Rabu, 11 Desember 2013

Lantang atau diam, (dia) itu cinta {3}

Saung kecil di pingir sungai itu riuh. Ramai dipenuhi gelak dan teriakan tawa di sana-sini. Sang gadis sedikit tersenyum memandang beberapa rekan kerjanya, bahkan yang sudah berkepala empat, berenang riang bak anak kecil.
Ia kembali ke pekerjaannya, menyendokkan sayur capcay ke masing-masing piring yang telah mereka tata. Sang gadis masih mengulum senyum karena mendengar lelucon-lelucon aneh yang tertangkap indera pendengarnya, ketika wanita paruh baya di sebelahnya bertanya,
"Lho, dek, yang ini kok sama sekali gak ada wortelnya?"
Si gadis gelagapan dan hanya bisa menyengir simpul. Tapi tetap tidak menambahkan sepotong wortel pun pada piring yang ditunjuk. Bukan tanpa sengaja ia mengecualikan piring itu ketika membagikan sayur. Karena nanti, pasti hanya akan ada satu orang yang mengerti dan memilih piring itu tanpa harus ia khususkan dan berikan langsung pada orangnya
"Kau terlihat riang sekali hari ini, ada apa?" tanya
"Oh.. kau sedang berkemas. hendak kemana?" bingung
"Besok aku akan pulang :D" senyum
"Pulang? Tapi... kupikir ini rumah.." ragu

