Saung kecil di pingir sungai itu riuh. Ramai dipenuhi gelak dan teriakan tawa di sana-sini. Sang gadis sedikit tersenyum memandang beberapa rekan kerjanya, bahkan yang sudah berkepala empat, berenang riang bak anak kecil.
Ia kembali ke pekerjaannya, menyendokkan sayur capcay ke masing-masing piring yang telah mereka tata. Sang gadis masih mengulum senyum karena mendengar lelucon-lelucon aneh yang tertangkap indera pendengarnya, ketika wanita paruh baya di sebelahnya bertanya,
"Lho, dek, yang ini kok sama sekali gak ada wortelnya?"
Si gadis gelagapan dan hanya bisa menyengir simpul. Tapi tetap tidak menambahkan sepotong wortel pun pada piring yang ditunjuk. Bukan tanpa sengaja ia mengecualikan piring itu ketika membagikan sayur. Karena nanti, pasti hanya akan ada satu orang yang mengerti dan memilih piring itu tanpa harus ia khususkan dan berikan langsung pada orangnya
Hidup ini indah. Kau hanya harus menyadari beberapa hal. sesederhana buram jendela karena tempias hujan, sesederhana ribuan lagu yang tak pernah berhenti bersenandung. sesederhana derai sunyi yang menenangkan. hidup ini indah, karena bahagia itu sederhana.
Rabu, 11 Desember 2013
"Kau terlihat riang sekali hari ini, ada apa?" tanya
"Oh.. kau sedang berkemas. hendak kemana?" bingung
"Besok aku akan pulang :D" senyum
"Pulang? Tapi... kupikir ini rumah.." ragu
"Oh.. kau sedang berkemas. hendak kemana?" bingung
"Besok aku akan pulang :D" senyum
"Pulang? Tapi... kupikir ini rumah.." ragu
Jumat, 29 November 2013
~~~
Adalah rindu, yang membuat ia mencuri pandang malu-malu
Adalah jemu, yang membuat dia bergegas berlalu
Adalah pilu, yang membuat engkau berdiri terpaku
Adalah kelabu, yang menggantung pekat di udara
menghubungkan tiga pikiran yang masing-masing hanya tertuju pada satu
tiga orang yang bagai terperangkap dalam satu barisan lurus, hanya bisa memandang tegak ke depan, tanpa tahu apa yang terjadi di belakang
Adalah kalian, Rumit.
Adalah jemu, yang membuat dia bergegas berlalu
Adalah pilu, yang membuat engkau berdiri terpaku
Adalah kelabu, yang menggantung pekat di udara
menghubungkan tiga pikiran yang masing-masing hanya tertuju pada satu
tiga orang yang bagai terperangkap dalam satu barisan lurus, hanya bisa memandang tegak ke depan, tanpa tahu apa yang terjadi di belakang
Adalah kalian, Rumit.
Minggu, 24 November 2013
renungan dengan secangkir kopi
Pertama bertemu denganmu, aku terkesima
dengan sinar yang terpancar terang. Berkilauan layaknya butir-butir permata
setiap kau berkata-kata. Aku mengagumi sifatmu yang terbuka, mudah membaur dan
dengan cepat dekat dengan semua orang. Aku mengagumi kemampuanmu
bersosialisasi, membuat siapapun yang dekat denganmu merasa nyaman.
Aku iri padamu, karena kepribadianmu yang
sangat bertolak belakang denganku. Aku terpesona pada sikapmu, yang selalu
penuh kesibukan dan berusaha bermanfaat bagi orang lain, tapi tak lupa pada
kepuasan dan eksistensi diri.
Sungguh, aku bahkan telah mencatat dalam
hati bahwa aku harus berubah dan berusaha menjadi sepertimu.
Hingga malam itu. Saat aku terjaga di
tengah malam karena rasa haus, dan kulihat kau berdiri mematung di sisi
jendela. Aku sebenarnya gamang, ragu apakah itu kau atau hanya ilusi mata
akibat sifat paranoidku setelah mendengar cerita-cerita menyeramkan sore
harinya. Tapi itu memang kau, walau baru tiga minggu, kukenali poni urakan dan
kunciran kuning yang selalu kau kenakan. Hanya satu yang tak kukenali, tatapan
kosong yang seingatku tak pernah bertempat di matamu.
Lalu
kau tersentak, tersenyum lemah dan bergegas kembali ke ruang petak 2 x 3 meter
itu. Menutupnya segera, dan aku tak melewatkan bunyi kunci yang diputar. Aku
masih berdiri bingung dengan gelas di tangan. Setauku, kau tak pernah mengunci
pintu, bahkan saat tidur, karena kamarmu bagai rumah seribu pintu. Siapapun
datang ke sana, bercerita, tertawa, berkeluh, lalu keluar selalu dengan senyum
di bibir. Entah, mungkin aku yang tidak tahu.
Malam berikutnya. Entah apa yang membuatku
terbangun tiba-tiba, lalu otomatis melangkahkan kaki dan memutar grendel pintu.
Dan aku sedikit terperanjat, mendapati kau berdiri di tempat yang sama seperti
kemarin malam. Setidaknya aku jadi tahu kalau tadi malam itu sungguhan, bukan
imajinasi yang datang sendiri.
Kau berdiri di tempat yang sama, kali ini
mengenakan jaket merahmu. Memandang jauh ke arah kegelapan. Aku terpekur, tak
berani bergerak apalagi mengusikmu. Dan seingatku, hampir setengah jam kita
berdiam seperti ini. Hingga akhirnya aku menyerah karena rasa kantuk yang
menyerang.
Malam ketiga dan malam-malam berikutnya
berlangsung tak jauh beda. Kau terdiam di sisi jendela, dan aku diam-diam
memperhatikan. Begitu terus, setiap hari.
