudar, berganti sorot
mata ragu-ragu.
Rabu, 26 Maret 2014
Besok, kata mereka di hari Senin kemarin. Artinya Selasa,
dan hari Selasa telah berlalu. Kata-kata optimis menghilang lagi.
Percakapan-percakapan skeptis berkembang lagi. Dan semua makin subur begitu
mendengar bahwa pasti tidak mungkin dalam minggu ini, karena Sang Beliau sudah
ada kegiatan padat melaksanakan tugas Negara hingga hari Jum’at di luar kota.
Baiklah. Dan semuanya seolah pecah.
Satu tahun lima bulan. Mungkin ini puncaknya. Kalau
digambarkan dalam kurva parabola, maka ini adalah titik balik, posisi tertinggi
atau terendah yang bisa dicapai oleh titik tertentu.Mungkin ini, titik jenuh
kami.
Mungkin dari sudut pandang orang lain terkesan tak sabaran
dan berlebihan. Tapi begitulah, mungkin akan terasa berbeda bila merasakannya
sendiri. Dan sekarang, untuk sementara sepertinya tak ada yang ingin membahas
tentang hal ini dulu. Kita tunggu sajalah akan seperti apa jadinya. Kan sudah
commitment toh kalau kepentingan Negara diatas kepentingan pribadi? :D
Selasa, 25 Maret 2014
janji dan kesempatan
Satu angka berwarna merah yang berada di deretan angka-angka
kalender merupakan satu lagi hari bahagia untuk para pekerja kantoran. Apalagi
letaknya di awal atau akhir minggu. Seperti akhir minggu di penghujung Januari
kemarin. Libur tiga hari tanpa harus ke kantor dan sejenak melupakan tumpukan
berkas kerja adalah berkah tiada tara. Tak heran kalau sebagian besar teman
satu kost atau rekan kerja memilih untuk mudik. Pulang sejenak, mengunjungi
orang tua atau sekadar me-recharge semangat. Sayangnya saya belum bisa pulang,
akhirnya hanya bertiga di kosan. Tapi tak apalah, masih ada empat dorama dan
tiga novel lagi untuk dilahap. Hidup masih indah :D
Tadi pagi di kantor, ruangan berlimpah oleh-oleh dari
berbagai daerah. Obrolan tentang tiket kereta, delay penerbangan dan jalur bis
yang macet menjadi topik hangat sepanjang pagi. Senang rasany melihat
wajah-wajah ceria, penuh semangat setelah menghabiskan waktu walau hanya satu
hari kembali ke keluarga masing-masing.
Tadi, saya sempat berdiskusi dengan seorang kawan
tentang alas an mengapa ia memilih untuk
tidak pulang, padahal jarak rumahnya lumayan tidak jauh dari ibukota, dan
menururt saya bisa diakomodasilah dibandingkan saya yang punya keluarga nun di
utara Sumatera, jauh dari Bandara pula. Si kawan tersenyum, menjelaskan bahwa
ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pulang sebelum membawa
SK di tangan dan beberapa gepok rupiah sebagai lambing kesuksesan. Saya Cuma
bisa be-ooh ria.
Tiba-tiba pikiran saya melayang diterbangkan waktu, hinggap dan
mendarat di suatu malam tujuh tahun yang lalu. Suatu malam selepas isya di
mesjid asrama, kajian kali itu diisi oleh kakak alumni yang baru pertama kami
kenali wajahnya, tetapi telah kami kenal baik lewat cerita turun temurun
kakak-kakak kelas yang lain. Malam itu, si kakak tidak mengajarkan kami tentang
hadits atau membimbing kami memperbaiki bacaan Qur’an seperti jadwal biasanya.
Malam itu ia hanya bercerita, murni bercerita. Bertutur tentang penyesalan
paling dalam yang pernah ia rasakan. Bukan karena terlambat check in dan
ketinggalan pesawat sehingga beasiswa full 4 tahun di Jepang hangus tanpa
jejak, bukan kepengecutan yang mengakibatkan wanita yang selama ini ia harapkan
akhirnya pergi dan hanya meninggalkan selembar undangan pernikahan, tapi yang
paling ia sesali adalah kesombongannya, kebesaran ego lelakinya yang membuatnya
sempat beradu pendapat dan berjanji tak
akan menampakkan wajah di rumah sebelum ijazah di tangan dan pekerjaan jelas
diperoleh. Hingga pada saat semua itu ia dapatkan, saat ia dengan bangga
kembali ke rumah, yang ia dapati adalah gundukan tanah merah, tempat
ayahandanya beristirahat untuk selamanya. Hal itu menjadi pukulan telak bagi
beliau, hingga selembar ijazah dan tumpukan rupiah yang ia bawa pulang itu
rasanya tak ada harganya lagi.