Jumat, 29 November 2013

~~~

Adalah rindu, yang membuat ia mencuri pandang malu-malu
Adalah jemu, yang membuat dia bergegas berlalu
Adalah pilu, yang membuat engkau berdiri terpaku
Adalah kelabu, yang menggantung pekat di udara
menghubungkan tiga pikiran yang masing-masing hanya tertuju pada satu
tiga orang yang bagai terperangkap dalam satu barisan lurus, hanya bisa memandang tegak ke depan, tanpa tahu apa yang terjadi di belakang

Adalah kalian, Rumit.

Minggu, 24 November 2013

renungan dengan secangkir kopi


Pertama bertemu denganmu, aku terkesima dengan sinar yang terpancar terang. Berkilauan layaknya butir-butir permata setiap kau berkata-kata. Aku mengagumi sifatmu yang terbuka, mudah membaur dan dengan cepat dekat dengan semua orang. Aku mengagumi kemampuanmu bersosialisasi, membuat siapapun yang dekat denganmu merasa nyaman.
Aku iri padamu, karena kepribadianmu yang sangat bertolak belakang denganku. Aku terpesona pada sikapmu, yang selalu penuh kesibukan dan berusaha bermanfaat bagi orang lain, tapi tak lupa pada kepuasan dan eksistensi diri.
Sungguh, aku bahkan telah mencatat dalam hati bahwa aku harus berubah dan berusaha menjadi sepertimu.
Hingga malam itu. Saat aku terjaga di tengah malam karena rasa haus, dan kulihat kau berdiri mematung di sisi jendela. Aku sebenarnya gamang, ragu apakah itu kau atau hanya ilusi mata akibat sifat paranoidku setelah mendengar cerita-cerita menyeramkan sore harinya. Tapi itu memang kau, walau baru tiga minggu, kukenali poni urakan dan kunciran kuning yang selalu kau kenakan. Hanya satu yang tak kukenali, tatapan kosong yang seingatku tak pernah bertempat di matamu.
 Lalu kau tersentak, tersenyum lemah dan bergegas kembali ke ruang petak 2 x 3 meter itu. Menutupnya segera, dan aku tak melewatkan bunyi kunci yang diputar. Aku masih berdiri bingung dengan gelas di tangan. Setauku, kau tak pernah mengunci pintu, bahkan saat tidur, karena kamarmu bagai rumah seribu pintu. Siapapun datang ke sana, bercerita, tertawa, berkeluh, lalu keluar selalu dengan senyum di bibir. Entah, mungkin aku yang tidak tahu.
Malam berikutnya. Entah apa yang membuatku terbangun tiba-tiba, lalu otomatis melangkahkan kaki dan memutar grendel pintu. Dan aku sedikit terperanjat, mendapati kau berdiri di tempat yang sama seperti kemarin malam. Setidaknya aku jadi tahu kalau tadi malam itu sungguhan, bukan imajinasi yang datang sendiri.
Kau berdiri di tempat yang sama, kali ini mengenakan jaket merahmu. Memandang jauh ke arah kegelapan. Aku terpekur, tak berani bergerak apalagi mengusikmu. Dan seingatku, hampir setengah jam kita berdiam seperti ini. Hingga akhirnya aku menyerah karena rasa kantuk yang menyerang.
Malam ketiga dan malam-malam berikutnya berlangsung tak jauh beda. Kau terdiam di sisi jendela, dan aku diam-diam memperhatikan. Begitu terus, setiap hari.
Dua hari yang lalu. Malam ketiga belas sejak pertama kali kupergoki kau terdiam di sisi jendela. Entah kali ini dapat keberanian dari mana, melangkah pelan aku mendekatimu. Lalu bertanya pelan,
“Kakak gak tidur?”
Kau terdiam sebentar. Biasanya di saat seperti ini kau akan tersenyum, lalu banyak kata yang akan meluncur cepat, penuh keriangan. Tapi tidak malam itu. Bahkan kau tidak tersenyum. Hanya menggelang lemah, lalu menjawab pelan
“Aku lelah, dek.”
Kau menghela nafas. Dan aku menahan nafas, menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Aku lelah menjadi orang lain setiap hari. Hanya ini waktu yang aku punya, satu jam untuk menjadi benar-benar diriku. Hanya satu dari dua puluh empat jam yang ada.”
Aku bingung, tapi tak berani untuk berkata apa-apa. Diam, lalu pelan-pelan beringsut kembali ke kamar. Entah esoknya kau masih di sisi jendela itu atau tidak, karena aku tak lagi terbangun tengah malam dan diam-diam memperhatikanmu.

Tapi yang pasti, tak ada yang berubah. Kau tetap seperti yang dulu. Seorang senior yang selalu riang, penuh wawasan yang meluap dan semangat yang meletup-letup. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa peristiwa tengah malam itu tak pernah terjadi, tapi setengah dari diriku jelas-jelas menolak untuk percaya. Entahlah, sepertinya hanya aku yang berpikir terlalu banyak.
Surga kecil 2x3 meter, 8 Oktober 2013

Senin, 07 Oktober 2013

SMS

Sebuah pesan singkat darinya masuk malam ini. Berisi 164 karakter, diterjemahkan menjadi kode binari oleh kecanggihan teknologi. Terkirim cepat, jauh lebih cepat dibanding cepatnya kau menjauh pergi.

Sebuah pesan singkat darinya masuk malam ini. Aku bertanya “kapan?”, padahal yang paling ingin kutanyakan adalah “siapa?”

Sebuah pesan singkat darinya masuk malam ini. Dan aku membalas dengan ucapan syukur dan keikutsertaan berbahagia, padahal yang sesungguhnya aku hanya ingin diam dan tak mengetik apa pun.

Sebuah pesan singkat darinya masuk malam ini. Dan aku mengetik emotikon yang melambangkan senyum lebar yang sumringah, padahal yang sebenarnya ingin kuketik hanyalah dua huruf “T” kapital yang dipisahkan oleh sebuah titik.

Sebuah pesan singkat darinya masuk malam ini. Awalnya aku berasumsi aku akan menangis dan larut dalam kesedihan, namun aku terkejut mendapati tak satu pun dari dua hal itu yang terjadi.


Sebuah pesan singkat masuk malam ini. Dan entah mengapa malam ini aku tiba-tiba merasa bangga pada diriku

dongeng usang

Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik tentang seorang gadis biasa yang jatuh cinta pada pangeran rupawan.
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik tentang keterpesonaan dan cinta dalam diam
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik tentang penerimaan dan kesetiaan
Ini mungkin hanya dongeng, kisah klasik tentang penentangan dan perpisahan yang tak terelakkan
Ini mungkin bukan dongeng, kisah klasik yang menjadi kenyataan

Selasa, 01 Oktober 2013

dari sudut [4]

adik, katamu suatu kali
dan tiba-tiba aku ingin bermanja-manja
kakak, katamu di kali yang lain
dan aku mendadak ingin berbuat apa saja
teman, katamu di hari lain
dan kita menghabiskan hari bersama. Tertawa, bercanda layaknya sahabat seumur hidup
sayang, katamu hari itu
dan jantungnya tiba-tiba berhenti

kubikel pojok, 16.43

dari sudut [3]

aku menyukai buku
karena membacanya seolah membawaku ke dalam dunia lain yang sungguh berbeda dengan yang kurasakan sekarang

aku mencintai buku
karenalembar demi lembarnya seolah membuatku semakin jatuh pada keterpesoanaan yang dalam

aku mengagumi buku
karena dalam diamnya tersimpan ribuan romansa yang membuat degup tak berhenti meloncat

kamu, mungkin satu-satunya buku yang tak akan pernah selesai kubaca


kubikel pojok, 16.14



dari sudut [2]

selamat sore, Rinai
kabarku hari ini tak jauh beda seperti hari kemarin
masih seperti ceritaku padamu tentang tombol-tombol keyboard komputer yang tak berhenti di tekan
masih tentang senyum kikuk dan tawa ganjil yang sama
masih seperti yang kusampaikan tentang lembut kata dan sikap yang terlalu purna

selamat sore, rinai
hari ini genap delapan hari aku tak bertemu hujan
kami tak bersua, tapi kata kawanku ia datang saat aku sedang lelap
aku jadi curiga bahwa ia sengaja menghindariku

selamat sore rinai,
sore ini masih sama
menanti jarum panjang membelai angka dua belas dan membentuk sudut seratus lima puluh derajat

kubikel pojok, 15.54

dari sudut

dua dari delapan puluh,
tapi rasanya sudah terlalu lelah bahkan sekedar untuk menyunggingkan senyum
dua dari delapan puluh,
tapi kaki rasanya sudah merasa panas walau baru menapak beberapa langkah
dua dari delapan puluh,
tapi rasa haus sudah merajai isi perjalanan ini

dua dari delapan puluh,
atau mungkin karena belum bertemu teman satu perjalanan?
dua dari delapan puluh,
dimana kamu?


kubikel pojok, 14.03