Dua hari yang lalu. Malam ketiga belas
sejak pertama kali kupergoki kau terdiam di sisi jendela. Entah kali ini dapat
keberanian dari mana, melangkah pelan aku mendekatimu. Lalu bertanya pelan,
“Kakak gak tidur?”
Kau terdiam sebentar. Biasanya di saat
seperti ini kau akan tersenyum, lalu banyak kata yang akan meluncur cepat,
penuh keriangan. Tapi tidak malam itu. Bahkan kau tidak tersenyum. Hanya
menggelang lemah, lalu menjawab pelan
“Aku lelah, dek.”
Kau menghela nafas. Dan aku menahan nafas,
menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Aku lelah menjadi orang lain setiap hari.
Hanya ini waktu yang aku punya, satu jam untuk menjadi benar-benar diriku.
Hanya satu dari dua puluh empat jam yang ada.”
Aku bingung, tapi tak berani untuk berkata
apa-apa. Diam, lalu pelan-pelan beringsut kembali ke kamar. Entah esoknya kau
masih di sisi jendela itu atau tidak, karena aku tak lagi terbangun tengah
malam dan diam-diam memperhatikanmu.
Tapi yang pasti, tak ada yang berubah. Kau
tetap seperti yang dulu. Seorang senior yang selalu riang, penuh wawasan yang
meluap dan semangat yang meletup-letup. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa
peristiwa tengah malam itu tak pernah terjadi, tapi setengah dari diriku
jelas-jelas menolak untuk percaya. Entahlah, sepertinya hanya aku yang berpikir
terlalu banyak.
Surga kecil 2x3 meter, 8 Oktober 2013
Senin, 07 Oktober 2013
SMS
Sebuah pesan singkat darinya masuk malam
ini. Berisi 164 karakter, diterjemahkan menjadi kode binari oleh kecanggihan
teknologi. Terkirim cepat, jauh lebih cepat dibanding cepatnya kau menjauh
pergi.
Sebuah pesan singkat darinya masuk malam
ini. Aku bertanya “kapan?”, padahal yang paling ingin kutanyakan adalah
“siapa?”
Sebuah pesan singkat darinya masuk malam
ini. Dan aku membalas dengan ucapan syukur dan keikutsertaan berbahagia,
padahal yang sesungguhnya aku hanya ingin diam dan tak mengetik apa pun.
Sebuah pesan singkat darinya masuk malam
ini. Dan aku mengetik emotikon yang melambangkan senyum lebar yang sumringah,
padahal yang sebenarnya ingin kuketik hanyalah dua huruf “T” kapital yang
dipisahkan oleh sebuah titik.
Sebuah pesan singkat darinya masuk malam
ini. Awalnya aku berasumsi aku akan menangis dan larut dalam kesedihan, namun
aku terkejut mendapati tak satu pun dari dua hal itu yang terjadi.
Sebuah pesan singkat masuk malam ini. Dan
entah mengapa malam ini aku tiba-tiba merasa bangga pada diriku
dongeng usang
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik
tentang seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada pangeran rupawan.
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik
tentang keterpesonaan dan cinta dalam diam
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik
tentang penerimaan dan kesetiaan
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik
tentang penentangan dan perpisahan yang tak terelakkan
Ini mungkin bukan dongeng, kisah klasik yang
menjadi kenyataan
Selasa, 01 Oktober 2013
dari sudut [4]
adik,
katamu suatu kali
dan
tiba-tiba aku ingin bermanja-manja
kakak,
katamu di kali yang lain
dan aku
mendadak ingin berbuat apa saja
teman,
katamu di hari lain
dan kita
menghabiskan hari bersama. Tertawa, bercanda layaknya sahabat seumur hidup
sayang,
katamu hari itu
dan
jantungnya tiba-tiba berhenti
kubikel pojok, 16.43
dari sudut [3]
aku
menyukai buku
karena
membacanya seolah membawaku ke dalam dunia lain yang sungguh berbeda dengan
yang kurasakan sekarang
aku
mencintai buku
karenalembar
demi lembarnya seolah membuatku semakin jatuh pada keterpesoanaan yang dalam
aku
mengagumi buku
karena
dalam diamnya tersimpan ribuan romansa yang membuat degup tak berhenti meloncat
kubikel pojok, 16.14
dari sudut [2]
selamat
sore, Rinai
kabarku
hari ini tak jauh beda seperti hari kemarin
masih
seperti ceritaku padamu tentang tombol-tombol keyboard komputer yang tak
berhenti di tekan
masih
tentang senyum kikuk dan tawa ganjil yang sama
masih
seperti yang kusampaikan tentang lembut kata dan sikap yang terlalu purna
selamat
sore, rinai
hari ini
genap delapan hari aku tak bertemu hujan
kami tak
bersua, tapi kata kawanku ia datang saat aku sedang lelap
aku jadi
curiga bahwa ia sengaja menghindariku
selamat
sore rinai,
sore ini
masih sama
menanti
jarum panjang membelai angka dua belas dan membentuk sudut seratus lima puluh
derajatkubikel pojok, 15.54
dari sudut
dua dari
delapan puluh,
tapi
rasanya sudah terlalu lelah bahkan sekedar untuk menyunggingkan senyum
dua dari
delapan puluh,
tapi kaki
rasanya sudah merasa panas walau baru menapak beberapa langkah
dua dari
delapan puluh,
tapi rasa
haus sudah merajai isi perjalanan ini
dua dari
delapan puluh,
atau
mungkin karena belum bertemu teman satu perjalanan?
dua dari
delapan puluh,
dimana
kamu?
kubikel pojok, 14.03
Langganan:
Postingan (Atom)