Tadinya ingin saya sampaikan kisah ini kepada si kawan, tapi
entah kenapa pada akhirnya saya malah memilih diam dan manggut-manggut sok
mengerti. Mungkin kondisi dan posisi tiap orang berbeda. Mungkin prioritas dan
tujuan tiap orang berbeda. Yang pasti, cara pandang dan pola pikir tiap manusia
tak sama.
Kubikel pojok,
4 Februari 2014
16.35
Jumat, 21 Maret 2014
Setiap aku merasa dekat dengan seseorang, maka setiap kali
aku menganggap ia berpikiran sama
Berpikir aku harusnya sadar ketika ia ada masalah,
menganggap aku harusnya tahu bila ia hendak kemana
Tapi berkaca lagi, sepertinya ada yg salah
Mungkin itu justru membuat orang lain merasa terkekang dan
sesak
Sedikit demi sedikit, harus belajar untuk lebih memahami
bahwa aku bukanlah poros dunia
Sedikit demi sedikit, harus belajar untuk melonggarkan
ikatan tanpa melepasnya
Kamis, 06 Maret 2014
Bisik Bisik
"Berbahagialah, Insya Allah akhir bulan ini" kata beliau.
"Eh, eh, pertengahan februari"
"mungkin akhir februari..."
"Yah.. udah Maret, April kali yak?"
"Ssst.. Aku percaya, pokoknya sebelum 17 Maret. Yakin Aku !!!"
Kasak kusuk.
Simpang Siur.
Mungkin seperti kata seorang teman,
"Kita butuh harapan, walaupun ia hanya sekedar harapan palsu"
"Eh, eh, pertengahan februari"
"mungkin akhir februari..."
"Yah.. udah Maret, April kali yak?"
"Ssst.. Aku percaya, pokoknya sebelum 17 Maret. Yakin Aku !!!"
Kasak kusuk.
Simpang Siur.
Mungkin seperti kata seorang teman,
"Kita butuh harapan, walaupun ia hanya sekedar harapan palsu"
Minggu, 23 Februari 2014
baik sangka
kita hidup di tengah-tengah khalayak
yang selalu berbaik sangka…
alangkah berbahayanya
terlalu percaya pada baik sangka mereka
membuat kita tak lagi jujur pada diri
atau menginsyafi, bahwa kita tak seindah prasangka itu
tapi keinsyafan membuat kadang terfikir
bersediakah mereka tetap jadi saudara
saat tahu siapa kita sebenarnya
kadang terasa, bersediakah dia tetap menjadi sahabat
saat tahu hati kita tak tulus, penuh noda dan karat
dan… bersediakah dia tetap mendampingi kita dalam dekapan ukhuwah
ketika tahu bahwa iman kita berlubang-lubang
inilah bedanya kita dengan Sang Nabi
dia dipercaya, karena dia dikenal
sebagai Al-Amin, orang yang terpercaya
sementara kita dipercaya, justru karenamereka semua tidak mengenal kita…yang ada hanya baik sangka…
~Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah~
Aku
merinding, membayangkan mereka tahu.
Aku menggigil, menutup rapat semua pintu.
Aku menggugu, berharap Kau tutup semua aib.
Aku tersedu, terduduk tak berdaya.
Aku menggigil, menutup rapat semua pintu.
Aku menggugu, berharap Kau tutup semua aib.
Aku tersedu, terduduk tak berdaya.
Siapalah
aku? Dan apa dayaku?
Sungguh, tak ada yang patut kusombongkan di hadapan-MU
Sungguh, tak ada yang patut kusombongkan di hadapan-MU
Kamis, 20 Februari 2014
jakarta
Sometimes I think Jakarta isn’t a place to start a family. Ketika seorang ayah harus buru-buru pulang dari kantor untuk merayakan ulang tahun anaknya tapi terjebak macet dan tiba di rumah setelah anaknya tertidur masih mengenakan topi ulang tahun. Atau ketika seorang ibu muda ingin merasakan bagaimana menyusui anaknya sendiri namun harus rela memakai perantara breast pump dan botol susu karena kesibukannnya di kantor. When times that are supposed to be spent with our loved ones are eaten by the busy street of this city.
–Ika Natassa, Divortiare-
Terlepas dari bagaimana isi cerita dalam novel ini, quotes
di atas adalah salah satu part favorit saya dalam buku tersebut. Bagi saya yang
berasal dari kota kecil, pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta adalah momen
yang luar biasa bagi saya yang dulu. Kawanan bangunan tinggi menjulang di semua
sisi, barisan kendaraan mentereng yang seolah merayap tak habis-habis. Jakarta,
adalah representasi dunia modern bagi kami yang datang dari daerah.
Empat tahun tinggal di kota ini (walau tiga tahunnya
sebenarnya di pinggiran, sebut saja Bintaro), keistimewaan itu pudar sedikit
demi sedikit, berganti sesak dan suntuk akan keramaian, lelah dan penat karena
semua hal.dan keinginan untuk segera menjauh dari sini semakin kuat kian hari.
Hidup di kota metropolitan terbesar di Indonesia ini memang
punya dua sisi bertolak belakang. Diliputi kemudahan dalam berbagai hal, juga
dikelilingi risiko yang sepaket dengan keputusan. Jakarta berlimpah fasilitas. Apa
sih yang tak ada disini? Media mencari ilmu ada di setiap tempat. Universitas,
sekolah, tempat kursus, komunitas apa pun ada di sini. Ingin mendalami agama? Beragam
pengajian dan kajian bertebaran di setiap tempat, ingin ikut Kaderisasi Tarbiyah,
majelis Rasulullah, majelis taklim, kajian dzikr, pergerakan dakwah pemuda,
tinggal pilih mau menghadiri yang mana. Segala macam fasilitas olahraga ada,
semua barang-barang kebutuhan tersedia, dari yang murahnya membuat tercengang
hingga yang mahalnya ampun-ampunan. Lengkap. Sekali lagi, semua ada di sini.
Ada keuntungan, tentunya ada konsekuensi juga untuk itu. Maka
bersiaplah untuk bertemu kemacetan di hampir setiap persimpangan jalan, tak
peduli pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Maka berhati-hatilah akan tindakan
kriminalitas yang terkadang tak kita sadari jauh lebih dekat dari yang kita
bayangkan. Maka lindungi diri dari gemerlap pergaulan dan dunia hiburan yang
kini bukan menjadi hal tabu lagi, menggeser sedikit demi sedikit standar moral
penduduknya.
Mungkin terdengar skeptis dan sinis, terutama bagi
teman-teman yang memilih untuk menetap di Jakarta. Tapi apalah daya, pemikiran
setiap orang berbeda, dan itu pendapat saya.
Mengaitkan Jakarta dan perihal penempatan kerja, oleh sebab
itu saya lebih memilih ditempatkan di kota kecil yang tenang ketika sebagian
besar sahabat yang lain berharap dapat penempatan Kantor Pusat. Minggu demi
minggu berlalu, berita itu sudah naik dan turun ke permukaan hingga beberapa
kali, tapi hingga detik ini, perihal penempatan ini masih misteri yang belum
terpecahkan
Kamis, 09 Januari 2014
cerita dari atas metromini
Hari ini saya menumpang kendaraan reot
berwarna oranye itu lagi bersama puluhan orang yang berebut naik, lelah karena
sejak pagi duduk di depan komputer atau mungkin tiba-tiba merasa gerah karena
seharian terbiasa dengan semilir AC di ruang kerja.
Saya naik metromini yang sama dengan
seorang rekan almamater yang juga kini jadi rekan kerja di kantor yang sama.
Saya pertama kali kenal dengannya pada saat diklat pelatihan kerja. Teringat
bagaimana teman-teman lelaki yang lain selalu bercanda sinis ketika bersama dia
atau di lain waktu tertawa menyebalkan ketika namanya muncul dalam topik
obrolan mereka. Hanya karena satu alasan, bahwa menurut mereka si teman
tersebut “kurang maskulin”. Sebenarnya bukan itu istilah yang mereka gunakan,
tapi sebut saja begitu karena mungkin itu istilah paling sopan yang bisa saya
temukan.
Kembali ke cerita metromini dan si teman,
lokasi kosan kita yang searah dan hanya bisa ditempuh dengan angkutan umum
bernama metromini menjadikan kami sering bertemu di bis reot itu. Dia anak yang
menyenangkan dan penuh humor, tidak terlalu rame tapi cukup ramah. Dan satu hal
yang selalu saya perhatikan adalah bahwa dalam perjalanan pergi atau pulang
kantor hampir tidak pernah dia duduk di metromini. Tidak, bukan karena tak
kebagian kursi. Letak kantor kami masih di awal rute dan biasanya metromini
yang melintas masih lumayan kosong, namun dia selalu memberikan kursinya untuk
penumpang wanita yang lain. Beberapa penumpang pria terkadang memberikan
kursinya untuk ibu-ibu yang sudah berumur, atau yang sedang hamil, atau yang
membawa anak, atau yang menenteng banyak belanjaan. Tapi si teman ini rasanya
tak pernah memilih-milih, seorang wanita kantoran dengan pakaian modis, anak
sekolah yang tertawa cekikikan, ibu-ibu yang pulang belanja dengan wajah judes,
atau teman-teman sebaya yang perempuan, selalu ia persilahkan duduk di kursinya
dan ia memilih untuk berdiri.
Tadi sore kami naik metromini yang sama
lagi, juga dengan beberapa rekan kerja saya yang lain. Semua kebagian tempat
duduk, hingga beberapa meter kemudian naiklah dua orang ibu setengah baya. Yang
seorang tampak berkeringat kelelahan sambil menjinjing bungkusan yang saya
pikir adalah barang belanjaannya, sedangkan ibu yang lainnya berusaha mencari
pegangan dan mengapit erat tas “Chanel”
yang tersampir di bahunya. Seperti yang sudah saya duga, si teman tadi sigap
berdiri, mempersilahkan ibu dengan plastik belanjaan itu duduk. Akhirnya saya
memilih untuk berdiri juga, memberikan kursi untuk ibu dengan tas Chanel, yang ia sambut dengan senyum.
Saat itu saya banyak berpikir,
memperhatikan gerombolan rekan kerja saya lainnya yang sibuk tertawa
terbahak-bahak entah memperbincangkan apa. Padahal dua ibu tadi naik dari pintu
depan yang persis dengan deretan bangku mereka, tapi sampai dua ibu itu duduk,
tak sedikit pun perhatian mereka beralih, walau sejenak untuk melihat.
Sementara si teman yang duduk hampir di kursi paling belakang cepat tanggap dan
beraksi jantan.
Hingga malam ini saya jadi kepikiran dengan
kejadian itu. Ah, di satu sisi mungkin ini efek samping gembar-gembor
emansipasi wanita yang didengungkan banyak orang dan akhirnya ditanggapi
berbeda oleh kaum lelaki. Tapi di sisi lain, saya jadi bertanya-tanya, ukuran
apa yang teman-teman saya tadi gunakan untuk mencap seseorang cukup maskulin atau
tidak. Karena dari kacamata saya, tingkah mereka tadi sore sungguh bukan
perilaku seorang gentlemen sejati.
Atau mungkin saya yang terlalu kolot dan menganggap dongeng-dongeng pangeran Disney itu benar adanya? Entahlah.
Senin, 30 Desember 2013
Tentang kelebat mendung yang bertamu tadi pagi, betapa aku curiga ada konspirasi di balik semua ini. Mungkin antara supir metro mini, pak satpam kantor, abang penjual jus, dan pak atasan ruang sebelah telah bersekongkol untuk membuat hari ini lebih semarak.
Sungguh hari yang menarik.
Dan saya hanya bisa tertawa kikuk (lagi).
Sungguh hari yang menarik.
Dan saya hanya bisa tertawa kikuk (lagi).
Jumat, 27 Desember 2013
selesai
Benar, semua sudah selesai sekarang.
Logikamu berjalan lurus, hanya hatimu yang masih berat menerima.
Mungkin kamu hanya rindu degup2 riang tak beraturan itu.
Mungkin kamu hanya tidak ingin melupakan sentakan elektrik yang selalu terjadi tiap kalian tak sengaja berpapasan.
Mungkin kamu hanya sudah terbiasa pada ada, sehingga ketiadaan berasa asing bagimu.
kurasa kamu pun masih ingat, kata-katanya di siang itu,
"Kamu tidak sedang jatuh cinta, sayang. Kamu hanya terobsesi dengan ide-ide tentang mencintai dan dicintai."
Logikamu berjalan lurus, hanya hatimu yang masih berat menerima.
Mungkin kamu hanya rindu degup2 riang tak beraturan itu.
Mungkin kamu hanya tidak ingin melupakan sentakan elektrik yang selalu terjadi tiap kalian tak sengaja berpapasan.
Mungkin kamu hanya sudah terbiasa pada ada, sehingga ketiadaan berasa asing bagimu.
kurasa kamu pun masih ingat, kata-katanya di siang itu,
"Kamu tidak sedang jatuh cinta, sayang. Kamu hanya terobsesi dengan ide-ide tentang mencintai dan dicintai."
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)

